KESEHATAN PEREMPUAN

Ovarium buatan memungkinkan pasien kanker punya anak

Ilustrasi kehamilan
Ilustrasi kehamilan | Pixabay

Tim peneliti dari Laboratory of Reproductive Biology di Rumah Sakit Rigshospitalet, Kopenhagen, Denmark, telah berhasil membuat indung telur (ovarium) buatan. Ini digunakan untuk membantu perempuan menjalani perawatan yang berisiko besar untuk kesuburan, seperti kemoterapi.

Ovarium menghasilkan telur, sementara sejumlah perawatan kanker merusak indung telur. Pada akhirnya ini dapat menyebabkan kemandulan.

Jadi, ovarium buatan ini dapat membantu kaum perempuan mengobati kanker tanpa harus khawatir kehilangan kemampuan untuk memiliki anak secara biologis.

Ovarium buatan yang ditanamkan juga dapat membantu perempuan dengan kondisi seperti multiple sclerosis dan gangguan darah beta thalasemia. Keduanya kerap memerlukan terapi agresif berujung pada risiko kemandulan.

Selain itu juga juga bagi pasien yang mengalami menopause dini. Temuan ini diyakini bisa menjadi cara untuk membantu mereka yang punya riwayat keluarga, kecenderungan genetik untuk memasuki masa menopause lebih dulu.

Perempuan yang menghadapi diagnosis kanker bisa jadi sudah memiliki jaringan indung telur yang diangkat dan dibekukan sebelum mereka menjalani perawatan yang mengganggu kesuburan. Ketika sudah bersih, jaringan tersebut dikembalikan pada tempatnya dan perempuan tersebut dapat kembali memiliki anak secara alami.

Bagi kebanyakan pasien prosedurnya aman, tetapi untuk jenis kanker tertentu, seperti ovarium atau leukemia, prosedur itu dapat menyerang jaringan ovarium.

Ini berarti bahwa ketika jaringan beku dicairkan dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh, ada risiko penyakit akan kembali muncul. Untuk alasan ini, pembekuan jaringan ovarium jarang ditawarkan kepada pasien berisiko tinggi.

Temuan penelitian baru oleh para ilmuwan University of Sussex ini diungkapkan melalui makalah penelitian yang dirilis saat acara pertemuan tahunan. Diselenggarakan European Society of Human Reproduction and Embryology, acara tersebut memberikan rincian lebih lanjut tentang cara yang diikuti oleh para ilmuwan terkait untuk menciptakan ovarium buatan.

Eksperimen mereka menggunakan jaringan indung telur yang diambil dari perempuan yang mencoba mempertahankan kesuburan mereka sebelum menjalani perawatan kanker.

Sel-sel dari jaringan dibersihkan menggunakan bahan kimia, meninggalkan “rangka rekayasa bio” di mana folikel-folikel--bahan atau senyawa yang menjadi pembentuk bahan atau senyawa lain sel telur--yang mengandung telur pada tahap awal disemai kembali.

Dalam tubuh perempuan, masing-masing folikel ovarium berisi satu telur yang matang selama siklus menstruasi.

Eksperimen yang dilakukan dengan tranpslantasi struktur pada tikus menunjukkan, usaha itu dapat mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan folikel.

Tim peneliti menanamkan ovarium buatan yang mengandung 20 folikel manusia ke dalam tikus. Mereka kemudian menemukan bahwa seperempat dari folikel-folikel tersebut bertahan hidup setidaknya selama tiga minggu. Pada saat itu, pembuluh darah mulai tumbuh di sekitar ovarium untuk mempertahankannya tetap ternutrisi di dalam tubuh hewan.

“Ini adalah bukti pertama bahwa kita benar-benar dapat mempertahankan sel telur, langkah penting dalam perjalanan riset,” kata Susanne Pors yang terlibat dalam penelitian kepada The Guardian (1/7).

Namun, kata Pors, bisa makan waktu lima hingga 10 tahun pengerjaan sebelum ovarium buatan siap untuk diuji cobakan pada perempuan.

Ilmuwan lain yang tidak terlibat dalam penelitian ini telah menyatakan kesangsian mereka tentang apakah ovarium eksperimental akan berhasil atau tidak. Tetapi jika berhasil, ovarium buatan dapat membantu memperpanjang kesuburan pasien kanker perempuan muda yang tidak ingin kehilangan harapan memiliki anak biologis.

Nick Macklon, direktur medis di London Women's Clinic di Inggris mengatakan bahwa meski ada risiko rendah tertular kanker dari jaringan ovarium beku, namun hal itu adalah sebuah masalah yang harus diperhatikan para dokter.

"Ada kanker tertentu yang tidak dapat diatasi menggunakan prosedur ini karena kekhawatiran tersebut," katanya. “Ini perkembangan yang menarik. Merupakan awal untuk sebuah hal baru tetapi menjadi bukti konsep yang sangat menarik. ”

Stuart Lavery, seorang konsultan ginekolog di Hammersmith Hospital menambahkan, "Jika usaha ini terbukti efektif, maka akan menawarkan kemajuan besar atas proses bayi tabung (IVF) dan pembekuan telur."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR