ILOC 2019

Mengukur potensi pembayaran digital di Indonesia

SPONSOR: DANA
Vincent Iswara, CEO DANA, dalam konferensi Indonesia Lokadata Conference (ILOC) di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta (28/8)
Vincent Iswara, CEO DANA, dalam konferensi Indonesia Lokadata Conference (ILOC) di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta (28/8) | Andreas Yemmy /Beritagar.id

Teknologi yang terus berkembang selalu memberi pengaruh terhadap kehidupan manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, ragam terobosan baru mempermudah kehidupan kita sehari-hari.

Salah satu terobosan yang kini sedang menjadi tren di Indonesia adalah layanan keuangan berbasis digital, termasuk e-wallet. Dengan dompet elektronik, kita bisa melakukan transaksi pembayaran tanpa menggunakan uang tunai (cashless).

Pembayaran menggunakan e-wallet digandrungi karena menawarkan kepraktisan dalam bertransaksi. Pembayaran dapat dilakukan dengan mudah, hanya dengan memindai kode QR (quick response) atau memasukkan nomor ponsel saja. Ditambah lagi, ragam promosi yang ditawarkan semakin membuat penggunanya merasa dimanjakan.

DANA yang usianya belum genap dua tahun juga ikut meramaikan ekosistem pembayaran digital. Meski tergolong pemain baru, DANA tidak merasa ketinggalan dari layanan e-wallet yang sudah dirilis lebih dulu. Hal ini ditegaskan langsung oleh Vincent Iswara, Chief Executive Officer DANA, dalam diskusi bertajuk "Data for Business Decisions Making: From Unbankable to Bankabledalam konferensi Indonesia Lokadata Conference (ILOC) di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta (28/8).

"Kita tahu potensi digital payment di Indonesia masih sangat besar. Kita melihat bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai bergerak ke arah digital, baik digital lifestyle, digital content, dan ke depannya digital economy," kata Vincent.

Meski masyarakat sudah mulai beralih ke digital payment, Vincent merasa bahwa ini masih tahap yang sangat awal bagi Indonesia, sehingga masih ada market yang sangat besar di masa mendatang. "Jadi kalau DANA dibilang agak telat, saya juga bisa bilang secara industri kita masih kepagian. Peluang masih banyak," ujarnya.

Rasa optimistis yang keluar dari mulut Vincent bukan tanpa dasar. Pasalnya, pada 2017 penetrasi pembayaran digital berdasarkan jumlah transaksi kurang dari 3%. Bahkan, hingga saat ini penetrasi transaksi pembayaran digital masih berada di angka 7% saja.

"Kalau kita melihat dari negara yang sudah lebih maju, misalnya Tiongkok, mereka saja baru 30%. Bahkan Amerika saja belum sampai sebesar itu. Jadi, potensinya masih sangat besar ke depannya," tegasnya.

Selain itu, Vincent tidak merasa berkompetisi dengan penerbit e-wallet lain, karena menurutnya semakin banyak pemain akan semakin baik bagi perkembangan digital payment di Tanah Air. "Kita juga melihat semakin banyak pemain akan semakin baik. Karena kita sama-sama mengedukasi pasar untuk masuk ke era digital payment," ujar Vincent.

Disinggung soal isu keamanan data pelanggan, Vincent menegaskan bahwa DANA memiliki peraturan yang ketat dalam memproteksi data pribadi penggunanya. Privasi pengguna menjadi perhatian utama DANA dengan penerapan Zero Data Sharing Policy.

"Semua data pengguna kami proteksi secara internal. Bahkan, pegawai kita sendiri tidak memiliki akses ke data personal pelanggan. Ini sangat penting, karena bagi kita sebagai perusahaan fintech (financial technology), kepercayaan pelanggan sangat penting. Jadi kami pastikan hal tersebut aman," tutupnya.

SPONSOR: DANA
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR