Menelusuri leluhur orang Indonesia lewat Proyek DNA

Suasana pembukaan Pameran ASOI: Asal Usul Orang Indonesia yang diadakan di Museum Nasional, Jakarta, pada Selasa (15/10/2019).
Suasana pembukaan Pameran ASOI: Asal Usul Orang Indonesia yang diadakan di Museum Nasional, Jakarta, pada Selasa (15/10/2019). | Anasvita Athaya /Beritagar.id

Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa dan 500 populasi etnik. Dalam tahun-tahun politik yang panas, belakangan ini, tingginya keragaman sempat menimbulkan politik identitas yang semakin menguat.

Fenomena isu agama dan ras kerap dijadikan komoditas politik. Tak heran kalau isu rasial, seperti pribumi vs non pribumi sering terlontar di ruang publik. Sebagian masyarakat juga cenderung memilih pemimpin berdasarkan kesamaan identitas, yakni kesamaan suku atau agama.

Muncul berbagai pertanyaan mengenai asal-usul manusia Indonesia. Siapakah orang Indonesia asli? Dari mana mereka datang ke kepulauan Indonesia?

Salah satu cara menjawab pertanyaan tersebut adalah melalui tes DNA. Metodologi ini dianggap mampu memberikan jawaban dari dua pertanyaan besar di atas serta memberikan data ilmiah soal komposisi ras, penelusuran nenek moyang, bahkan hingga lini masa kehadiran ras.

Majalah sejarah berbasis daring Historia.id mencoba menginisiasi kegiatan terkait asal-usul orang Indonesia melalui penelitian bertajuk Proyek DNA.

Didukung penuh oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman, Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan Museum Nasional, Historia.id telah membuka kesempatan bagi khalayak umum untuk mendaftar tes DNA gratis pada Juli hingga akhir September 2019.

“Adanya pengetahuan leluhur asli melalui hasil tes DNA merupakan pengetahuan penting yang memberikan pencerahan bahwa masalah pribumi dan non pribumi sudah tidak relevan lagi,” ujar Bonnie Triyana, Pemimpin Redaksi Historia.id dalam rilis pers yang diterima Beritagar.id pada Rabu (16/10/2019).

"Dengan pengetahuan mendalam mengenai DNA, harapannya kita lebih bertoleransi, mampu memahami perbedaan satu sama lain, dan menjaga keutuhan bangsa dan budaya,” lanjut Bonnie.

Seperti apa alur penelitian tes DNA yang dilakukan Historia.id? Pertama, dilakukan studi terhadap 70 populasi etnik dari 12 pulau dengan menggunakan penanda DNA.

Struktur genetika populasi di kepulauan Nusantara telah memberikan informasi terhadap asal-usul manusia Indonesia. Penelitian genetik ini memakai DNA mitokondria yang diturunkan melalui jalur maternal atau ibu, lalu kromosom Y yang hanya diturunkan dari sisi paternal atau ayah, serta DNA autosom yang diturunkan dari kedua orang tua.

Penanda genetik tersebut memperlihatkan bukti adanya pembauran beberapa leluhur genetik yang datang dari periode maupun dari jalur yang beragam.

Hasil Proyek DNA lantas ditampilkan di Pameran ASOI: Asal Usul Orang Indonesia yang diadakan di Museum Nasional, Jakarta, mulai tanggal 15 Oktober hingga 10 November 2019.

Pameran ini akan menampilkan hasil tes DNA tokoh publik dan sukarelawan, seperti Najwa Shihab, Hasto Kristiyanto, Grace Natalie, Budiman Sudjatmiko, Mira Lesmana, Ayu Utami, Riri Riza, dan Ariel Noah, serta hasil tes dari peserta umum terpilih yang mendaftar di situs mikro Historia.id, yaitu Sultan Syahrir, Esthi Swastika, Irfan Nugraha, Farida Yuniar, Aryatama Nurhasyim, Solikhin, dan Zaenin Natib.

Pembukaan Pameran diadakan pada Selasa (15/10/2019) di Museum Nasional dan dihadiri oleh Dirjen Kebudayaan Dr. Hilmar Farid, Direktur Sejarah Dra. Triana Wulandari, M.Si, Deputi Penelitian Fundamental Eijkman Institute Prof. Dr. Herawati Aru Sudoyo, Hamid Basyaib, serta beberapa tokoh politik dan sukarelawan.

Dalam pameran ASOI, akan ditampilkan peta penyebaran manusia di dunia dan Indonesia serta sejarah manusia dari sudut pandang arkeologis dan antropologis.

Pameran ini menjelaskan pembabakan masa menurut hasil kebudayaan, atau dari sisi antropologis dimulai dari pembabakan tertua yaitu Paleolitik, Mesolitik, Neolitik, dan Paleometalik.

Di pintu masuk pameran, ada penjelasan mengenai evolusi manusia. Dari Homo erectus yang mengalami perubahan tengkorak kepala, kemudian memasuki masa berburu. Pengunjung dapat melihat alat-alat yang digunakan manusia purba untuk berburu dan meramu.

Setelah itu, pameran menyajikan peta penyebaran migrasi manusia modern (Homo sapiens) yang terletak di ujung pameran. Peta ini sekaligus menjelaskan migrasi awal manusia ke Nusantara yang berasal dari daratan Afrika.

Catatan redaksi: Beritagar.id adalah mitra media Proyek DNA Historia.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR