Minat baca rendah bukan faktor utama maraknya hoaks

SPONSOR: ILOC 2019
Penyebaran berita bohong atau hoaks harus terus dilawan
Penyebaran berita bohong atau hoaks harus terus dilawan | /ILOC

Indonesia menjadi negara dengan minat baca rendah. Setidaknya, itu yang dipaparkan oleh studi Most Litered Nation in the World Central Connecticut University pada Maret 2016, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Indonesia hanya setingkat lebih baik dari Bostwana, Afrika.

Namun, bila menilik pengguna ponsel di Indonesia yang mencapai 371,4 juta, menyandang predikat sebagai negara kedua terendah dari segi minat baca dinilai tak wajar. Pasalnya, jumlah penduduk negeri ini 262 juta jiwa. Artinya, 142 persen dari total populasi Tanah Air adalah pengguna ponsel yang tentunya membaca.

Peneliti asal University of California, Cailin O’Connor dan James Owen Weatherall punya opini menarik. Mereka memaparkan bahwa kecerdasan, tingkat literasi, atau minat baca bukan faktor utama menyebarnya berita bohong atau hoaks.

Dalam buku O’Connor dan Weatherall berjudul The Misinformation Age: How False Beliefs Spread dijelaskan alasan warganet menyebarkan berita di sosial media. Menurut mereka, kecenderungan seseorang menyebar berita atau isu bila konten di dalamnya sesuai dengan keyakinan yang telah tertanam sebelumnya.

Masalahnya, bila seseorang membenarkan kepercayaannya, mereka cenderung kehilangan sikap kritis dan kejernihan berpikir. Kelompok tersebut tidak akan mengecek ulang kebenaran dari berita yang disebar. Sebaliknya, mereka akan membagikan berita tersebut di media sosial atau fitur pesan instan.

Hal tersebut kerap terjadi di berbagai lingkungan; rekan kerja, teman lama, hingga keluarga. Merebaknya kabar yang belum jelas kebenarannya akan dihadapi dengan sikap yang berbanding terbalik. Sederhananya, mereka tak peduli kabar dari media yang berkredibilitas tinggi yang didukung data dan fakta secara lengkap dan jelas.

Tersebab hal itu, masyarakat yang merasa bahwa keyakinannya tidak sesuai dengan data dan fakta sesungguhnya, merasa terancam oleh media kredibel.

Salah satu contoh adalah merebaknya hoaks yang terjadi pada pemilihan presiden (pilpres) 2019. Pelaku hoaks justru dibagikan dari kalangan terdidik. Di situ terlihat bahwa hoaks tidak hanya disebar orang-orang dengan tingkat kecerdasan atau minat baca tertentu.

Lantas, bagaimana cara paling efektif memberangus berita bohong atau hoaks? Bisakah teknologi kecerdasan buatan membantu manusia mendeteksi kebohongan yang beredar di internet?

Temukan jawabannya pada Indonesia Lokadata Conference (ILOC) 2019 di Ballroom Hotel Kempinski Jakarta, pada 28 Agustus. Salah satu tema yang dibahas adalah cara meredam tersebarnya hoaks dan peluang teknologi dalam mengatasi hoaks dengan mengundang para ahli dari berbagai bidang dan disiplin ilmu.

Untuk informasi dan detail acara ILOC 2019, silakan klik tautan ini. Atau, Anda bisa medapatkan undangan terbatas untuk mengikuti acara ini dengan mengeklik tautan berikut.

SPONSOR: ILOC 2019
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR