Pendiri Microsoft ciptakan pesawat bersayap terlebar

Pesawat terlebar di dunia Stratolaunch buatan Paul Allen, salah satu pendiri Microsoft.
Pesawat terlebar di dunia Stratolaunch buatan Paul Allen, salah satu pendiri Microsoft. | Stratolaunch

Paul Allen, yang bersama Bill Gates mendirikan Microsoft 42 tahun lalu, berupaya kembali mengubah wajah dunia. Setelah melalui komputer, pria berusia 64 tahun itu kini mencoba untuk ikut mengembangkan penerbangan ke orbit rendah Bumi.

Allen, yang mengundurkan diri dari Microsoft pada 1983 karena menderita penyakit Hodgkin dan kemudian berhasil sembuh, pada Rabu (31/5/2017), meluncurkan pesawat dengan rentang sayap terpanjang di dunia melalui perusahaan miliknya, Stratolaunch System Corporation, yang didirikan pada 2011.

Pesawat yang diberi nama Stratolaunch tersebut berjenis twin-boom, seperti dua burung camar bergabung di ujung sayapnya. Ia memiliki 28 roda dan enam mesin. Lebar sayapnya 117 meter, dan tingginya 15 meter.

Tanpa terisi bahan bakar, beratnya mencapai 227 ton. Dengan kemampuan membawa 113 ton bahan bakar, berat totalnya bisa mencapai 600 ton. Sebuah desain revolusioner paling berani, yang masuk ke bisnis kedirgantaraan.

Pesawat ini akan lebih lebar dari H-4 Hercules (97,5 m) buatan Howard Hughes pada 1947 yang dikenal sebagai "Spruce Goose" dan Antonov An-225 (88,4 m), sebuah pesawat kargo yang saat ini merupakan pesawat terbesar di dunia dari era Uni Soviet yang awalnya dibangun untuk mengangkut pesawat luar angkasa Buran.

Tapi raksasa angkasa terbaru ini bukan bertujuan untuk mengangkut penumpang. Ia ditugaskan untuk mengangkat satelit ke angkasa luar.

Perusahaan Stratolaunch telah bermitra dengan Orbital ATK untuk peluncuran pesawat Pegasus XL yang berbasis di Dulles, Virginia, Amerika Serikat. Sebuah roket yang mampu mengantarkan satelit kecil, dengan berat 454 kg ke orbit rendah Bumi.

Roket akan ditambatkan ke perut pesawat raksasa tersebut, yang akan menerbangkannya pada ketinggian 10,6 km atau lebih. Kemudian roket akan dilepaskan dan melakukan peluncuran di udara ke luar angkasa.

Pesawat ini dimaksudkan untuk menjadi sebuah platform yang dapat digunakan kembali untuk peluncuran roket berikutnya. Sederhananya, pesawat akan lepas landas dari landasan pacu, terbang ke sekitar ketinggian jelajah yang sama dengan penerbangan komersial untuk peluncuran, dan kemudian kembali ke landasan pacu.

Dilansir dari The Washington Post (31/5), Allen menuturkan tahun lalu bahwa konsep seperti ini bisa mengurangi waktu tunggu lama yang secara tradisional dialami antara pembangunan satelit dan kesempatan untuk meluncurkannya ke luar angkasa.

Dengan operasi bergaya bandara tradisional dan kemampuan memutar balik yang cepat, perusahaan percaya melakukan peluncuran di udara adalah cara yang lebih murah dan lebih efisien untuk membawa satelit ke angkasa daripada roket yang diluncurkan secara vertikal yang bisa sangat mahal biayanya.

Pesawat Stratolaunch sudah bisa segera beraksi di udara. Menurut sang CEO, Jean Floyd, perusahaan tersebut saat ini tengah bersiap untuk melakukan demonstrasi peluncuran paling cepat pada 2019.

"Selama beberapa minggu dan bulan mendatang, kami akan secara aktif melakukan pengujian jalur darat dan penerbangan di Pelabuhan Udara dan Antariksa Mojave (California, AS)," kata Floyd dalam siaran pers Stratolaunch.

"Ini adalah pesawat pertama. Jadi kami akan rajin melakukan pengujian dan terus memprioritaskan keamanan pilot, awak, dan staf kami."

Biaya proyek pesawat Stratolaunch awalnya diperkirakan mencapai USD300 juta (Rp4 triliun), namun belum ada informasi terbaru mengenai hal ini.

Allen, yang menurut Forbes memiliki kekayaan USD20,2 miliar (Rp268,6 triliun), telah terlibat dalam bisnis kedirgantaraan selama lebih dari satu dekade. Usaha pertamanya melibatkan uang senilai USD25 juta untuk membiayai pesawat buatan Scaled Composites, SpaceShipOne, yang kemudian dibeli miliuner Richard Branson pemilik Virgin Galactic.

"Tiga puluh tahun yang lalu, revolusi PC menempatkan daya komputasi ke tangan jutaan orang dan membuka potensi manusia yang tak terhitung," kata Allen.

"Dua puluh tahun yang lalu, kemunculan Web dan perkembangan selanjutnya dari ponsel pintar digabungkan untuk memungkinkan miliaran orang untuk mengatasi keterbatasan tradisional geografi dan perdagangan. Saat ini, perluasan akses ke LEO (Low Earth Orbit) memiliki potensi revolusioner yang sama."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR