Mendinginkan Matahari tidak seburuk yang dikira

Ilustrasi kala Matahari terbenam.
Ilustrasi kala Matahari terbenam. | Pixabay

Meski dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif yang lebih besar, studi terbaru yang dipimpin oleh Harvard University, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa perekayasaan kebumian (geoengineering) Matahari tidak memberikan dampak seburuk yang dikira.

Manusia telah mengambil untuk mengekstraksi hidrokarbon kaya energi dari tanah guna memberi tenaga pada dunia. Hal ini berarti ada jauh lebih banyak karbon dioksida di atmosfer daripada yang dapat diserap kehidupan tanaman dan kemudian memanaskan atmosfer sehingga meningkatkan suhu global--yang disebut efek gas rumah kaca.

Pengurangan emisi gas rumah kaca ini harus tetap menjadi prioritas tertinggi, Intergovernmental Panel on Climate Change PBB (IPCC) mengatakan, langkah tersebut tidak cukup.

Sejumlah orang sekarang menyarankan bahwa kita juga perlu menghilangkan karbon dioksida dalam jumlah besar dari udara. Lalu, yang lain berpendapat bahwa kita mungkin juga perlu memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa untuk memberi dunia lebih banyak waktu mengurangi dan menghilangkan emisi.

Geoengineering kemudian dilirik menjadi solusinya. Ketika efek dari perubahan iklim memburuk, semakin banyak pembuat kebijakan, ilmuwan, dan pengusaha mempertimbangkan opsi-opsi semacam ini dengan lebih serius.

Geoengineering Matahari juga dikenal sebagai manajemen radiasi matahari, mengacu pada ide untuk secara sengaja memanipulasi lingkungan atau sistem iklim Bumi. Tujuannya, tak lain untuk menangkal dampak pemanasan global yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca.

Konsep meniru proses alami dan efek dari letusan gunung berapi. Bekerja dengan menyemprotkan asam sulfat ke stratosfer yang lebih rendah untuk memblokir atau memantulkan panas matahari kembali ke angkasa. Dengan demikian, mengurangi pemanasan global.

Sulfur akan dikombinasikan dengan uap air untuk membentuk aerosol sulfat, yang kemudian akan memblokir sekitar satu persen dari sinar matahari di permukaan bumi. Para pakar dan ilmuwan iklim meyakini metode seperti itu merupakan cara yang murah dan mudah untuk menghentikan naiknya suhu atmosfer.

Namun, mereka juga khawatir bahwa tingkat penerapan geoengineering Matahari yang lebih tinggi juga dapat menyebabkan konsekuensi iklim yang tidak diinginkan. Contohnya seperti memburuknya perubahan iklim di beberapa bagian dunia, termasuk perubahan dalam pola curah hujan, curah hujan ekstrem, dan ketersediaan air.

Tiongkok dan Amerika Serikat sejalan dalam usulan geoengineering Matahari.

Kedua negara mengatakan rencana itu akan memulihkan kestabilan dan menurunkan demam yang dialami planet ini. Tetapi para kritikus menyatakan bahwa aerosol akan mengubah iklim planet lebih jauh, melemahkan musim hujan dan memicu kekeringan di Asia dan Afrika.

Diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change, studi baru menunjukkan analisis mendinginkan Bumi melalui geoengineering Matahari tidak akan menghasilkan siklon tropis yang lebih intens.

Menggunakan model komputer resolusi tinggi yang canggih bernama HiFLOR, para peneliti dari Harvard John A. Paulson School of Engineering and Applied Sciences menemukan bahwa memotong kenaikan suhu global menjadi setengah, alih-alih semuanya, dapat dengan aman memperlambat pemanasan global tanpa menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.

"Analogi ini tidak sempurna, tetapi geoengineering Matahari seperti obat yang mengobati tekanan darah tinggi," kata penulis utama Peter Irvine dari Harvard University. "Kelebihan dosis akan berbahaya, tetapi dosis yang dipilih dengan baik bisa mengurangi risiko."

Menurut para peneliti, cara untuk melakukan ini adalah dengan menerapkan dosis kecil partikel sulfat ke atmosfer bumi. Akibatnya, hanya 0,4 persen dari daratan di Bumi yang akan melihat perubahan iklim semakin memburuk, model tersebut menyarankan.

Terlebih lagi, tidak hanya memperlambat perubahan iklim tetapi juga berhasil menangkal lebih dari 85 persen dari peningkatan keparahan badai.

David Keith, rekan penulis studi dan seorang profesor di Harvard, mengatakan bahwa "Orang tidak boleh menolak gagasan menggunakan geoengineering untuk menyelamatkan dunia."

Dia menyatakan bahwa proyek tersebut dapat menimbulkan risiko, tetapi dia percaya bahwa penelitian lanjutan harus dilakukan sebelum dikesampingkan.

"Saya tidak mengatakan bahwa itu akan efektif sekarang atau kita harus melakukannya sekarang," katanya.

"Tapi kita harus melihatnya dengan lebih pasti untuk masa depan."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR