LINGKUNGAN HIDUP

Orang Indonesia masih butuh edukasi soal sampah plastik

Ilustrasi sampah sedotan yang kerap diremehkan
Ilustrasi sampah sedotan yang kerap diremehkan | Daisy Daisy /Shutterstock

Ada satu juta botol plastik dibeli setiap menit, 50 persen plastik diperuntukkan bagi penggunaan sekali pakai, 8 juta ton plastik berakhir di lautan, dan 10 persen dari semua sampah dunia adalah plastik.

Fakta-fakta tersebut merupakan bukti perusakan alam oleh manusia, seperti yang diungkapkan di situs World Environment Day.

Meski fakta di atas dilihat secara global, bukan berarti negara kita bebas dari beban tanggung jawab akan sampah plastik. Buktinya Indonesia merupakan negara penghasil sampah nomor dua terbesar di dunia.

Menurut data yang diperoleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dalam satu dekade terakhir sampah plastik meningkat dari sebelumnya 11 persen menjadi 16 persen. Pada tahun 2050 komposisi sampah plastik di Indonesia diprediksi bisa mencapai 40 persen jika tidak ada pergerakan untuk mengubah perilaku.

Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, mengatakan bahwa lima bentuk sampah plastik di indonesia adalah kantong--yang menjadi bentuk paling banyak, dilanjutkan sedotan, kemudian kotak makan (styrofoam), botol, dan saset.

“Khusus kantong, sedotan, dan styrofoam, sebenarnya bisa tidak digunakan lagi,” kata Novrizal dalam talkshow No Straw Movement di Jakarta Convention Center, Jumat (20/7).

Novrizal mengatakan, “Mereka bukanlah benda wajib, dulu tidak ada tapi kita bisa baik-baik saja melakukan aktivitas makan, namun kini seakan mereka menjadi benda wajib untuk digunakan.”

Semakin banyak orang yang menggunakannya, semakin menggunung pula sampah yang dihasilkan. Lebih parahnya, umumnya ketiga jenis benda plastik tersebut hanya berumur sekali pakai saja.

Pembicara (Kiri-Kanan): Swietenia Puspa Lestari Ketua Divers Clean Action, Novrizal Tahar Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Madhina Suryadi Putri Selam Indonesia 2017, Hendra Yuniarto GM Marketing KFC, Fransisca Pranadhi Marketing Manager Koi Restaurants, dan Wynda Mardio Founder Steak Hotel by Holycow saat acara Talkshow No Straw Movement, Jumat (20/7).
Pembicara (Kiri-Kanan): Swietenia Puspa Lestari Ketua Divers Clean Action, Novrizal Tahar Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Madhina Suryadi Putri Selam Indonesia 2017, Hendra Yuniarto GM Marketing KFC, Fransisca Pranadhi Marketing Manager Koi Restaurants, dan Wynda Mardio Founder Steak Hotel by Holycow saat acara Talkshow No Straw Movement, Jumat (20/7). | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Lebih lanjut Novrizal mengatakan, penyelesaian masalah sampah plastik ini seharusnya tidak hanya berfokus di bagian hilir. Hulu juga tidak kalah penting.

“Sebelum sampah itu tercipta, kita sudah harus memikirkannya, misal untuk menghindari terciptanya sampah kita bisa menggunakan tumbler untuk menghindari penggunaan botol plastik, dan menggunakan sedotan yang bisa dipakai kembali," ujarnya.

Pendapat tersebut diamini Madhina Suryadi, perempuan muda bergelar Putri Selam Indonesia 2017. Sebagai sosok yang peduli lingkungan laut, Madhina sedih jika tidak dapat melakukan apa-apa selagi sampah terus berdatangan mengotori laut. “Karena itu aku berusaha untuk bersih-bersih selagi aku diving,” imbuh Madhi.

Melanjutkan untuk mengajak lebih banyak orang untuk hidup lebih “hijau”, Madhi kerap membuka paket wisata edukasi. Sembari bersenang-senang menikmati keindahan bawah laut, Madhi ingin mengajak para peserta untuk lebih peduli akan sampah.

“Contohnya sehabis kita menyelam kan baju kita basah, kantong plastik mungkin menjadi solusi paling mudah, tapi sebenarnya kita bisa menggunakan dry bag,” katanya. “Kita bisa kok mulai dari hal kecil, dan lebih berpikir jangka panjang atas dampak yang akan kita lakukan.”

Dampak buruk plastik juga sudah sampai ke telinga pengusaha restoran. Tidak bisa dimungkiri, restoran adalah penghasil sampah dalam jumlah besar. Oleh sebab itu kini ada sejumlah restoran yang menerapkan pengurangan hingga menghentikan penggunaan sedotan, sampah plastik yang luar biasa banyak namun kerap diremehkan.

KFC sudah memulai kampanye tanpa sedotan. Sejak 2017, resto ayam goreng dari Amerika ini menghilangkan dispenser sedotan di enam gerai. Pelanggan yang membutuhkan harus memintanya ke kasir.

Sebagai gambaran, KFC Indonesia menghabiskan 10 sampai 12 juta sedotan tiap bulannya. Pihak KFC mengklaim, usaha mereka tahun lalu berhasil mengurangi penggunaan sedotan hingga 28 persen.

Meski begitu, KFC mendapati kenaikan keluhan pelanggan hingga 50 persen. “Banyak keluhan yang masuk seperti marah karena tidak dikasih sedotan, hingga menuduh kami melakukan penghematan semata,” kata Hendra Yuniarto GM Marketing KFC Indonesia. “Padahal pengurangan konsumsi sedotan hanya berkontribusi kecil ke pengeluaran kami.”

Meski demikian itu adalah risiko yang mereka harus hadapi. Awal 2018 mereka telah menetapkan kebijakan tersebut di seluruh gerai mereka di Indonesia yang berjumlah 648 gerai.

Steak Hotel by Holycow juga ikut berpartisipasi dalam program mengurangi plastik. Restoran bagi pencinta daging ini juga membebaskan sedotan dalam penyajian minuman mulai Maret 2018. Meski baru sebentar namun dampaknya sudah mencapai 50 persen pengurangan penggunaan.

Meski demikian butuh mental yang kuat dan usaha yang tinggi dalam menerapkannya. “Tidak sedikit pelanggan kami yang marah-marah mengatakan bahwa kami pelit, ‘masa sedotan aja gak nyediain’, dan lainnya,” kata Wynda Mardio, Founder Steak Hotel By Holycow.

Wynda menuturkan edukasi bagi pelanggan masih perlu dilakukan. Hanya saja praktiknya jangan sampai terkesan menggurui. Sebagai konsumen bijak, orang perlu memahami bahwa perubahan perilaku merupakan kunci. Kita harus bisa bertanggung jawab akan apa yang kita buang ke alam.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR