NASA sebut kabut asap tahun ini bisa jadi yang terburuk

Pengendara melintas di Jalan Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Ahad(4/10). Asap kebakaran hutan Indonesia yang menyelimuti Asia Tenggara diperkirakan menjadi krisis polusi udara terburuk sepanjang sejarah.
Pengendara melintas di Jalan Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Ahad(4/10). Asap kebakaran hutan Indonesia yang menyelimuti Asia Tenggara diperkirakan menjadi krisis polusi udara terburuk sepanjang sejarah. | ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

Krisis kabut asap yang berasal dari wilayah Sumatra dan Kalimantan sekarang memasuki babak baru. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebutkan bencana kabut asap yang melanda sebagian Indonesia, Malaysia dan Singapura tahun ini bisa menjadi bencana kabut asap yang terparah sepanjang masa.

Palangkaraya, seperti diwartakan The Straits Times, menjadi kota terparah yang dilanda kabut asap akibat pembakaran lahan pada 4 Oktober 2015 saat Pollutant Standards Index (PSI) mencapai 1.949. Di Indonesia, angka PSI lebih dari 350 dianggap berbahaya. Butuh turun beberapa tingkat agar sekolah bisa dibuka kembali.

Ribuan tentara dan polisi sudah dikerahkan untuk memadamkan api di Kalimantan dan Sumatra yang membakar lahan gambut kering akibat kemarau berkepanjangan.

Kepolisian Indonesia juga sudah mennahan ratusan orang yang dicurigai sebagai pelaku pembakaran dan mulai memeriksa beberapa perusahaan perkebunan yang melakukan pembakaran untuk membuka lahan.

Sementara itu NASA teah memperingatkan terjadinya kemarau yang panjang dalam beberapa bulan ke depan artinya tingkat polusi udara di wilayah ini mungkin akan menembus rekor baru yang lebih buruk.

"Kondisi di Singapura dan Sumatra saat ini mirip dengan kejadian pada 1997," kata Dr Robert Field, seorang peneliti dari Columbia University yang bekerja di Goddard Institute for Space Studies kepada AFP.

"Jika terjadi kemarau yang semakin panjanng, artinya kabut asap 2015 bisa menjadi yang terburuk sepanjang masa," ujar Field.

Para ahli iklim telah memperkirakan bahwa kemarau akan terus menjadi tantangan paling besar dalam upaya memadamkan api. Dengan demikian kebakaran lahan gambut selama musim El Nino tahun ini akan terus terjadi.

Ahli cuaca yang berada di Palangkaranya, Roland Binery kepada The Straits Times mengatakan bahwa kabut asap di kota itu memburuk karena adanya api baru yang berada di Tumbang Nusa dan area Pulang Pisau.

"Angin yang berasal dari arah selatan membawa kabut asap ke arah Palangkaraya," kata Binery.

Herry Purnomo, ilmuwan asal Indonesia yang berbasis di Centre for International Forestry Research, kepada Tribunnews juga sependapat situasi saat ini serupa kejadian 1997.

"Saya yakin dampak kabut asap tahun ini sama buruknya dengan kejadian pada 1997, terutama dalam hal biaya," ujar Purnomo.

Global Fire Emissions Database seperti dilansir Channel News Asia memperkirakan sekitar 600 juta ton gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfer akibat kebakaran lahan dan hutan di Indonesia sepanjang 2015. Angka itu sama dengan jumlah gas rumah kaca yang dilepaskan oleh Jerman dalam setahun.

Belum membutuhkan bantuan Singapura

Sementara itu Kementrian Lingkungan dan Sumber Daya Air Singapura kembali menegaskan bahwa mereka menawarkan bantuan untuk memadamkan api, termasuk menyediakan pesawat untuk melakukan bom air dan melakukan operasi hujan buatan.

"Indonesia mengatakan mereka mempunyai cukup sumber daya untuk memadamkan kebakaran lahan dan tidak memerlukan bantuan yang ditawarkan Singapura saat ini," ujar pernyataan dari kementrian di Singapura.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR