INOVASI TEKNOLOGI

Mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel

Ilustrasi minyak jelantah.
Ilustrasi minyak jelantah. | Yortzafoto /Shutterstock

Sisa minyak goreng atau jelantah yang sering kita anggap limbah dan dibuang begitu saja, ternyata bisa diolah menjadi biodiesel di tangan sekelompok anak muda Makassar, Sulawesi Selatan, yang menamakan dirinya GenOil.

Biodiesel yang dihasilkan GenOil kini telah diakui dan membawa para inovator muda itu meraih omzet Rp300 juta per bulan.

Bahkan, upaya GenOil telah turut membantu mengurangi emisi karbon penyebab perubahan iklim, mengurangi paparan limbah jelantah yang dibuang sembarangan, pun menangkal bahaya kesehatan akibat pemakaian jelantah.

Tak hanya itu, GenOil juga berhasil menciptakan lapangan kerja baru bagi para preman dan mantan pesakitan, pun menghasilkan biodiesel hemat biaya berkualitas tinggi yang membantu nelayan Indonesia tak kesulitan lagi mendapat bahan bakar untuk melaut.

Bagaimana GenOil mengawali pengolahan limbah minyak goreng?

Menukil Good News from Indonesia, jauh sebelum GenOil berdiri pada tahun 2015, salah satu pencetusya yang bernama Andi Hilmy Mutawakkil rupanya punya mimpi semasa SMA membuat energi terbarukan dari minyak jelantah.

Mimpi laki-laki kelahiran Maros yang juga lulusan Jurusan Antropologi di Universitas Negeri Makassar itu dimotivasi fakta bahwa pembuangan minyak jelantah yang sering kali disepelekan warga justru menimbulkan beragam masalah.

Jelantah yang dibuang ke badan air akan menyumbat saluran air atau got, dan yang dibuang ke tanah mampu mencemari lingkungan.

Demi mewujudkan mimpi, ia mendirikan Kelompok Remaja Ilmiah (KIR) dan berhasil membuat puluhan purwarupa roket berbahan bakar jelantah, dari yang biasa hingga yang mampu terbang mencapai 10 km.

“Ini soalan lingkungan sangat serius. Ironisnya, tak ada yang peduli,” ujar Hilmy dinukil Mongabay.

Lebih lanjut, sejumlah riset yang dihelat GenOil menemukan secara total ada lebih dari 17 ton minyak bekas pakai yang keluar setiap harinya dari hotel, restoran, dan rumah tangga di wilayah Makassar.

Menurut GenOil, setiap satu dari sekitar 300 ribu rumah tangga menghasilkan minimal 250 ml jelantah, dengan total 60 ribu liter per hari.

Lebih parah, hasil riset di tempat-tempat wisata dan kuliner menunjukkan dari 111 hotel, untuk sarapan saja bisa menghasilkan 20 liter jelantah per hari. Jika ditambah pabrik mi dan restoran, estimasi mencapai 17 ton minyak bekas setiap hari. Jumlah sebesar itu belum termasuk pabrik lain dan industri kuliner skala kecil.

Mirisnya lagi, GenOil juga menemukan jelantah dalam jumlah banyak seperti dihasilkan restoran cepat saji biasanya dibuang begitu saja, atau diolah ulang sehingga bisa dikonsumsi lagi.

"Di tangan yang tidak bertanggung jawab minyak jelantah ini bisa dijadikan minyak curah. Kalau biasanya ini minyak untuk bahan bakar roket cair," ujar Hilmi kepada detikOto.

Bahan untuk roket, jelasnya, selain menggunakan jelantah juga bisa memanfaatkan H2O2 (Hydrogen peroxida). Sayangnya, banyak yang menyalahgunakan bahan kimia itu demi mendulang untung.

H202 jika dicampur jelantah dapat membuat warna minyak yang kotor atau hitam menjadi pucat, dan tampak jernih saat dipanaskan. “H2O2 itu racun. Minyak bekas pun sudah beracun. Jadi racun bercampur racun. Inilah yang banyak di konsumsi masyarakat,” terang Hilmi.

Ia menambahkan bahaya mengonsumsi minyak jelantah dapat menyebabkan penyakit degeneratif seperti hipertensi, kanker, dan jantung.

Selain itu membuang minyak sembarangan, meski dibekukan pakai bahan kimia, tetap bakal mencair jika terpapar panas matahari.

Seharusnya untuk membuang minyak jelantah, menukil The Spurce, adalah dengan membuang minyak beku yang telah dimasukkan dalam botol kosong atau kaleng, ke tempat sampah khusus dengan kategori bahan yang tidak dapat di daur ulang.

Selain itu, Anda juga bisa menggabungkan minyak bersama limbah lain yang bersifat menyerap seperti pasir kotoran kucing, atau sampah kertas dan tisu.

Namun, alangkah lebih baik jika minyak diolah ulang seperti yang dilakukan GenOil. Cara kerja GenOil dalam menghasilkan 30 liter biodiesel dari 30 liter jelantah cukup sederhana.

Pertama, jelantah disaring kasar dan disaring kembali hingga menjadi sangat halus menggunakan pompa. Untuk menguji tingkat keasaman, jelantah halus akan ditampung dan dipanaskan dalam reaktor.

Kemudian minyak tersebut dipindahkan pada separator yang mampu menghasilkan pendapatan biodiesel (90 persen) dan gliserol (10 persen), yang selanjutnya diumpan ke evaporator untuk menghilangkan zat pengotor dan menstabilkan Ph. Terakhir, biodiesel siap ditampung dan dipakai pada mesin diesel.

Setelah jatuh bangun yang panjang dengan percobaan yang berkali-kali gagal, GenOil yang berfokus pada bidang energi akhirnya berdiri dengan modal awal sekitar Rp 3,5 juta. Sayang, produksi biodiesel meleset jauh dari perkiraan awal.

Tak pantang menyerah, GenOil menyurvei wilayah Pelabuhan Paoetere Makassar. "Waktu itu saya ke pasar jalan-jalan. Lalu ada tiga hal yang menarik perhatian saya. Penjual gorengan, ikan yang dijual kadang tak ada, dan preman di pasar," kata Hilmi dikutip Media Indonesia.

Belakangan ia menemukan bahwa ikan semakin sedikit karena banyak nelayan yang tak melaut akibat kesulitan membeli bahan bakar.

Lalu, mengingat tiap orang pasti butuh pekerjaan dan kepercayaan, akhirnya terciptalah ide merekrut preman-preman sebagai agen pengumpul jelantah dengan untung sampai Rp2.000 per liter, untuk dijual pada nelayan.

GenOil menjual biodiesel ke para nelayan seharga Rp5 ribu per liter, lebih murah ketimbang harga eceran Pertamina. Itu pun masih ada selisih Rp500 per kilogram untuk pengecer.

Tentu, nelayan tak langsung percaya. Selain harga murah, warna berbeda jadi masalah. Solar subsidi dari pemerintah berwarna kuning agak kebiru-biruan, sedangkan produk GenOil kuning murni.

Agar nelayan percaya, GenOil memberi garansi mengganti mesin kapal andai rusak.

Hasilnya, "Ini hemat biaya. Kalau solar hanya mampu menjangkau jarak 800 meter laut per liternya, maka biodiesel bisa mencapai lebih dari satu kilometer laut," pungkas Hilmi.

BACA JUGA