Mengenal bagian otak yang bertugas saat kita bermimpi

Ilustrasi orang yang tengah dalam kondisi terlelap.
Ilustrasi orang yang tengah dalam kondisi terlelap.
© Pixabay

Mimpi sering dihubung-hubungkan dengan dunia mistis. Keduanya kerap dikaitkan karena selama ini tema/alur cerita mimpi dan hubungannya dengan kondisi fisik saat kita tertidur sulit dijelaskan secara sains.

Namun, hasil temuan dari para peneliti baru-baru ini setidaknya dapat membuka jalan untuk menemukan seluk beluk mimpi secara ilmiah.

Para ilmuwan dari University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, berhasil mengidentifikasi "zona panas" dari aktivitas listrik di otak yang mengindikasikan kondisi bermimpi.

Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa banyak dari aktivitas bermimpi terjadi di luar tidur REM (rapid eye movement), bahkan jika kita tidak ingat akan mimpi tersebut ketika terbangun.

"Ketika subjek memiliki pengalaman selama tidur (mimpi), ada sebuah wilayah di bagian belakang otak yang cenderung sangat aktif, seakan daerah ini sedikit lebih terjaga," kata Francesca Siclari, seorang peneliti Center for Research and Investigation in Sleep di Lausanne University Hospital, Swiss.

Menurut hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience ini, tim menemukan bahwa mimpi terjadi baik selama fase tidur REM dan non-REM. Tapi ada juga periode tidur nyenyak yang tidak disertai mimpi.

Dilansir dari The Guardian (10/4), tim mempelajari mimpi dengan memantau aktivitas listrik di total 46 relawan. Mereka kemudian tidur di laboratorium Wisconsin Institute of Sleep and Consciousness (WISC) dengan memakai topi terkoneksi 256 elektroda guna mengukur aktivitas otak dan wajah.

Dengan teknik ini para ilmuwan bisa memonitor jumlah dan ukuran sinyal gelombang otak, dalam berbagai kecepatan.

Peserta kemudian di bangunkan secara periodik, dan diminta untuk melaporkan apakah mereka sudah bermimpi, dan apakah dalam mimpi mereka melihat wajah, melihat pergerakan tubuh, atau berpikir. Hal ini dilakukan guna mengurangi masalah terlupanya mimpi selama tidur semalam penuh.

Dari hasil rekaman elektroensefalografi (EEG), para ilmuwan melihat bahwa ketika bermimpi ada perubahan aktivitas pada sebuah bagian otak yang dinamai "posterior cortical hot zone". Bagian ini terletak di belakang otak dan yang bertanggung jawab untuk mengolah informasi visual dan terlibat dalam proses pengintegrasian indera manusia.

"Itu adalah tanda otak bermimpi," ujar Siclari.

Dengan memonitor "zona panas" ini kemudian membangunkan peserta, tim mampu secara akurat memprediksi apakah para relawan bermimpi selama 87 persen dari waktu yang ditentukan.

Mereka melihat bahwa saat bermimpi, baik dalam fase REM atau tidak, akan ada penurunan aktivitas berfrekuensi rendah di posterior cortical hot zone. Tetapi saat peneliti memantau mimpi yang berlangsung di luar fase REM, mereka melihat ada peningkatan aktivitas berfrekuensi tinggi di posterior cortical hot zone.

Lebih jauh, tim peneliti berhasil mengidentifikasi bagian otak yang membantu manusia mengingat mimpi. Untuk jenis mimpi ini akan ada peningkatan aktivitas berfrekuensi tinggi di bagian depan otak.

Para peneliti juga menemukan bahwa pola aktivitas otak seseorang kadang-kadang bisa mengungkapkan sedikit tentang apa yang sedang mereka mimpikan.

Sebagai contoh, jika ada wajah-wajah dalam mimpi, ada peningkatan gelombang otak frekuensi tinggi selama tidur REM di daerah otak biasanya digunakan untuk memproses informasi di wajah. Begitupun yang terjadi ketika mimpi yang melibatkan gerakan, ada kegiatan di daerah otak yang terlibat dalam persepsi gerakan.

Para penulis mengatakan studi ini bisa membantu menjelaskan kesadaran alami, mengungkapkan apa yang terjadi di otak selama tidur ketika kita beralih dari pengalaman saat tidak sadar menjadi sadar.

Temuan ini juga dianggap sangat berharga, karena ada segudang faktor-faktor menyulitkan terlibat dalam membandingkan kondisi saat terjaga versus dibius.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.