Mengetahui cara kerja hoax agar terhindar dari pusarannya

Sesi konferensi bertajuk "It's Time to be Responsible Netizen" di ajang SMW Jakarta 2019 hari ini (Rabu, 13/11/19).
Sesi konferensi bertajuk "It's Time to be Responsible Netizen" di ajang SMW Jakarta 2019 hari ini (Rabu, 13/11/19). | Irsan /Beritagar.id

Pertumbuhan pengguna media sosial yang begitu pesat di Indonesia juga sejalan dengan tumbuhnya penyebaran hoax atau kabar bohong. Akhir-akhir ini kita semakin sering melihat atau membaca kabar bohong yang seliweran di linimasa kita.

Menurut Anita Wahid, Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), penyebaran kabar bohong yang begitu masif terjadi karena masyarakat tidak mengerti bagaimana hoax bekerja. Hal ini diungkapkan Anita dalam konferensi bertajuk "It's Time to be Responsible Netizen" di ajang SMW Jakarta 2019 hari ini (Rabu, 13/11/19).

"Saat ini tingkat kesadaran masyarakat terhadap masalah hoax sudah cukup tinggi. Saya yakin teman-teman yang hadir di sini, saat menerima sebuah berita pasti akan bertanya kembali apakah berita tersebut benar atau tidak," ujarnya.

Sayangnya, menurut Anita, masyarakat Indonesia tidak tahu bagaimana hoax bekerja. "Sehingga masyarakat tidak sadar apakah dirinya sudah menjadi korban hoax atau tidak," kata Anita.

Menurut Anita, ada dua jenis korban hoax. Pertama, orang yang memang ditargetkan di dalam hoax tersebut. Misalnya, saat masa pilpres kemarin, Jokowi dan Prabowo menjadi korban, karena terus diserang dengan berbagai berita bohong.

Kedua, korban lain yang merupakan orang-orang yang selama ini dijejali berbagai informasi-informasi bohong dan dibuat untuk mempercayai berita tersebut. Sehingga, orang-orang ini akan bersikap, berpikir, berperilaku, dan bertindak dengan cara tertentu. Sayangnya masih banyak yang tidak sadar akan hal tersebut.

Anita menjelaskan, cara hoax bekerja sangat sederhana. Untuk hoax yang memang sengaja direkayasa dan digunakan sebagai senjata untuk agenda tertentu memang dibuat untuk menyasar emosi kita.

Ada dua kelompok emosi yang biasa muncul karena hoax. Yang pertama adalah emosi-emosi yang berhubungan dengan kekhawatiran kita karena kita merasa ada ancaman keselamatan dan keamanan diri kita dan orang lain, seperti yang berkaitan dengan kriminalitas, kesehatan, juga bencana alam. Emosi yang muncul pada akhirnya adalah rasa khawatir dan ingin melindungi orang lain.

Sedangkan emosi lain yang menjadi sasaran hoax adalah emosi-emosi yang terkait dengan identitas diri kita. "Identitas orang Indonesia itu adalah agama dan suku. Sehingga hoax yang menyerang identitas kita akan memunculkan emosi kemarahan, mudah tersinggung, dan lama-lama jadi benci," tambah Anita.

Sesuai dengan tema yang diangkat SMW Jakarta 2019 yaitu ‘Stories: with Great Influence comes Great Responsibility', pengguna media sosial bertanggung jawab penuh dengan apa yang mereka lakukan atau bagikan. Pengguna sebaiknya lebih bijak saat membagikan konten di media sosial.

MAFINDO sendiri sudah memiliki chatbot di platform WhatsApp untuk memilah berita atau informasi hoax. Anda dapat melakukan kroscek dengan mengirimkan informasi atau berita ke chatbot tersebut untuk dipastikan keakuratan dan keaslian informasi tersebut.

Jika ingin mencobanya Anda bisa langsung mengirim pesan WhatsApp ke nomor 085574676701 kemudian chatbot MAFINDO secara otomatis akan memberikan verifikasi informasi tersebut sesuai bank data yang dimiliki.

Catatan redaksi: Beritagar.id merupakan mitra media SMW Jakarta 2019.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR