KECERDASAN BUATAN

Mendeteksi jantung dan kanker paru dengan kecerdasan buatan

Ilustrasi serangan jantung
Ilustrasi serangan jantung | Kateryna Kon /Shutterstock

Selama ini, hanya dokter yang berwenang mendiagnosis penyakit. Namun, bagaimana jika teknologi kecerdasan buatan (Artificial Inteligence/AI) juga bisa melakukannya?

Teknologi AI yang makin berkembang kini mulai merambah industri kesehatan. Dilansir Futurism, Kamis (4/1/2018), dua sistem diagnostik AI yang baru dikembangkan baru-baru ini dipercaya dapat mendiagnosis penyakit jantung dan kanker paru-paru.

Kehadiran AI adalah untuk mengantisipasi kepandaian tinggi para ahli jantung, tapi tidak sempurna. Untuk menentukan apakah ada kesalahan dengan hati pasien, ahli jantung akan memindai untuk menilai ritme detak jantung.

Menurut laporan BBC (2/1), 80 persen hasil diagnosis para ahli terhadap berbagai masalah jantung biasanya sudah tepat, 20 persen sisanya belum tentu benar. Itu sebabnya ilmuwan dari Rumah Sakit John Radcliffe, Oxford, Inggris, mengembangkan inovasi AI.

Mesin AI juga bisa memangkas pengeluaran karena untuk layanan patologi (deteksi penyakit dalam), The National Health Service (NHS) atau Departemen Kesehatan Inggris harus mengeluarkan dana sebesar 2,2 miliar pounds (Rp39,6 triliun) per tahun. Mesin AI bernama Ultromics bisa memangkas pengeluaran hingga 50 persen (hampir Rp20 triliun).

The National Health Service (NHS) atau Layanan Kesehatan Nasional Inggris akan menghadirkan Ultromics yang bisa memeriksa pasien secara gratis itu pada musim panas atau pertengahan tahun ini.

"AI dapat menyelamatkan keuangan NHS," kata NHS, Sir John Bell. Penghematan dana bisa dialihkan untuk memperkerjakan lebih banyak dokter, perawat, staf rumah sakit, dan membeli peralatan baru.

Lalu bagaimana cara kerja mesin AI? Ultromics yang dikembangkan oleh Profesor Paul Leeson ini akan diberikan hasil pemindaian jantung 1.000 pasien yang dirawat oleh NHS selama tujuh tahun terakhir.

Sistem AI akan mencari tanda-tanda kanker paru-paru. Alat tersebut akan mencari gumpalan besar sel yang disebut dengan nodul.

Dokter tidak dapat mengatakan apakah gumpalan ini berbahaya atau tidak atau apakah bisa berkembang biak menjadi kanker. Oleh karena itu, pasien harus menjalankan beberapa pemindaian untuk melihat bagaimana nodul terbentuk.

Ultromics belum dapat mendiagnosis kondisi tersebut, tapi teknologi ini setidaknya dapat mendeteksi penyakit sejak dini.

Sistem ini telah diuji coba dalam beberapa tes klinis di enam unit kardiologi dan Leeson mengatakan bahwa sistem ini telah mengungguli banyak ahli kardiologi serta mempersingkat waktu pasien menunggu hasil pemindaian. Hasil spesifik percobaan Ultromics diharapkan dapat dipublikasikan di jurnal akhir tahun ini.

Sementara itu, perusahaan rintisan Optellum juga mengembangkan sistem AI yang dapat mendiagnosis kanker paru-paru dengan menganalisis rumpun sel selama pemindaian. Sistem tersebut juga telah diuji coba pada berbagai penelitian.

Kepala petugas sains dan teknologi, Dr Timor Kadir, mengatakan bahwa hasil tes menunjukkan sistem ini dapat mendiagnosis 4.000 pasien kanker paru-paru per tahun -- lebih cepat dibandingkan diagnosis seorang dokter.

Di sisi lain, kehadiran AI di dunia medis memicu kekhawatiran bahwa pekerjaan dokter bakal tergusur. Namun tugas dokter cukup beragam sehingga kehadiran AI bisa menjadi sarana pendukung di industri kesehatan.

Setidaknya, dalam waktu dekat, AI ini akan berfungsi sebagai alat yang dapat membantu pekerjaan manusia sehingga terasa lebih efisien dan efektif. Dr Kadir memperkirakan bahwa sistem diagnosis kanker paru-paru bisa menghemat 10 miliar pounds jika diadopsi di Amerika Serikat dan Uni Eropa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR