Nenek moyang kura-kura dan kanker tulang tertua

Penafsiran kura-kura purba, nenek moyang kura-kura modern yang belum mengembangkan cangkang.
Penafsiran kura-kura purba, nenek moyang kura-kura modern yang belum mengembangkan cangkang. | Rainer Schoch

Bertentangan dengan apa yang diyakini, kanker ternyata bukanlah produk modern. Makhluk purba 240 juta tahun yang berkeliaran di Bumi pada era dinosaurus (Trias) baru saja didiagnosis menderita kanker tulang. Sebuah temuan yang mengejutkan komunitas medis.

Para peneliti yang bertanggung jawab atas penemuan ini menerbitkan pengamatannya dalam Journal of American Medical Association, Oncology. Mereka menggambarkan tulang paha yang terkena kanker menjadi bukti tertua dari penyakit yang ada di antara amniota (reptil, burung, dan mamalia yang bertelur di darat atau mempertahankan telur dibuahi di dalam ibu).

Kasus kanker tulang paling awal pada manusia ditemukan di tulang leluhur manusia purba yang meninggal di Afrika Selatan antara 1,6 dan 1,8 juta tahun yang lalu.

Karena sebagian besar kanker terlihat dalam pemeriksaan jaringan lunak dan biopsi, fosil jarang menunjukkan tanda-tanda penyakit. Karenanya ini adalah temuan penting bagi para peneliti yang telah mempelajari kanker dari perspektif sejarah.

Selama ini kanker dikenal sebagai penyakit yang kerap menjangkiti manusia di lingkungan berpolusi atau bergaya hidup tidak sehat.

"Studi memberikan bukti pertumbuhan sel neoplastik yang tidak diatur terjadi pada periode Trias dan bahwa kanker bukanlah kecacatan fisiologis modern, melainkan kerentanan yang kami rangkum jauh dalam sejarah evolusi vertebrata," kata Yara Haridy, ahli paleontologi dan peneliti di Museum für Naturkunde, Jerman, sekaligus rekan penulis.

Haridy pertama kali menemukan tanda yang mengarah ke kanker tulang, melalui pertumbuhan tulang paha yang bergerigi. Dia mengatakan paleopatologi mempelajari tanda-tanda yang ditinggalkan oleh penyakit dan cedera, yang dapat memberi tahu banyak tentang kehidupan hewan-hewan ini.

Fosil tulang paha atau femur Pappochelys rosinae itu ditemukan pada tahun 2008 dan diperkenalkan ke publik Jerman tahun 2015. Pada awalnya dikumpulkan oleh Rainer Schoch dari Stuttgart State Museum of Natural History.

Nenek moyang kura-kura ini memiliki tubuh seukuran anjing Chihuahua, berukuran panjang sekitar 20cm. Spesies tersebut tidak memiliki exoskeleton (atau cangkang eksterior) melainkan tulang rusuk yang luas. Kemudian merujuk ke opini bahwa bagian itu adalah cikal bakal dari cangkang keras yang dimiliki kura-kura modern hari ini.

Tumor pada tulang paha kiri kura-kura tanpa cangkang ini mirip dengan kasus osteosarkoma periosteal pada manusia. Spesimen itu dipelajari di Museum für Naturkunde di Berlin menggunakan pemindaian mikro-CT.

Untuk mendiagnosis, para peneliti menggunakan mikroskop dan tomografi terkomputerisasi, sejenis sinar-X. Proses tersebut mengungkapkan massa di lapisan tulang yang disebut periosteum. Tim bekerja melalui proses eliminasi untuk sampai pada kesimpulan bahwa temuannya adalah kanker.

Para peneliti memeriksa setiap kemungkinan. Kelainan pada tulang dapat disalahartikan sebagai penyembuhan yang salah, tetapi mereka menemukan bahwa tulang tersebut tidak memiliki riwayat cedera.

Kemungkinan lain seperti kelainan bawaan turut dipertimbangkan. Tetapi anomali seperti itu akan hadir di kedua sisi tulang. Gesekan adalah salah satu penyebab kelainan bentuk tulang, tetapi dalam kasus ini, sepertinya tidak mungkin karena otot melindungi tulang paha di semua sisi.

Para peneliti juga mengesampingkan kemungkinan penyakit tulang. Tumor jinak umumnya terbentuk di tulang rawan dan terlihat sangat berbeda. Setelah mengesampingkan semua kemungkinan, tim itu memusatkan perhatian pada kanker tulang, yang sejenisnya ditemukan pada manusia.

Temuan mengejutkan tersebut telah membantu para peneliti memahami fakta yang sebelumnya disalahpahami tentang kanker.

Haridy mengatakan penemuan itu sangat penting. Kehadiran tumor kanker pada tulang hewan prasejarah menunjukkan kanker bukanlah sesuatu yang terjadi baru-baru ini sebagai akibat dari evolusi manusia.

Bukan ini saja, makhluk prasejarah memang bisa terkena kanker. Pada tahun 2003 misalnya, para peneliti menemukan 29 tumor di tulang hadrosaurs, sejenis dinosaurus "berparuh bebek". Studi lain mengidentifikasi kemungkinan osteosarkoma di tulang tengkorak amfibi Trias. Hanya saja, kasus Pappochelys adalah contoh paling awal yang diketahui.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR