PELAYANAN KONSUMEN

Menilai fitur autentikasi ganda merepotkan, pengguna tuntut Apple

Fitur keamanan autentikasi dua faktor (Two Factor Authentication) pada perangkat iPhone.
Fitur keamanan autentikasi dua faktor (Two Factor Authentication) pada perangkat iPhone. | Apple Support

Apple menghadapi masalah hukum lagi. Kali ini, pengguna menuntut perusahaan teknologi berlogo buah apel itu lantaran memiliki sistem autentikasi dua faktor (Two Factor Authentication/2FA) yang dinilai menyengsarakan.

Menurut pengguna bernama Jay Brodsky, Apple terlampau memaksa untuk menerapkan sistem perlindungan ganda ini. Brodsky, warga New York, Amerika Serikat (AS), akhirnya menggugat Apple ke Pengadilan California pada Jumat (8/2/2019).

Autentikasi dua faktor adalah pilihan sistem pengaman dua langkah. Untuk mengaktifkan, pengguna cuma perlu memasukkan nomor telepon alternatif.

Namun saat pengguna akan mematikan atau menghentikan (nonaktif) sistem ini, kerepotan bisa mengadang. Padahal sistem autentikasi dua faktor akan berlaku begitu pengguna akan mengakses Apple ID, baik melalui iPhone atau komputer Mac.

Beritagar.id mencobanya pada Selasa (12/2/2019) dan perlindungan ganda ini sulit dimatikan. Sebagai catatan, ini hanya berlaku bagi siapapun yang baru mengaktifkan fitur perlindungan ganda tersebut.

Setelah diaktifkan, Apple akan mengirimkan surel berisi konfirmasi. Jika pengguna tidak mengaktifkan perlindungan ganda dan bukan orang yang tidak berwenang memiliki akses ke akun Apple ID tersebut, pengguna dapat kembali ke pengaturan keamanan sebelumnya melalui tautan yang telah disediakan Apple dalam surel.

Nantinya, Anda juga perlu membuat ulang kata sandi Apple ID untuk urusan keamanan. Laman Apple Support sebenarnya masih menyertakan cara mematikan (offline) perlindungan ganda itu.

Notifikasi untuk mematikan autentikasi dua faktor melalui surel.
Notifikasi untuk mematikan autentikasi dua faktor melalui surel. | Ivan /Beritagar.id

Dalam berkas gugatan hukumnya, Brodsky menilai autentikasi dua faktor itu berbelit itu "menyengsarakan" dan menimbulkan kerugian materi karena pengguna harus meluangkan waktu untuk mengikuti prosesnya.

Brodsky menjelaskan bahwa pertama; pengguna harus memasukkan kata sandi pada perangkatnya. Kedua, pengguna harus memasukkan kata sandi pada perangkat terpercaya lainnya untuk masuk. Ketiga, secara opsional, pengguna harus memilih respons Trust atau Don't Trust pada pesan pop-up.

Keempat, pengguna kemudian harus menunggu untuk menerima kode verifikasi enam digit pada perangkat kedua yang dikirim langsung oleh peladen (server) Apple.

Dan terakhir, pengguna harus memasukkan kode verifikasi enam digit yang diterima pada perangkat pertama ke halaman iCloud pada peramban. Setelah itu semua, barulah pengguna bisa mengakses Apple ID.

Menurut Brodsky, semua proses autentikasi dua faktor itu memakan waktu sekitar 2-5 menit lebih. Selain itu, menurutnya, Apple juga tidak jujur.

Maksudnya, Apple melalui surel pemberitahuan tidak menjelaskan bahwa sistem autentikasi itu tidak bisa dibatalkan atau dinonaktifkan. Apple pada awalnya memang membatasi pembatalan hanya di bawah dua pekan, setelah itu berlaku seterusnya.

Apple melalui laman support-nya menjelaskan bahwa kata sandi (password) saja tak cukup aman untuk melindungi akun Apple ID. Apple pun menyertakan pilihan autentikasi dua faktor untuk mengamankan Apple ID beserta data pribadi di dalamnya.

Setelah masuk ke Apple ID, pengguna tidak akan diminta mengisi kode verifikasi lagi. Kecuali pengguna keluar sepenuhnya, menghapus perangkat, atau perlu mengubah kata sandi Anda untuk alasan keamanan.

Ketika pengguna masuk ke web, ia dapat memilih untuk mempercayai perambannya sehingga tidak perlu memasukkan kode verifikasi lagi di kemudian hari bila menggunakan perangkat atau komputer yang sama.

Brodsky menuntut ganti rugi sesuai Undang-Undang Penipuan Komputer (Computer Fraud and Abuse Act/CFAA). Kongres AS mengesahkan UU CFAA pada 1996 untuk mengurangi peretasan dan pembobolan sistem komputer kelembagaan pemerintah atau lembaga lainnya.

Namun demikian, menurut Jake Tucker dari Trustedreviews, Senin (11/2), ia dan rekan kerjanya hanya membutuhkan waktu masing-masing sekitar 30 detik untuk menyelesaikan proses autentikasi dua faktor. Sedangkan Apple hingga kabar ini terbit belum memberi tanggapan.

Gugatan untuk Apple dari pengguna ini bukanlah yang pertama. Pada akhir Desember lalu, seorang pengguna iPhone bernama Courtney Davis melayangkan gugatan ke pengadilan Distrik Utara California.

Davis menuduh Apple menayangkan informasi yang telah mengecoh pembeli pada iklannya. Gugatan ini berawal ketika Davis membeli sebuah iPhone XS Max melalui mekanisme prapemesanan.

Davis merasa Apple telah menyesatkannya lewat beberapa gambar pemasaran promosi iPhone XS dan iPhone XS Max. Dia berpikir bahwa dengan melihat gambar-gambar ini, iPhone XS yang dipesannya tidaklah berponi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR