Pedoman baru WHO tentang volume musik di ponsel

Mendengarkan musik melalui headphone dari ponsel merupakan kebiasaan yang sering dilakukan kaum milenial.
Mendengarkan musik melalui headphone dari ponsel merupakan kebiasaan yang sering dilakukan kaum milenial. | stock_shot /Shutterstock

Lebih dari satu miliar anak muda usia 12 hingga 35 tahun berisiko kehilangan pendengaran permanen atas paparan suara keras seperti musik yang diputar di ponsel--melalui peranti headphone.

Pernyataan ini datang dari pakar kesehatan PBB ketika mereka meluncurkan pedoman baru atas menikmati lantunan lagu namun dalam batasan aman.

Pedoman itu diberikan untuk mencegah ketulian dan gangguan pendengaran seperti tinnitus--dengingan di telinga. Selain itu, juga menyasar fungsi pada perangkat audio pribadi yang memantau seberapa keras dan berapa lama sebaiknya orang mendengarkan musik.

"Lebih dari satu miliar anak muda berisiko kehilangan pendengaran hanya karena melakukan aktivitas yang mereka sukai, yaitu mendengarkan musik secara teratur melalui headphone di gawainya," kata Shelly Chadha, Technical Officer, Prevention of Deafness and Hearing Loss di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dia menambahkan, “Saat ini, kita tidak benar-benar memiliki sesuatu yang pasti selain naluri untuk memberi tahu apakah kita melakukan aktivitas ini dengan benar atau apakah ini sesuatu yang akan menyebabkan tinnitus dan gangguan pendengaran dalam beberapa tahun ke depan.”

WHO mendesak produsen gawai dan regulator untuk memastikan gawai ponsel dan pemutar audio lainnya memiliki fitur yang dapat memastikan pengguna tidak terlalu lama mendengarkan musik, serta volume yang terlalu keras.

"Apa yang kami usulkan adalah fitur-fitur tertentu seperti pengurangan volume otomatis dan kontrol orang tua terhadap volume sehingga ketika seseorang melampaui batas, mereka memiliki opsi bahwa gawai akan secara otomatis mengurangi volume ke tingkat yang tidak akan membahayakan telinga," kata Chadha.

"Upaya kami melalui standar ini adalah untuk benar-benar memberdayakan pengguna membuat pilihan mendengarkan yang tepat atau mengambil risiko mengembangkan gangguan pendengaran dan tinnitus beberapa tahun ke depan.”

Uni Eropa adalah satu-satunya bagian dunia yang mengamanatkan tingkat keluaran suara pada perangkat audio pribadi. WHO menganggap volume di atas 85 desibel selama delapan jam atau 100 desibel selama 15 menit tidak aman.

WHO juga melihat tingkat volume di tempat-tempat seperti klub malam dan arena olahraga. Lokasi-lokasi ini memiliki sejumlah pedoman tetapi mereka tidak diimplementasikan secara luas, ujar Chadha.

"Apa yang kami kerjakan saat ini di WHO adalah mengembangkan kerangka peraturan mengenai tempat-tempat yang berbeda--yang bisa berupa restoran, bar, konser, bahkan bisa juga kelas kebugaran yang sering memainkan suara pada tingkat yang sangat tinggi dan paparan yang lama."

William Shapiro, profesor rekanan klinis di New York University Langone, AS, awal tahun lalu telah menjelaskan bahwa gangguan pendengaran terkait headphone dimulai ketika aktivitas itu merusak sel-sel rambut telinga bagian dalam.

Di setiap telinga, struktur telinga bagian dalam yang disebut koklea--yang menerima suara dalam bentuk getaran--memiliki 15.000 rambut. Sel-sel rambut yang kecil dan sensorik ini sangat penting untuk membantu kita mendeteksi gelombang suara, tetapi sangat rapuh. Sel-sel rambut tidak beregenerasi sehingga kerusakan padanya akan bersifat permanen.

"Jika Anda menggunakan earbud (headphone), aturan yang baik adalah 60 persen volume tidak lebih dari 60 menit sehari," katanya.

Dia juga merekomendasikan menggunakan headphone peredam bising. “Banyak orang akan menaikkan volume karena mereka tidak ingin mendengar suara dari luar.” Menggunakan headphone peredam bising akan mengurangi gangguan suara luar, sehingga memungkinkan kita untuk mengurangi volume suara yang kita dengarkan.

"Jadi, sangat penting untuk menjaga suara tetap rendah."

Menurut WHO, lebih dari satu dari 20 orang--432 juta orang dewasa dan 34 juta anak-anak--mengalami gangguan pendengaran yang berdampak pada kualitas hidup mereka. Hari ini, gangguan pendengaran yang tidak ditangani diperkirakan akan menelan biaya ekonomi global $ 750 juta (Rp 10,6 triliun) menurut WHO.

PBB mencatat sebagian besar penderita tinggal di negara-negara miskin dan berpenghasilan menengah. Sudah 466 juta orang di seluruh dunia mengalami kehilangan pendengaran yang melemahkan, naik dari 360 juta pada 2010. WHO memprediksi angka itu diperkirakan hampir dua kali lipat menjadi 900 juta, atau satu dari setiap 10 orang pada tahun 2050.

WHO mengatakan bahwa sekitar setengah dari semua kasus gangguan pendengaran dapat dicegah melalui tindakan kesehatan publik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR