Menangkis lalat berbahaya dengan motif zebra

Pikat adalah predator, yang secara aktif menyerang manusia dan hewan.
Pikat adalah predator, yang secara aktif menyerang manusia dan hewan. | Achkin /Shutterstock

Lukisan tubuh motif garis-garis yang umumnya diadopsi masyarakat suku asli ternyata dapat memberikan perlindungan terhadap serangga berbahaya.

Motif garis-garis pada tubuh kerap dilihat sebagai seni dekorasi, atau identitas dan afiliasi kelompok seseorang. Tetapi mungkin penduduk suku tradisional tahu salah satu kegunaan lukisan tubuh itu adalah untuk mengusir serangga.

Pikat, adalah serangga lalat berukuran besar. Ia merupakan pengisap serta penjilat darah. Gigitan dari pikat dan hama lain sejenis bisa berbahaya bagi tubuh dan keberadaannya mengganggu.

Ini karena mereka mengisap darah inang, sehingga membuka kemungkinan menularkan penyakit seperti demam yang berpotensi mematikan.

Karena kebutuhan mereka untuk meletakkan larva mereka di kolam dan danau, pikat sering bersentuhan dengan suku asli yang mencari sumber air.

Sebelumnya sudah ada penelitian tentang fungsi dari motif garis pada tubuh hewan Zebra. Sekarang berdasarkan penelitian baru dari ilmuwan Eropa tampaknya sejalan, menunjukkan bahwa garis-garis berwarna kontras yang dicat pada tubuh manusia memiliki efek yang sama.

Banyak suku asli di Afrika, Australia, dan Asia Tenggara secara tradisional memulas wajah dan tubuh. Cat putih, abu-abu, kuning cerah, atau krem, biasanya merupakan campuran dari bahan-bahan alami seperti tanah liat, abu, kapur, bahkan kotoran sapi. Pemulasan ini biasanya diterapkan saat upacara khusus pada tubuh anggota suku laki-laki juga kaum perempuannya.

Menurut Susanne Åkesson, profesor di Departemen Biologi Lund University, Swedia, tradisi melukis tubuh mungkin telah berkembang secara bersamaan di berbagai benua. Tidak diketahui kapan tradisi dimulai.

“Pengecatan tubuh dimulai jauh sebelum manusia mulai mengenakan pakaian. Ada temuan arkeologis yang meliputi tanda-tanda di dinding gua tempat Neanderthal tinggal. Mereka menyarankan bahwa suku tradisional telah memulas tubuh dengan pigmen tanah seperti oker.”

Untuk menguji teori pemulasan tubuh dan efeknya ke serangan serangga, para ilmuwan merancang eksperimen unik yang melibatkan "model" maneken plastik seukuran manusia yang dilumuri lem perangkap tikus yang lengket.

Tubuh-tubuh model memiliki warna masing-masing cokelat bergaris, coklat, atau krem ​​guna meniru representasi kulit gelap dan cerah. Mereka dibiarkan berdiri atau berbaring di padang rumput penuh pikat di dekat Szokolya, Hongaria, selama delapan minggu sepanjang musim panas.

Daya tarik pikat diukur dengan menghitung jumlah serangga yang terperangkap di permukaan lem. Setelah masa studi, tim menghitung berapa banyak pikat dan serangga menggigit lainnya yang dikumpulkan setiap maneken.

Secara keseluruhan, tim melaporkan, model yang berkulit gelap memiliki 10 kali lebih banyak pikat yang menempel padanya daripada yang bergaris, dan dua kali lebih banyak dari maneken berkulit cerah.

Ini kemungkinan terjadi karena cara pandang pikat (dan serangga lain) dalam memahami pola. Garis-garis itu dapat mengganggu polarisasi cahaya yang dipantulkan dari tubuh, membuat serangga percaya mereka sama sekali tidak melihat seseorang.

Tim yang dipimpin Gabor Horvath, dari Eotvos University, Hongaria, menyimpulkan: “Hasil percobaan lapangan kami mendukung teori bahwa penggunaan lukisan tubuh bergaris mungkin terkait dengan perlindungan terhadap hama parasit yang berbahaya.”

“Kami menemukan lukisan tubuh belang mengurangi daya tarik visual dari tubuh ke pikat. Namun, kami ingin menekankan bahwa alasan utama penggunaan lukisan tubuh adalah sebagai fungsi sosial dan budaya."

Model dalam posisi berbaring memantulkan cahaya terpolarisasi, yang diketahui menarik pikat jantan dan betina yang mencari air, kata para ilmuwan. Maneken-maneken yang berdiri meniru benda-benda gelap yang diketahui menarik pikat betina yang sedang mencari makan, yaitu darah.

Ketika model maneken lengket itu berdiri, mereka hanya menjebak betina. Jantan dan betina baru terjebak ketika model berbaring telungkup atau telentang.

Peneliti kemudian menerbitkan studinya dalam jurnal Royal Society Open Science.

Penelitian sebelumnya yang melibatkan zebra telah menunjukkan pikat (keluarga Tabanidae), cenderung menghindari hewan bermotif garis. Hal yang sama juga dikatakan berlaku pada bulu warna pucat, pada kuda misalnya, yang dapat memberikan perlindungan, berbeda efeknya dengan bulu gelap. Penemuan ini memenangkan Hadiah IgNobel dalam bidang Fisika pada tahun 2016.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR