KONSERVASI SATWA

Mengurangi konflik dengan masyarakat, gajah liar di Aceh dipasangi GPS

Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan Forum Konservasi Leuser mengalungkan dua unit GPC collar ke seekor gajah liar di Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Aceh, Rabu (6/3/2019).
Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan Forum Konservasi Leuser mengalungkan dua unit GPC collar ke seekor gajah liar di Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Aceh, Rabu (6/3/2019). | BKSDA

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan Forum Konservasi Leuser (FKL) mengalungkan dua unit GPS Collar pada dua ekor gajah liar di dua kawanan berbeda di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh. Pemasangan GPS Collar itu untuk memantau pergerakan kawanan gajah liar yang selama ini beberapa kali konflik dengan masyarakat.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo, mengatakan dua kawanan gajah liar tersebut berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh Timur. Adapun pemasangan GPS Collar pertama dilakukan terhadap seekor gajah liar bernama Nadya pada Rabu (6/3/2019) di Kecamatan Ranto Peureulak.

Soal pemberian nama Nadya, menurut Sapto, lantaran GPS Collar yang dipasangkan kepada gajah tersebut adalah sumbangan dari pesohor Nadya Hutagalung. Nadya adalah seorang pembaca acara yang peduli pada konservasi gajah liar.

"Gajah Nadya berkelamin betina itu beratnya hampir empat ton. GPS Collar berhasil dipasang setelah tim BKSDA Aceh dan FKL mencari gajah ini selama seharian," ujar Sapto kepada para jurnalis di Aceh, Senin (11/3).

Sapto menambahkan, timnya menemukan kawanan gajah Nadya itu di dalam kawasan hak guna usaha (HGU) PT. Atakana Company yang sebagian besar tanamannya telah rusak akibat konflik gajah. "Gajah menyukai lokasi ini karena banyak ditumbuhi semak belukar dan hutan muda," ujarnya.

Pemasangan GPS Collar juga dilakukan terhadap seekor gajah dari kawanan gajah lain di Kecamatan Bireum Bayeun, Aveh Timur, pada Sabtu (9/3). Gajah berumur 20 tahun seberat lebih dari 2 ton itu kemudian diberi nama Meutia. "Gajah ini ditemukan oleh tim setelah seharian melakukan pencaharian," kata Sapto.

Menurut Sapto, pemasangan GPS Collar dilakukan di bagian leher gajah liar. GPS itu nantinya bakal mengirim informasi posisi gajah secara berkala melalui satelit.

"Salah satu tujuannya adalah memberi informasi posisi gajah sebelum masuk ke perkebunan atau lahan pertanian masyarakat sehingga dapat membantu mitigasi konflik dengan manusia di wilayah sekitarnya," tutur dia.

Sementara manfaat jangka panjang, kalung GPS Collar pada gajah liar akan memudahkan petugas mengetahui jalur jelajah kawanan gajah liar. Data itu nantinya turut digunakan dalam penyusunan tata ruang di Kabupaten Aceh Timur dan daerah lainnya di Aceh yang selama ini melahirkan konflik satwa liar.

Koordinator Perlindungan Satwa Liar FKL, Dedi Yansyah, mengatakan pemasangan GPS Collar sengaja dilakukan pada kedua gajah betina dewasa. Maklum, gajah betina lebih senang hidup dalam kawanan, sementara gajah jantan lebih sering berpisah dari kawanan lain.

GPS Collar ini tidak murah. Merujuk pada kalung serupa untuk anjir, harganya di toko daring Amazon sekitar AS $99,99 atau sekitar Rp1,4 juta.

Dedi menyebut FKL membantu pemerintah meminimalisasi konflik satwa liar seperti gajah Sumatra dengan manusia di Aceh Timur dan beberapa daerah lain di Aceh.

Selain pemasangan GPS Collar, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur bersama FKL turut membangun barrier buatan atau parit sepanjang 18,6 kilometer dari total 50 kilometer yang direncanakan.

Barrier atau penghalang itu digali di batas hutan area penggunaan lain dengan hutan produksi. "Sehingga gajah tidak bisa masuk ke lahan masyarakat," kata Dedi.

Konflik gajah liar dengan masyarakat di Provinsi Aceh beberapa kali terjadi. Konflik ini diperkirakan akibat habitat gajah liar terus menyempit. Menurut data BKSDA Aceh, populasi gajah Sumatra di Aceh kini hanya 539 ekor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR