POLUSI UDARA

Paparan polusi udara memicu kanker payudara

Ilustrasi gerbang tol.
Ilustrasi gerbang tol. | Grisha Bruev /Shutterstock

Perempuan yang bekerja di gerbang tol dan perlintasan perbatasan punya risiko lebih tinggi terkena kanker payudara. Polusi adalah biang keladinya.

Demikian temuan terbaru dari peneliti di University of Stirling di Skotlandia. Penelitian ini berfokus pada dua kelompok perempuan yang bekerja di dekat penyeberangan perbatasan Amerika Serikat (AS)-Kanada nan sibuk. Semuanya menderita kanker payudara tak seberapa lama setelah bekerja di sana.

Daily Mail melaporkan, enam perempuan pekerja di jembatan yang sama dekat perbatasan Ontario-Detroit AS semuanya didiagnosis menderita kanker payudara dalam waktu tiga tahun.

Sekitar 6,4 kilometer dari situ, kelompok lain yang terdiri dari tujuh perempuan juga menderita kanker payudara. Mereka didiagnosis pada waktu hampir bersamaan.

Studi ini diterbitkan dalam jurnal New Solutions. Hasilnya menunjukkan, paparan terhadap polusi lalu-lintas meningkatkan risiko kanker payudara secara signifikan.

"Wabah kanker payudara ini merupakan penyakit kerja baru," kata Michael Gilbertson peneliti utama riset ini.

Menurut penelitian, hanya ada satu dari 10 ribu kemungkinan bahwa waktu diagnosis kasus kanker payudara antara kedua kelompok perempuan tersebut hanyalah suatu kebetulan.

Para peneliti mengungkap betapa tempat para perempuan ini bekerja di gerbang tol dan perbatasan meningkatkan risiko kanker payudara hingga 16 kali.

Salah satu perempuan telah bekerja di Ambassador Bridge, penghubung utama antara Michigan dan Ontario selama 20 tahun. Para peneliti menghitung sepanjang waktu itu dia terpapar asap lalu lintas dari 46,8 juta kendaraan.

Setiap hari hampir 30 ribu mobil dan truk melintasi Ambassador Bridge. Penelitian sebelumnya telah menemukan, polusi dan asap lalu lintas bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan pernapasan serta beberapa jenis kanker.

Studi terbaru ini menyajikan korelasi kuat antara kanker payudara dan asap kendaraan yang menurut para peneliti menghambat gen BRCA1 dan BRCA2. Keduanya dikenal berfungsi mencegah kanker payudara, dengan menghentikan pertumbuhan tumor.

Sekitar satu dari 400 perempuan mewarisi mutasi BRCA. Ini menjadikan mereka punya risiko kanker payudara yang jauh lebih tinggi.

Aktris Angelina Jolie adalah salah satunya. Sebagai upaya preventif akhirnya ia melakoni prosedur mastektomi ganda.

Bagaimanapun peneliti menjelaskan, bahan kimia dalam polusi lalu-lintas bisa mematikan gen BRCA1 dan 2 dengan cara yang sama.

Dioksin, hidrokarbon polisiklik aromatik dan aldehida--semuanya ditemukan dalam asap buangan--diyakini dapat menghentikan kerja gen BRCA1 dan 2.

Penelitian sebelumnya telah mengonfirmasi hal ini. Dan lagi, perempuan dalam penelitian ini tidak memiliki gen BRCA yang berfungsi tetapi tidak mewarisi cacat.

Semua kanker pada perempuan dalam penelitian ini terjadi sejak dini. Sekitar setengah dari kasus yang ada dialami pada perempuan berusia di atas 65 tahun, pada masa pra-menopause, serta termasuk kanker berulang.

"Sekarang kami memiliki mekanisme yang masuk akal untuk menyimpulkan bagaimana penekan tumor BRCA1 dan 2 pada penjaga perbatasan yang sangat terbuka ini menjadi disfungsional dan kemungkinan berkontribusi pada epidemi berkelanjutan kanker payudara pramenopause di antara rekan-rekan kerjanya," pungkas Gilbertson.

Bukan hanya soal polusi, para pekerja di gerbang tol dan perbatasan juga harus menghadapi kenyataan buruk efek dari kerja sif.

Riset terdahulu pernah menunjukkan mereka yang secara konstan terpapar sinar matahari punya kemungkinan menderita tumor 60 persen lebih besar. Tumor itu pun tumbuh 36 persen lebih cepat.

Gilbertson mengakui, masih diperlukan banyak penelitian. Namun, hasil yang diperoleh saat ini ia dan timnya berharap industri dan pemerintah bisa menggarap sistem baru untuk mengurangi paparan pekerja terhadap polusi udara yang berhubungan dengan lalu-lintas.

BACA JUGA