TEMUAN ARKEOLOGI

Nama hiu purba ini terinspirasi judul gim

Ilustrasi rupa hiu Galagadon nordquistae
Ilustrasi rupa hiu Galagadon nordquistae | Velizar Simeonovski /Chicago Field Museum

Seperti dinosaurus pada Era Mesozoikum, hiu juga makhluk yang bertahan hidup sejak lama. Kini ditemukan hiu purba Galagadon nordquistae. Namanya terinspirasi gim dari Jepang.

Dari semua makhluk yang berkeliaran di Bumi saat ini, hiu adalah satu dari sedikit yang tetap tidak berubah selama puluhan juta tahun. Catatan fosil mereka membentang sekitar 400 juta tahun, dan termasuk spesies kuno yang unik dan familier.

Spesies hiu purba ini sempat berenang di samudra bersama dinosaurus populer Tyrannosaurus rex.

Terry Gates, pemimpin penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Paleontology, pun memberi hiu air tawar ini nama depan Galaga. Sebab, giginya yang berbentuk segitiga menyerupai bentuk kapal perang di gim Galaga.

Galaga adalah gim arcade Jepang yang awalnya dirilis pada 1981. Pemainnya harus mengendalikan pesawat ruang angkasa.

Nordquistae, kata kedua dalam nama hiu ini adalah bentuk penghormatan kepada Karen Nordquist. Nordquist adalah pensiunan ahli kimia dan sukarelawan di Chicago Field Museum, Amerika Serikat yang membantu menemukan fosil itu.

Tidak seperti sepupu raksasanya, megalodon yang berukuran lebih dari 18 meter, Galagadon nordquistae terbilang mini, karena hanya memiliki panjang tubuh sekitar 30 hingga 45cm. Selain itu spesiesnya terkait dengan spesies hiu karpet modern. Masuk ke dalam keluarga hiu besar yang disebut Orectolobidae.

Kini ia sudah punah. Tapi dahulu hiu G. nordquistae sempat berenang di sungai-sungai periode Cretaceous (145 juta tahun hingga 66 juta tahun yang lalu) yang sekarang bernama South Dakota, AS, dan fosilnya ditemukan di samping fosil T. rex paling terkenal di dunia.

"Semakin banyak kita menemukan tentang periode Cretaceous tepat sebelum dinosaurus non-burung punah, semakin fantastis dunia," kata Gates, yang juga merupakan dosen di North Carolina State University, AS.

"Mungkin tampak aneh untuk membayangkannya hari ini, tetapi sekitar 67 juta tahun yang lalu, kawasan yang sekarang bernama South Dakota ditutupi hutan, rawa, dan sungai berliku.”

Laut pedalaman yang dangkal memiliki serangkaian saluran air yang terhubung, dan khusus di Dakota saluran-saluran di sana cenderung berisi air tawar ketimbang air asin, atau semacam campuran di antaranya.

Dahulu area ini mungkin tempat pembiakan hulu untuk mamalia ikan, nenek moyang hiu karpet modern yang sekarang sebagian besar ditemukan di pulau-pulau di dan sekitar Indonesia.

"Hiu ini memiliki gigi yang baik untuk menangkap ikan kecil atau menghancurkan siput dan lobster air tawar," kata Gates.

Para peneliti telah melalui jalan panjang sampai mengungkap temuan tersebut. Semua bermula dari penggalian fosil dinosaurus T. rex yang hampir lengkap, yang dikenal sebagai "Sue" pada tahun 1990.

Gigi mungil dengan masing-masing berukuran kurang dari satu milimeter, ditemukan di endapan yang ditinggalkan ketika ahli paleontologi di Field Museum of Natural History menemukan tulang Sue.

Ketika tulang tyrannosaurus itu dikeluarkan dari tanah, batu pembungkus, yang disebut matriks, ditinggalkan di sekitar tulang agar tetap aman sampai pekerjaan persiapan yang lebih rinci dapat dilakukan.

Chicago Field Museum, tempat tinggal Sue hari ini, menyimpan matriks untuk pengayakan dan pembelajaran di masa depan. Hampir tiga dekade kemudian, upaya-upaya itu menghasilkan temuan gigi kecil hiu G. nordquistae.

"Hiu ini hidup pada waktu yang sama dengan T. rex Sue, mereka adalah bagian dari dunia yang sama," kata Pete Makovicky, kurator dinosaurus museum dan salah satu penulis penelitian yang menggambarkan spesies baru tersebut. "Sebagian besar tubuhnya tidak terawetkan, karena kerangka hiu terbuat dari tulang rawan, tetapi kami dapat menemukan fosil gigi kecilnya."

Gates menyaring hampir dua ton tanah dengan bantuan seorang sukarelawan yaitu Karen Nordquist. Bersama-sama, pasangan itu menemukan lebih dari dua lusin gigi milik spesies hiu baru ini. "Sungguh mengherankan bagi saya bahwa kami dapat menemukan gigi hiu mikroskopis berada tepat di samping tulang-tulang predator terbesar sepanjang masa," kata Gates.

"Gigi-gigi ini seukuran butiran pasir. Tanpa mikroskop, Anda hanya akan membuangnya," katanya. Meskipun ukurannya kecil, Gates melihat penemuan hiu Galagadon sebagai tambahan penting pada pencatatan fosil.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR