PENCEMARAN LINGKUNGAN

Paus pilot mati di Thailand karena telan sampah plastik

Tim Biologis Kelautan Thailand menyelamatkan seekor paus pilot bersirip pendek yang sakit dan tidak dapat bergerak di kanal di provinsi Songkhla, Thailand selatan, 30 Mei 2018.
Tim Biologis Kelautan Thailand menyelamatkan seekor paus pilot bersirip pendek yang sakit dan tidak dapat bergerak di kanal di provinsi Songkhla, Thailand selatan, 30 Mei 2018. | STR /EPA-EFE

Pekan lalu, Senin (28/5/2018), seekor paus pilot jantan kecil bersirip pendek (Globicephala macrorhynchus) ditemukan tidak dapat berenang dan kesulitan bernapas di sebuah di Songkhla, Thailand, dekat perbatasan Malaysia. Hewan tersebut langsung mendapat perawatan intensif dari tim dokter hewan.

National Geographic (4/6) mengabarkan bahwa tim penyelamat dari Departemen Sumber Daya Laut dan Pesisir Thailand berjuang selama lima hari untuk menyelamatkan hewan itu dengan menggelar pelampung agar tetap mengapung dan menutupnya dengan payung agar kulitnya tidak terbakar sinar matahari.

Namun nyawanya tak tertolong dan paus itu mati pada Jumat (1/6).

Sebelum meregang nyawa, paus tersebut sempat memuntahkan lima kantung plastik dari dalam perutnya. Setelah ditelusuri lebih lanjut, hasil nekropsi (autopsi untuk hewan) mengungkapkan, hampir 8 kilogram plastik dan sampah-sampah lainnya menyumbat bagian dalam perut paus tersebut.

"Sampah plastik ini membuat paus pilot itu sakit dan tidak bisa berburu makanan," kata departemen itu. Inilah yang menjadi alasan hewan mamalia ini tidak bisa mencerna makanan bergizi.

Kepala departemen, Jatuporn Buruspat mengatakan pada Reuters, paus itu mungkin mengira kantong plastik mengambang itu adalah makanan.

Padahal menurut kelompok pelestarian paus (American Cetacean Society), paus biasanya hanya makan cumi-cumi, gurita, dan ikan kecil. Akibat plastik ini, Ratusan kura-kura, lumba-lumba, dan paus terdampar setiap tahunnya di pantai-pantai Thailand.

Jatuporn mengatakan bahwa departemennya berencana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah tersebut pada Hari Lautan Sedunia (World Ocean Day) yang akan berlangsung pada 8 Juni.

"Kami akan menggunakan kasus paus ini dan mengundang semua sektor untuk menunjukkan niat mereka tentang cara mengurangi penggunaan plastik di Thailand," katanya.

Penduduk Thailand memang menggunakan tas plastik dalam jumlah besar namun pihak berwenang telah mengadakan kampanye untuk mendorong orang agar menggunakan lebih sedikit plastik dan memperkenalkan plastik atau tas yang dapat didaur ulang.

Direktur Eksekutif Konservasi Paus dan Lumba-lumba untuk Amerika Utara, Regina Asmutis-Silvia mengatakan bahwa kasus ini adalah simbol dari masalah yang lebih besar dibanding plastik yang mencemari lautan.

"Kami tidak tahu berapa banyak hewan yang mengalami masalah ini," kata Asmutis-Silvia. "Ini adalah salah satu paus pilot, tak terkecuali spesies lain. Itu simbolis, tetapi itu simbol dari masalah yang sangat signifikan," ujarnya.

Paus pilot sebenarnya bukan satu-satunya korban polusi laut. Pada hari Jumat (25/5), seekor anak anjing laut harpa (Pagophilus groenlandicus) berusia delapan bulan juga ditemukan mati di sekitar pulau Skye, Skotlandia.

Penemuan anjing laut tersebut tidak biasa. Pasalnya, anjing laut harpa hidup di Arktika dan biasanya hanya bermigrasi hingga Laut Putih, Laut Greenland, dan Laut Newfoundland.

Menemukan anak anjing laut harpa di lokasi selatan Skotlandia sangatlah langka, ujar dokter hewan Andrew Brownlow dari Scottish Marine Animal Stranding Scheme (SMASS). Dia menduga anjing laut tersebut datang ke Skotlandia karena mengikuti mangsa atau anjing laut lain, atau ia sekadar tersesat.

Namun, kejutan bagi Brownlow tidak berhenti sampai di sana. Ketika dilakukan nekropsi, mereka menemukan potongan plastik kusut berukuran sekitar 12 sentimeter persegi di dalam perut anak anjing laut.

Mereka juga menemukan luka-luka kecil di dalam perut yang menandakan bahwa plastik telah berada di sana untuk kurun waktu yang cukup lama dan mungkin memblokir sfingter pilorik (otot antara lambung dan usus kecil).

Padahal, sfingter pilorik merupakan muara perut menuju ke usus. Hal ini membuat anak anjing laut kesulitan untuk mengosongkan perutnya sehingga ususnya membengkak. Potongan plastik juga ditemukan telah merusak jaringan perut dan membuat bakteri masuk ke dalam aliran darah.

Kemudian pada bulan April, seekor paus sperma jantan muda setinggi 33 kaki juga ditemukan mati di lepas pantai Spanyol akibat menelan lebih dari 29 kilogram plastik yang terdiri dari kantung sampah, karung polypropylene, tali, segmen bersih dan drum. Semuanya itu bersarang di perut dan ususnya.

Pihak berwenang setempat mengatakan pada Washington Post, hewan itu mati karena peradangan pada lapisan perut atau yang biasa disebut dengan peritonitis. Jumlah sampah manusia dalam sistem perutnya telah menjadi sangat besar sehingga paus tidak dapat mengeluarkan sampah dari sistem pencernaannya.

Di seluruh dunia, menurut Program Lingkungan Hidup PBB, sebanyak 8 juta ton sampah plastik (hampir 80 persen) berakhir di lautan setiap tahunnya. Time menukil, 1,8 triliun keping sampah di Samudra Pasifik yang dikenal sebagai Great Pacific Garbage Patch bisa berjumlah 16 kali lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya.

Sebuah studi terpisah yang pernah dipublikasikan di jurnal Science menemukan ada enam negara penghasil sampah plastik terbanyak di dunia pada tahun 2010 dan semuanya itu berada di wilayah Asia Pasifik. Tiongkok menempati urutan teratas, diikuti oleh Indonesia, Filipina, Vietnam, Sri Lanka, dan Thailand.

Sampah plastik sudah jadi tantangan lingkungan terbesar yang dihadapi dunia. Forbes menyebutkan di Amerika Serikat terdapat sekitar 33,6 juta ton sampah plastik dan hanya sekitar 9,5 persen saja yang didaur ulang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR