Mengenal sel punca, pengobatan mutakhir masa depan

Dokter sedang mengambil stem cell dari tulang belakang pendonor di sebuah rumah sakit di Budapest, Hungaria
Dokter sedang mengambil stem cell dari tulang belakang pendonor di sebuah rumah sakit di Budapest, Hungaria | SZILARD KOSZTICSAK /EPA

Dunia kedokteran di Indonesia belakangan ini ramai dengan pemberitaan mengenai stem cell atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan nama sel punca. Terutama setelah Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyatakan bahwa sel punca akan menjadi pengobatan mutakhir di masa depan.

"Ke depan inilah mungkin masa depan Indonesia di bidang kesehatan. Sebab saat ini bahan baku obat 92% impor dari India dan Tiongkok. Ini menjadi tantangan bagi kita. Stem cell tentu akan menjadi masa depan Indonesia," ujar Nasir kepada Sindonews saat kunjungan ke Stem Cell and Cancer Institute (SCI) milik PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Rabu (6/1/2016).

Sel punca diketahui berguna untuk terapi osteoartritis (kerusakan tulang rawan pada sendi), diabetes melitus, dan penyakit jantung.

Saat ini SCI menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga dalam mengembangkan sel punca. Menurut peneliti utama SCI Indra Bachtiar kepada Harian Kompas (h/t National Geographic Indonesia), sudah mencapai tahap siap diuji klinis.

Uji coba fase pertama pada manusia akan mulai dilakukan pada September 2016.

Oleh karena itu, menarik untuk mengetahui apa sebenarnya sel punca itu.

Perkembangan terapi sel punca

Direktur Stem Cell and Cancer Institute (SCI), Dr Sandy Qlintang, dinukil BeritaSatu, menjelaskan sel punca terdapat di dalam tubuh seseorang sejak awal pembentukan embrio, lahir hingga meninggal.

Sel punca ini adalah sel induk yang bisa berkembang menjadi sel apapun atau tetap bertahan sebagai sel punca. Oleh karena itu, seperti dijelaskan dalam laman National Institute of Health, sel punca ini bisa berfungsi sebagai sistem perbaikan tubuh internal.

Namun, lanjut dia, kerja stem cell sesuai dengan usia, jadi semakin tua seseorang sel punca akan semakin tidak efektif. Oleh karena itulah mengapa luka pada anak kecil lebih cepat sembuh dibandingkan luka pada orang dewasa. Fungsi sel punca ini semakin tidak efektif saat manusia mencapai usia 40 tahun.

Kemudian para ilmuwan mulai mencari cara untuk mengoptimalkan kembali kerja sel punca pada manusia dewasa.

Menurut Explorestemcells, penelitian berawal pada 1980-an saat para ilmuan meneliti bagaimana membuat sel punca embrio dari tikus dan kemudian dikembangkan pada laboratorium. Pada tahun 1988 para peneliti pertama kali membuat sel punca embrio dari hamster. Kemudian pada tahun 1995 sel punca embrio pertama yang dikembangkan dari primata, selanjutnya pada tahun 1997 para ilmuan berhasil mengkloning domba dari dengan metode sel punca.

Pada Tahun 1998 Thompson dari Universitas Wisconsin berhasil mengisolasi sel dari sel embrio dini dan mengembangkan sel punca embrio pertama dari manusia.

Namun terapi sel punca baru dikembangkan di Indonesia pada tahun 2007. Meski saat ini masih dalam tahap penelitian, namun hasilnya tergolong memuaskan. Terapi ini pun disebut-sebut akan menggantikan pengobatan konvensional.

Diketahui, sel punca merupakan sel pusat yang bisa membelah menjadi sel apa pun. Ketika sel punca membelah banyak, sel tersebut mampu berkembang pada sel darah, sel rambut, dan sel lainnya. Terapi sel punca sekarang ini banyak digunakan untuk mengobati penyakit keturunan diantaranya diabetes dan jantung.

Namun, terapi sel punca tidak disarankan untuk pasien kanker. Sebab hal itu bisa mendukung perkembangan sel abnormal.

Stem Cell Mampu Sembuhkan Sakit Jantung /Yohanes Wasono

Jenis-jenis sel punca

Ada dua jenis sel punca seperti yang pernah diberitakan Tempo (1/11/2013), yaitu sel punca embrionik (embryonic stem cell) yang bersumber dari embrio makhluk hidup, atau sel punca dewasa (adult stem cell) yang bersumber dari organ atau jaringan seperti sumsum tulang, darah tepi, darah tali pusat, jaringan tali pusat, plasenta, jaringan lemak, otot dan kulit.

Perbedaan dari kedua sel punca ini menurut salah seorang peneliti dari UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca RSCM-FKUI, Tri Kurniawati, selain dari sumbernya adalah dalam hal kemampuannya berdiferensiasi.

Sel punca embrionik mampu berdiferensiasi membentuk semua jenis sel (pluripoten), sehingga secara logis hampir semua penyakit degeneratif dapat diperbaiki oleh sel punca embrionik. Sebaliknya, sel punca dewasa memiliki kemampuan diferensiasi lebih rendah dari sel punca embrionik, yaitu hanya mampu mengubah diri menjadi beberapa jenis sel yang umumnya segolongan (multipoten), sehingga penggunaannya menjadi lebih terbatas.

Namun sel punca dewasalah yang berfungsi melakukan regenerasi untuk mengatasi berbagai kerusakan yang selalu terjadi dalam kehidupan. Tubuh kita mengalami pengrusakan oleh berbagai faktor dan semua kerusakan yang mengakibatkan nekrosis (kematian jaringan dan sel) akan dibersihkan oleh sel makrofag yang beredar dalam darah. Sel punca dewasa sebaliknya berfungsi untuk memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan.

Biaya untuk melakukan terapi sel punca

Meskipun memiliki dampak positif yang menjanjikan, namun untuk melakukan terapi ini dibutuhkan biaya yang cukup besar. Menurut Detik (10/4/2013), untuk membeli 1 sel dibutuhkan biaya sebesar Rp1, murah? tunggu dulu, karena dalam tubuh manusia terdapat 500-1.000 sel per kilogram berat badan.

"Untuk seluruh tubuh bisa mencapai Rp 60 juta, belum termasuk biaya dokter, dan lain-lain," ujar Indra Bachtiar, PhD, peneliti sel punca di Bifarma Adiluhung.

Terapi sel punca membutuhkan kondisi yang prima, keamanan dan sterilisasi pengerjaan adalah hal yang paling utama. Karena itu semua aktivitas dilakukan di ruangan steril di mana termasuk penggunaan ruang karantina dan pengolahan yang toleransi pencemarannya sudah diatur ketat. Sampel yang diproses harus bebas dari penyakit infeksi seperti HIV, HCV, HBsAG). Sebab kalau sudah terinfeksi, dikhawatirkan akan menularkan ke yang lain.

Saat ini, dikutip dari Liputan 6 (9/3/2014), ada 11 rumah sakit di Indonesia yang menyediakan terapi sel punca, yaitu:

  • Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (Pembina), Jakarta
  • Rumah Sakit Dr. Soetomo (Pembina), Surabaya
  • Rumah Sakit Dr. M. Djamil, Padang, Sumatera Barat
  • Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta
  • Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta
  • Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta
  • Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
  • Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung
  • Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta.
  • Rumah Sakit Dr. Karyadi, Semarang
  • Rumah Sakit Sanglah, Bali
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR