Mitos dan fakta manfaat keluak

Keluak atau Pangium edule Reinw.
Keluak atau Pangium edule Reinw. | Ryan Wijaya Tan /Shutterstock

Keluak (Pangium edule Reinw) dikenal dengan banyak nama berbeda di seluruh Indonesia. Ada yang menyebutnya kepayang atau pucung, picung dan pangi.

Keluak dikenal sebagai tanaman serbaguna. Namun, tak semua yang Anda dengar tentang khasiat keluak telah terbukti secara ilmiah. Berikut kami rangkum sejumlah mitos dan fakta soal manfaat keluak.

Sumber pangan

Keluak sejak lama diketahui bisa diolah jadi makanan sekaligus produk pangan. Namun, menurut peneliti dari Balai Penelitian Kehutanan Makassar, populasi lahan keluak terus berkurang, tetapi pemanfaatannya terus berkembang.

Maka perlu diteliti lebih lanjut dan diinformasikan lebih luas kepada masyarakat terkait berbagai aspek seperti teknik budi daya nontradisional, pun manfaat dan keamanannya.

Di luar itu peneliti menulis, biji berwarna cokelat kemerahan ini diketahui mengandung asam glutamat tinggi. Ini diduga menghasilkan rasa unik, membuatnya bisa digunakan sebagai bumbu masak sekaligus penyedap. Misalnya pada rawon dan sop konro yang berwarna khas kehitaman.

Lalu, ekstrak biji keluak mengandung lemak tinggi juga bisa dijadikan minyak. Bahkan, tak kalah sehat untuk menggantikan minyak kelapa karena di dalamnya terkandung minyak linoleat dan oleat cukup tinggi.

Bagian daun, daging buah, dan selaput biji keluak juga biasa diolah menjadi sayur serta makanan khas suatu daerah, hingga makanan ringan macam dodol.

Akan tetapi karena bijinya juga mengandung asam sianida tinggi, Anda perlu merendamnya terlebih dulu sebelum dimasak. Jika tidak, bau biji keluak yang menyengat bisa membuat orang ‘mabuk kepayang’. Dari namanya lah istilah tersebut muncul.

Antibakteri, antiradang dan antioksidan

Khasiat-khasiat keluak khususnya sebagai antibakteri telah dibenarkan banyak penelitian. Namun, selain hanya dalam kadar dan konsentrasi tinggi setelah diekstrak bijinya, sejauh ini belum ada uji klinis soal keamanan keluak.

Pada 2009, peneliti dari Malaysia menemukan pada kadar tertentu, kandungan senyawa fenolik dalam ekstrak biji keluak bisa menjadi sumber potensial antioksidan alami dan antibakteri.

Lalu, Christine F. Mamuaja dan tim peneliti dari Indonesia pada tahun 2015 juga pernah mengkaji kandungan fitokimia terutama fenolik dan tanin dalam ekstrak biji keluak menggunakan pelarut akuades (air suling). Mereka memantau efeknya terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli.

Hasilnya, sebagaimana penelitian-penelitian lain, ekstrak biji keluak dengan konsentrasi empat sampai enam persen ditemukan efektif dalam menghambat perkembangan keempat bakteri tersebut. Sementara konsentrasi mencapai delapan persen terbukti sangat efektif sebagai antibakteri.

Meski begitu, aktivitas antibakteri keluak pada konsentrasi dua persen tergolong sangat lemah.

Studi 2016 dalam Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, juga menunjukkan kemampuan antibakteri keluak masih jauh lebih lemah dan tidak seefektif tanaman ketepeng cina (Senna alata) dalam melawan beberapa jenis bakteri jahat.

Studi ini membandingkan aktivitas antibakteri terbaik di antara delapan tanaman Indonesia terutama terhadap methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA), penyebab resistansi antibiotik dan infeksi paling umum.

Obat penyembuh alternatif

Menurut dr Marya W. Haryono Mgizi, Sp.GK., tidak benar keluak bisa mengatasi penyakit kulit, luka bakar ataupun cacingan. Ia menduga masyarakat telah mengaitkan sifat antibakteri keluak sebagai efek penyembuh bersifat antiseptik. Padahal, kata dia, cacingan dan penyakit disebabkan bakteri adalah dua hal berbeda.

Terlebih lagi, belum ada bukti keluak yang digunakan langsung—tanpa difermentasi atau diekstrak—bersifat antiseptik.

"Penyakit kulit identik dengan salep, atau yang diberikan secara topikal. Sebaiknya jangan gunakan keluak seperti itu, karena dikhawatirkan justru akan memicu aktifnya bakteri," ujar Spesialis Gizi Klinis itu dinukil laman Viva.

“Luka bakar itu sangat sensitif, sebaiknya jangan digunakan secara topikal untuk luka bakar, malah jika kotor bisa membuatnya memburuk," tambahnya.

Dr Marya kembali menekankan hingga kini belum ada inovasi lanjutan pun belum ada yang menciptakan keluak menjadi sesuatu yang aman digunakan. “Antiseptik dan antibakteri itu kan sifatnya harus aman dan harus steril," imbuhnya.

Ia berpesan agar masyarakat tetap berhati-hati soal pemanfaatan keluak secara langsung sebagai penyembuh alternatif.

Pengawet alami

Alih-alih sebagai obat, fungsi terpenting keluak mungkin lebih tampak sebagai pengawet alami. Khususnya pada ikan, para nelayan tradisional sejak lama mempraktikkan hal itu.

Penelitian Mamuju pada 2017 turut melengkapi beberapa studi sebelumya telah membuktikan efektivitas keluak sebagai pengawet ikan.

Mamuju dan tim menemukan ekstrak keluak dengan konsentrasi delapan persen menggunakan air suling bisa menghambat pertumbuhan mikrob pada bakso ikan selama tiga hari.

Namun, ia tak memungkiri rasa bakso ikan sebelum diawetkan tetap lebih enak dibanding setelah diawetkan pada hari-hari berikutnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR