KECERDASAN BUATAN

Menebak sisa usia manusia dengan kecerdasan buatan

Ilustrasi kecerdasan buatan
Ilustrasi kecerdasan buatan | Pixabay

Memprediksi akhir usia seseorang bukanlah sebuah perkara mudah, para ilmuwan dari University of Adelaide, Australia, berhasil menciptakan kecerdasan buatan (AI) yang bisa memprediksikan berapa lama sisa hidup seorang manusia dengan tingkat keakuratan yang cukup baik.

Hasil penelitian berjudul: "Precision Radiology: Predicting longevity using feature engineering and deep learning methods in a radiomics framework" itu diterbitkan jurnal Nature pada 10 Mei 2017.

"Memprediksi masa depan seorang pasien sangat berguna karena membuka peluang bagi dokter untuk mempersiapkan pengobatan yang tepat bagi individu tersebut," kata Luke Oakden-Rayner, mahasiswa PhD University of Adelaide yang memimpin penelitian tersebut, seperti dikutip situs DNA (2/6/2017).

"Penilaian akurat dari usia biologis dan prediksi masa hidup seorang pasien sejauh ini terbatasi oleh ketidakmampuan para dokter untuk melihat ke dalam tubuh manusia dan mengukur kesehatan setiap organ," sambung Oakden-Rayner.

Untuk melihat ke dalam tubuh manusia dan memprediksi akhir usia seorang manusia itu, tim peneliti menggunakan "deep learning", sebuah teknik di mana sistem komputer bisa mempelajari bagaimana cara memahami dan menganalisis rangkaian imaji.

Kepada AI tersebut para peneliti memberikan data medis dan CT Scan awal dari dada 48 pasien berusia 60 tahun ke atas. 24 pasien itu wafat 5 tahun setelah CT Scan dilakukan, sementara 24 sisanya masih bertahan hidup.

Hasilnya, komputer tersebut bisa menebak siapa saja wafat 5 tahun setelah CT Scan dilakukan dengan akurasi mencapai 69 persen, sebanding dengan prediksi manual yang dilakukan oleh dokter yang merawat pasien tersebut.

"Walau untuk penelitian ini hanya sedikit sampel pasien yang digunakan, riset kami menunjukkan bahwa komputer telah belajar mengenali gambar kompleks dari penyakit, sesuatu yang mesti dipelajari secara intensif oleh manusia sebelum menjadi seorang ahli," jelas Oakden-Rayner.

Hingga saat ini para peneliti tersebut belum bisa mengidentifikasi apa yang dilihat sistem komputer dari imaji yang diberikan untuk membuat prediksi tersebut. Namun demikian, prediksi yang paling akurat dan meyakinkan diberikan komputer itu untuk pasien yang menderita penyakit kronis seperti emfisema dan gagal jantung kongestif.

"Daripada fokus mendiagnosis penyakit, sistem otomatis ini memprediksi hasil medis dengan cara yang tak pernah dilatihkan pada para dokter, yaitu menggabungkan data bervolume besar dan mendeteksi pola-pola yang subtil," ujar Oakden-Rayner dalam situs University of Adelaide.

Para peneliti yakin hasil kerja mereka ini bisa membuka jalan bagi pengaplikasian teknologi artifisial dalam analisis imaji medik, sekaligus menawarkan harapan baru pada kemungkinan deteksi lebih awal untuk penyakit-penyakit berat.

Selain itu, memeriksa kesehatan per individu sangat menyita waktu apalagi jika harus melihat semuanya dalam waktu bersamaan. Jika AI ini dapat menentukan kesehatan (atau kekurangannya) dari sistem organ dengan cepat, para dokter akan terbantu guna membuat rencana perawatan secara terperinci dan lebih dini.

Para peneliti itu akan mencoba untuk menerapkan teknik yang sama untuk memprediksi kondisi kesehatan penting lainnya, seperti serangan jantung.

Tahap berikut dari riset ini akan melibatkan analisis terhadap puluhan ribu gambar pasien.

Saat ini para ilmuwan memang tengah giat meneliti kemungkinan penggunaan AI dalam bidang kesehatan.

Pada awal tahun ini, seperti dijelaskan di Digital Trends, peneliti London Institute of Medical Services tengah mengembangkan AI peneliti kesehatan jantung pasien.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR