Membersihkan Borobudur tanpa bahan kimia

Patung Budha dan bagian lain Candi Borobudur sejak 2010 dibersihkan dengan bahan alami.
Patung Budha dan bagian lain Candi Borobudur sejak 2010 dibersihkan dengan bahan alami.
© Pixabay

Rabu, 15 Februari 2017, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Mariette Jet Bussemaker, mengunjungi Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Meski dalam kondisi hujan, Bussemaker dan rombongannya bersemangat menaiki dan mengelilingi kompleks candi tersebut menggunakan payung.

"Kunjungan kami ini sebagai salah satu bentuk perhatian terhadap budaya dan warisan budaya dunia, Candi Borobudur. Kami mendapat gambaran bagaimana cara perawatannya agar tetap dalam kondisi baik," ujar Bussemaker seperti dikutip dari Kompas.com (15/2).

Sebelum menaiki Candi Borobudur, rombongan Bussemaker terlebih dahulu mengunjungi Laboratorium Balai Konservasi Borobudur yang berada satu kompleks dengan Candi Borobudur. Di sini, Kepala Balai Konservasi Borobudur, Marsis Sutopo, memamerkan dan menjelaskan proses pemeliharaan Candi Borobudur.

Kini kompleks candi warisan dunia dari abad ke-8 Masehi tersebut tidak lagi melibatkan bahan kimia dalam pembersihannya. Hal ini dilakukan untuk menghindari potensi kerusakan pada bebatuan yang menyusun candi.

"Sejak tahun 2000, kami diimbau UNESCO untuk tidak menggunakan bahan kimia. Oleh karena itu, kami mulai menggunakan konsep berbahan ramah lingkungan," kata Marsis.

Secara garis besar ada dua macam cara merawat candi, tergantung dari musimnya. Pada musim penghujan, bebatuan candi biasanya menjadi tempat tumbuhnya lumut.

Marsis mengatakan bahwa setidaknya seminggu sekali dilakukan pembersihan. Salah satu upayanya adalah dengan menggunakan air bertekanan, sikat berbulu ijuk, dan lidi agar tidak merusak permukaan batu andesit yang menjadi bahan pembuat candi.

Untuk musim kemarau, pemeliharaan lebih ke arah perbaikan seperti penambalan lubang-lubang agar tidak terjadi rembesan air, perbaikan lantai, dan sebagainya. Untuk perbaikan yang satu ini, penggunaan bahan kimia belum bisa dihindari.

Sebelumnya, seperti dilansir dari Mongabay (29/10/2015), pembersihan lumut kerak dilakukan menggunakan cairan pembersih yang dapat menghambat pertumbuhan lumut dari dua hingga tiga bulan setelahnya. Namun bahan kimia yang digunakan tersebut bisa mengikis dan mengubah warna batu.

Widyopurwoko, Staf Laboratorium Mikrobiologi, Balai Konservasi Borobudur, menjelaskan bahwa penggunaan bahan kimia guna menghambat pertumbuhan lumut selama ini memang efektif.

Bahan kimia yang digunakan biasanya adalah AC 322, yang antara lain mengandung amonium bikarbonat. Meski lumut melekat kuat pada batu dan sulit dibersihkan, dengan diolesi bahan kimia ini jaringan lumut akan menjadi lunak dan mudah terkelupas.

"Sayangnya ada bercak bekas pembersihan di batu candi yang mengotori warna candi. Dengan konservan dari bahan alami diharapkan bisa mengembalikan warna batu ke warna asli," kata Widyopurwoko.

Kandungan arkopal pada AC 322 juga disinyalir berbahaya bagi manusia yang menggunakannya, para pengunjung, dan lingkungan sekitar.

Beberapa bahan alami terus diuji coba oleh Balai Konservasi Borobudur. Di antaranya adalah minyak daun serai, cengkih, pala, minyak nilam, dan temu lawak. Tapi bahan-bahan tersebut belum dapat membersihkan jamur dan alga - simbiosis dari lumut kerak, hanya salah satu saja.

Ari Swastika, Peneliti Balai Konservasi Borobudur, menjelaskan ide dasar penggunaan bahan-bahan alami.

Menurut Ari, bahan alami tergolong lebih unggul karena, pertama, ramah lingkungan, lebih aman terhadap petugas kebersihan dan pengunjung. Kedua, lebih mudah didapat karena banyak tersedia di Indonesia. Ketersediaan bahan kimia sintetik selama ini tergantung aktivitas impor.

Menurut Berita Satu (16/3/2015), Kepala Seksi Layanan Konservasi Balai Konservasi Borobudur, Iskandar M. Siregar, Senin menyatakan bahwa langkah pembersihan atau pemeliharaan melalui cara dan bahan yang ramah lingkungan tanpa bahan kimia sudah berjalan sejak 2010 silam.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.