PELESTARIAN LINGKUNGAN

Pemain besar dunia fesyen berkomitmen untuk lebih hijau

Ilustrasi pakaian ramah lingkungan
Ilustrasi pakaian ramah lingkungan | petrmalinak /Shutterstock

Industri fesyen cepat (fast fashion) disebut Nature Climate Change sebagai pencemar paling banyak kedua di dunia, setelah industri minyak. Menyadari hal itu, beberapa pelaku besar industri tersebut berjanji segera berbenah diri.

Apalagi pada 2018 ini saja fasyen cepat diperkirakan mengalami peningkatan penjualan hingga tiga kali lipat dibandingkan 2016, seperti yang dinyatakan laporan State of Fashion 2018 (fail PDF) dirilis oleh McKinsey & Company.

Fesyen cepat dapat didefinisikan sebagai pakaian murah dan trendi, yang mengambil contoh ide dari peragaan busana atau budaya selebriti dan mengubahnya menjadi pakaian yang bisa dijual cepat di toko-toko.

Para pengusaha sektor ini menyatakan bakal lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan berkelanjutan dibandingkan 2017, tetapi dampak ekologis dan terutama jejak karbon dari sektor ini tetap menjadi perhatian.

Pada konferensi iklim PBB atau COP24 di Polandia pekan lalu, sektor fesyen global meluncurkan piagam industri (fail PDF) yang bertujuan untuk mengatasi dampak iklim sektor fesyen di seluruh rantai pasokannya.

Piagam ini mengakui peran industri fesyen sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca dan sebagai sektor dengan peluang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, sekaligus berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.

Penanda tangan piagam baru termasuk jenama seperti Puma dan H&M, yang keduanya memimpin kelompok kerja atas inisiatif baru. Turut serta pula Adidas, Burberry, Esprit, Gap, dan Hugo Boss.

CEO Puma Bjorn Gulden mengatakan, "Kami menyadari bahwa lebih dari 90 persen jejak karbon Puma dihasilkan dalam rantai pasokan bersama. Jika kami ingin mengurangi emisi karbon dalam rantai pasokan, kami perlu bekerja sama dengan rekan-rekan industri."

Seperti yang dilaporkan oleh Ecotextile News (24/10), perusahaan-perusahaan ini sekarang telah menetapkan target awal untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen pada tahun 2030.

Mereka juga berjanji untuk menghentikan secara bertahap alat perebus berbahan bakar batu bara atau alat lain dari pembangkit listrik tenaga panas dan pembangkit listrik tenaga batu bara dalam bisnisnya dan pemasok langsung mulai 2025.

Selain secara signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca, para penanda tangan piagam juga berkomitmen untuk menggunakan bahan ramah lingkungan, serta mengukur, melacak, dan melaporkan emisi yang mereka hasilkan kepada publik.

Para produsen besar juga akan bermitra dengan para ahli, bisnis, investor, dan pihak lain agar sejalan dengan jalur dekarbonisasi untuk industri fesyen keseluruhan.

Mereka akan bekerja dengan pembuat kebijakan dan komunitas keuangan untuk mencari solusi terukur untuk mengurangi emisi di seluruh sektor ini. Serta berjanji untuk bersama-sama menciptakan dialog dengan pemerintah di negara-negara besar guna mengembangkan dan memungkinkan perubahan kebijakan.

"Industri fesyen selalu dua langkah ke depan ketika datang untuk mendefinisikan budaya dunia, jadi saya senang melihatnya sekarang juga memimpin dalam hal tindakan iklim," UN Climate Change Executive Secretary, Patricia Espinosa. “Piagam ini, seperti landasan mode terkenal di dunia, memberikan contoh yang saya harap orang lain akan ikuti.”

Pencemar kedua terbesar

Total emisi gas rumah kaca dari produksi tekstil saat ini mencapai 1,2 miliar ton per tahun--sebanding emisi mobil penumpang yang bergerak lebih dari 400 juta km--menurut kalkulator ekuivalensi dari badan perlindungan lingkungan Amerika Serikat.

Angka itu lebih banyak daripada emisi yang dihasilkan semua penerbangan internasional dan gabungan pengiriman maritim, kata jurnal Nature Climate Change.

Emisi tersebut diperkirakan bakal terus meningkat, seiring dengan meningkatnya konsumsi pakaian oleh kelas menengah di negara-negara seperti Tiongkok dan India.

Diperkirakan bahwa industri fesyen bertanggung jawab atas 10 persen emisi karbon global dan, menurut UNFCCC, emisi sektor ini akan meningkat lebih dari 60 persen pada tahun 2030, jika transformasi menuju industri yang berkelanjutan gagal terwujud segera.

Sebuah studi oleh Deloitte (fail PDF) mengenai konsep fesyen cepat menemukan bahwa hampir setengah (49 persen) dari milenial AS yang disurvei mengatakan mereka akan mempertimbangkan keberlanjutan dan etika sebelum pembelian pakaian, diikuti oleh 38 persen dari milenial Tiongkok.

Tetapi jika konsumen melakukan pembelian secara etis pun, mereka mungkin tidak menyimpan pakaian untuk waktu yang lama. Misalnya, rata-rata masa pakai sebuah pakaian di Inggris diperkirakan hanya 2,2 tahun dan diperkirakan pakaian hingga bernilai 177 juta dolar AS berakhir di tempat sampah setiap tahun.

Kapas saat ini berperan sekitar setengah dari semua tekstil yang diproduksi dan menyediakan pekerjaan untuk hampir 7 persen dari semua tenaga kerja di negara-negara berkembang. Ia adalah tanaman non-pangan paling menguntungkan di dunia, tetapi metode yang digunakan untuk memproduksinya tidak berkelanjutan.

Menurut WWF, diperlukan 20.000 liter air untuk membuat kapas dalam jumlah cukup hanya untuk memproduksi satu kaos dan sepasang jins (1 kg kapas). Pewarna dan pemutih kimia juga mencemari saluran air dan merembes ke lingkungan yang lebih luas.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR