Metode statistik bisa ungkap jenis kelamin sisa jasad hasil kremasi

Ilustrasi proses kremasi tradisional, di mana peti dibiarkan terbakar oleh api.
Ilustrasi proses kremasi tradisional, di mana peti dibiarkan terbakar oleh api. | Peterpancake /Shutterstock

Sisa-sisa jasad manusia yang telah melalui proses kremasi kuno, meskipun cacat, ternyata masih mempertahankan informasi mengenai jenis kelamin.

Kesimpulan ini datang dari sebuah studi yang dirilis dalam jurnal PLOS ONE oleh Claudio Cavazzuti dan rekan dari Durham University, Inggris.

Para penulis memberikan pendekatan statistik untuk mengidentifikasi ciri-ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan dalam suatu populasi.

Arkeologi modern sangat mirip dengan studi forensik, meski masih ada kota-kota besar dan artefak yang menunggu untuk ditemukan, fokus para arkeolog kini telah bergeser dari menemukan hal-hal baru menjadi memahami bagaimana orang-orang kuno hidup, memahami budaya, dan kehidupan sehari-harinya.

Memahami data demografis dan praktik budaya menjadi tujuan utama dari banyak penelitian. Berbagai macam pemakaman besar merupakan sumber informasi yang penting, tetapi praktik kremasi yang populer selama ribuan tahun, membelokkan dan mengurangi jumlah informasi yang dapat diperoleh.

Kemampuan untuk menentukan jenis kelamin sisa-sisa manusia kuno sangat penting bagi para arkeolog guna melacak data demografis dan praktik budaya lintas peradaban.

Jasad yang telah mengalami penguburan seluruh tubuh dan mumifikasi adalah kandidat yang baik untuk proses analisis DNA. Namun, panasnya pembakaran dalam proses kremasi biasanya menghancurkan bukti genetik semacam itu.

Demikian pula analisis kimia terhadap enamel gigi yang dapat mengungkapkan rincian paling detail dari pola makan individu. Informasi ini tidak bisa diperoleh ketika mahkota gigi seseorang telah meledak sebagai efek samping umum dari kremasi.

Sejumlah penelitian sebelumnya berusaha mengidentifikasi ciri-ciri kerangka yang didiagnosis secara seksual setelah dikremasi. Namun, para arkeolog tidak memiliki metode yang dapat diandalkan untuk menentukan jenis kelamin jasad sisa kremasi karena tidak adanya petunjuk eksternal seperti barang-barang yang terkait gender di makam.

Cavazzuti dan tim bertujuan untuk mengatasi kesulitan ini dengan meneliti 24 ciri kerangka pada 124 individu yang dikremasi dengan barang-barang kuburan yang beraneka ragam (seperti senjata untuk laki-laki dan alat pintal untuk perempuan) dari lima nekropolis Italia yang berusia antara 3.000 dan 2.500 tahun.

Kemudian, mereka memeriksa lusinan variabel, seperti ketebalan tulang rahang, tinggi topi lutut, dan lebar maksimum tulang jempol kaki. Biasanya, bukti yang paling dapat diandalkan untuk menentukan jenis kelamin sisa jasad adalah ukuran tengkoraknya (tingkat akurasi 80 persen ke atas) atau bentuk panggulnya (kira-kira 96 persen akurat). Namun, patokan ini hanya berfungsi ketika bagian-bagian tubuh itu agak utuh--suatu kelangkaan yang dapat ditemukan pada sisa kremasi.

“Ketika kita berpikir tentang kremasi (seperti kremasi modern), kita memikirkan abu atau bubuk,” kata Cavazzuti dikutip dari Popular Science (31/1). "Tapi di masa lalu, dengan teknik kuno dan pembakaran kayu, hasil kremasi adalah fragmen-fragmen ini (berkisar antara 7 hingga 70mm), hampir tidak pernah berupa tulang yang lengkap."

Cavazzuti menambahkan, “Ini adalah metode baru untuk mendukung penentuan jenis kelamin dari sisa-sisa kremasi manusia di zaman kuno. Mudah, dapat ditiru, dapat diandalkan. ”

Hasil penelitian kemudian menunjukkan delapan ciri tulang, seperti panjang atau lebar tulang utuh tertentu dapat mengungkapkan jenis kelamin seseorang, bahkan setelah ribuan tahun di bawah tanah. Mempertahankan informasi yang cukup untuk membuktikan keakurasiannya hingga 80 persen.

Namun demikian, ada sejumlah asumsi besar dalam metode ini. Memiliki alat pintal di kuburan bukanlah bukti mutlak bahwa seseorang adalah perempuan, seperti halnya memiliki senjata tidak selalu menjadi bukti bahwa kuburan itu milik laki-laki.

Para peneliti juga mencatat bahwa metode tersebut tidak akan bekerja untuk sisa jasad dari proses kremasi modern. Tidak jelas apakah teknik kremasi yang berbeda dari titik yang tidak sama dalam sejarah mempengaruhi ciri-ciri kerangka.

Namun, metode statistik seperti ini sangat berguna dengan populasi sampel yang cukup besar untuk dipelajari. Setidaknya pengetahuan ini dapat membantu memajukan metode forensik modern untuk digunakan dalam mengidentifikasi jasad korban setelah bencana kebakaran.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR