TEMUAN ARKEOLOGI

Menggali benteng-benteng bersejarah di Gorontalo

Sebuah struktur tua yang diduga bagian dari Benteng Nassau, ditemukan oleh Balai Arkeologi Sulawesi Utara saat melakukan ekskavasi di asrama polisi Polres Gorontalo Kota, Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, Selasa (9/4/2019).
Sebuah struktur tua yang diduga bagian dari Benteng Nassau, ditemukan oleh Balai Arkeologi Sulawesi Utara saat melakukan ekskavasi di asrama polisi Polres Gorontalo Kota, Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, Selasa (9/4/2019). | Franco Dengo /Beritagar.id

Dalam beberapa waktu terakhir, Balai Arkeologi Sulawesi Utara intens melakukan ekskavasi benteng-benteng bersejarah yang berada di Provinsi Gorontalo.

Sejak 20 April 2019, lembaga arkeologi yang membawahi tiga wilayah ini--Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo--melakukan riset serta penggalian Benteng Maas yang terletak di pesisir utara Gorontalo, di Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara.

Para peneliti fokus mencari empat bastion Benteng Maas, yang secara fisik hanya tersisa satu bastion saat ini. Dimulai dari sisi barat daya. Seperti yang dinyatakan ketua peneliti, Irna Saptaningrum, saat diwawancarai Rabu (8/5/2019).

Dikatakannya, satu bastion (sudut benteng) masih tersisa meskipun kondisinya sudah rusak. Bastion ini berada di sisi timur laut. Saat melakukan penggalian, para peneliti menemukan sebuah pondasi, pecahan keramik, dan barang pecah belah (stoneware), di kedalaman 52 cm di bawah permukaan tanah yang saat ini sudah menjadi perkebunan warga.

“Keberadaan stoneware dan keramik ini terkait aktivitas kehidupan di dalam Benteng Maas karena berasal dari lapisan budaya yang sama,” kata Irna.

Sejauh ini belum diketahui pasti siapa yang membangun benteng tersebut. Namun, menurut Irna, merujuk pada catatan lama, saat Raja Biya memerintah Kerajaan Limutu pada periode 1677-1690, ia pernah memindahkan ibu kota kerajaan dari Limutu (Limboto) ke Uanengo, nama lama Kwandang, tempat Benteng Maas berada.

“Raja Biya membangun dua benteng. Apakah keduanya kemudian dikuasai oleh Spanyol, VOC atau lainnya, ini perlu penelitian lebih lanjut,” papar Irna.

Menurut Wuri Handoko, Kepala Balai Arkeologi Sulawesi Utara, ekskavasi Benteng Maas ini merupakan penelitian tinggalan arkeologi masa kolonial. Riset ini dapat dimaknai sebagai bagian dari sebuah pengalaman bersama dalam menghadapi pengaruh dan kekuatan asing.

“Perjalanan panjang kolonialisasi ini pula yang telah melahirkan bentuk ke-Indonesia-an negara ini,” kata Wuri Handoko.

Pemaknaan lain dari riset ini, tambah Wuri, adalah mengungkap nilai-nilai positif yang telah ada sejak masa kolonial, seperti multikultur, heterogenitas kota yang mulai terbentuk.

Sebelumnya, ekskavasi juga dilakukan di Kota Gorontalo, untuk menemukan jejak Benteng Nassau. Ketua tim peneliti Balai Arkeologi Sulawesi Utara, Irfanuddin Wahid Marzuki, memaparkan hasil ekskavasi tersebut di Rumah Kopi Pertiwi, Kota Gorontalo, Minggu (14/4) malam.

Proses ekskavasi yang dilakukan di Asrama Polisi Polres Gorontalo Kota itu, dilakukan selama sekitar 15 hari, dimulai pada Selasa (2/4/2019).

Irfanuddin mengetahui jika di lokasi tersebut terdapat Benteng Nassau dari dokumen lama zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Setelah melihat dokumen tersebut, dia melakukan survei awal pada tahun 2009 dan baru memulai ekskavasi pada 2019.

Dari ekskavasi yang dilakukan itu, Balai Arkeologi Sulawesi Utara berhasil menemukan struktur septic tank dengan ketebalan 30 cm. Proses ekskavasi pun berlanjut. Mereka berupaya untuk menemukan struktur benteng dan bastion guna memperkirakan ukuran benteng tersebut. Namun, hingga proses akhir, mereka tidak menemukannya.

"Kendalanya adalah sudah banyak gedung dan bangunan di sekitar lokasi pencarian. Bangunan yang baru dibangun di tempat itu telah menimpa struktur benteng yang ditemukan tahun lalu,” kata Irfanuddin.

Dia juga memperlihatkan sketsa dari Benteng Nassau dengan beberapa bangunan yang ada di dalamnya, seperti bangunan residen, gudang, barak militer, gudang mesiu, dapur, rumah pegawai, dan kandang kuda. Terlihat, benteng itu dilengkapi dengan dua bastion yang menghadap ke darat dan laut untuk memantau pemberontak dan perompak.

Pada ekskavasi itu juga mereka menemukan koin Belanda dari tahun 1920 dan fragmen tulang. Namun fragmen tulang tersebut tidak diketahui milik manusia atau binatang dan berasal dari periode apa, karena belum dilakukan uji laboratorium.

“Kami telah mengirim fragmen tersebut untuk diuji lab guna mengetahui informasi dari fragmen tulang tersebut,” lanjutnya.

Menurut Irfanuddin, selain Benteng Nassau, masih banyak situs arkeologi di Provinsi Gorontalo yang belum diketahui masyarakat.

Anggota peneliti Balai Arkeologi Sulawesi Utara, sedang melakukan identifikasi struktur benteng Maas yang terletak di Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo, Jumat (3/5/2019).
Anggota peneliti Balai Arkeologi Sulawesi Utara, sedang melakukan identifikasi struktur benteng Maas yang terletak di Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo, Jumat (3/5/2019). | Franco Dengo /Beritagar.id

Kolonial Hindia Belanda mendirikan benteng dengan nama Nassau di beberapa tempat. Selain Gorontalo, benteng bernama Nassau juga ada di Pulau Neira, Kepulauan Banda, Maluku, yang didirikan pada 1609.

Bedanya, struktur Benteng Nassau di Neira masih berdiri kokoh, sementara di Gorontalo telah hancur, hanya tersisa pondasinya. Hingga kini belum diketahui penyebab runtuhnya benteng tersebut.

Irfanuddin mengatakan, ada beberapa kemungkinan penyebab rusaknya benteng tersebut, dikarenakan bencana banjir, tsunami dan gempa, atau runtuh dimakan usia.

Dugaan paling kuat adalah bencana gempa, karena data yang didapatkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyebutkan jika beberapa kali gempa dengan skala besar pernah terjadi di Gorontalo. Seperti gempa 8,4 magnitudo pada 1905; 7,4 magnitudo pada 1990; dan 7,2 magnitudo pada 1991.

Banjir bandang juga diduga ikut merusak struktur dari Benteng Nassau. Karena pada saat pengeboran di sekitar tempat ekskavasi, terdapat kemiripan struktur tanah di tempat tersebut dengan struktur tanah yang ada di Danau Limboto.

Jalur Administrasi VOC

Gorontalo adalah salah satu jalur administrasi VOC, yang masuk melalui jalur daerah kekuasaan Kerajaan Ternate pada tahun 1678. Saat itu mereka meminta agar raja di kawasan Gorontalo untuk tunduk pada VOC yang berpusat di Ternate.

Pada tahun 1705 Belanda mendirikan kantor dagang di Gorontalo. Sejak saat itu kekuasaan VOC di Gorontalo dimulai dan jejak-jejak keberadaan mereka mulai tertanam, tetapi banyak yang belum terungkap hingga kini.

Selain Nassau dan Maas, beberapa benteng juga masih berdiri kokoh di Gorontalo, yakni Otanaha, Oranje, dan Ulantha. Ketiganya dijadikan pemerintah sebagai alternatif wisata sejarah di Gorontalo.

Joni Apriyanto, Akademisi Uiversitas Negeri Gorontalo (UNG), mengatakan, memang banyak situs arkeologi dan bangunan tua yang berada di Gorontalo. Akan tetapi, menurutnya, tidak lantas semua mesti ditetapkan sebagai peninggalan bersejarah.

Menurut Joni, kisah perjalanan temuan tersebutlah yang bisa mendukungnya sebagai temuan bersejarah. "Banyak cagar dan bangunan tua yang ada di Gorontalo miskin akan cerita," tegasnya.

Dia juga mempertanyakan langkah selanjutnya Badan Arkeologi setelah struktur Benteng Nassau ditemukan. Apakah hanya akan dilakukan pengenalan Benteng Nassau dan Benteng Maas kepada mayarakat, atau akan coba direstorasi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR