TEKNOLOGI ANTARIKSA

Pendiri Microsoft ramaikan persaingan menuju luar angkasa

Keluarga baru kendaraan luar angkasa Stratolaunch keluaran pendiri Microsoft.
Keluarga baru kendaraan luar angkasa Stratolaunch keluaran pendiri Microsoft. | Stratolaunch

Bermodalkan pesawat terbesar di dunia yang dimilikinya; pendiri Microsoft, Paul Allen, akan meramaikan persaingan dalam perjalanan menuju luar angkasa. Allen memiliki ambisi besar melalui pesawat terbesar di dunia garapannya, Stratolaunch, yang dibuat pada 2011.

Dilansir The Drive, Senin (20/8/2018), Allen mengumumkan detail pertama mengenai keluarga baru kendaraan peluncur yang dikerjakannya--termasuk dua jenis roket dan pesawat ruang angkasa yang dapat membawa astronaut ke orbit.

Pengungkapan itu sekaligus menindaklanjuti bahwa Stratolaunch telah mengerjakan roket dan pesawat ruang angkasa mandiri, yakni Black Ice yang akan diluncurkan bersamaan dengan pesawat terbesar di dunianya itu.

Sebelumnya, Stratolaunch hanya mengatakan bahwa itu akan dimulai dengan peluncuran roket Pegasus XL dari Orbital ATK saja. Namun, setelah berkali-kali gagal dengan mitra lainnya, Stratolaunch mengembangkan roketnya sendiri; Medium Launch Vehicle (MLV) dan Medium Launch Vehicle-Heavy (MLV-H).

"Untuk pertama kalinya, kami senang membagi detail pengembangan kendaraan peluncuran Stratolaunch milik kami. Kami menawarkan kemampuan peluncuran yang fleksibel, tidak seperti lainnya," kata Jean Floyd, CEO Stratolaunch, dalam siaran persnya.

"Apapun muatannya, apa pun orbitnya, satelit Anda bisa mencapai luar angkasa dengan segera semudah memesan tiket maskapai penerbangan," lanjutnya.

Berikut penjelasan singkat mengenai kendaraan luar angkasa yang akan segera diluncurkan oleh Stratolaunch sebagaimana dinukil Geekwire (20/8):

Pegasus XL dapat membawa hingga tiga muatan dengan berat total sekitar 370 kilogram dan memasukkannya ke orbit Bumi rendah (LEO). Stratolaunch berharap penerbangan pertama dari pesawat pengangkutnya dengan roket ini pada 2020.

Stratolaunch mengatakan pesawat induknya yang dapat membawa hingga tiga roket sekaligus ini membuatnya menjadi pilihan peluncuran yang lebih fleksibel.

MLV dengan julukan Kraken yang diharapkan akan melakukan penerbangan pertamanya pada 2022 ini menawarkan lebih dari sembilan kali kapasitas muatan (3400 kilogram) menggunakan motor roket tunggal.

Sedangkan MLV-H dilaporkan masih dalam tahap awal pengembangan. Kendaraan ini mampu membawa muatan yang beratnya mencapai 6.000 kilogram ke dalam LEO atau mendapatkan sistem berbasis ruang yang membebani hingga 2.041 kilogram ke orbit geostasioner.

Sementara Black Ice adalah pesawat ruang angkasa ulang alik yang memungkinkan kapabilitas orbit dan pengembalian kargo ke dan dari Bumi, serta memiliki kemampuan untuk dapat melakukan beberapa manuver di ruang angkasa.

Desain awal yang dioptimalkan memang untuk peluncuran kargo, dengan varian lanjutan yang bisa mengangkut awak. Melihat ilustrasi Stratolaunch, pesawat ini mirip dengan pesawat ruang angkasa X-37B milik Boeing. Saat ini statusnya masih dalam studi desain.

Stratolaunch dalam hal ini bertindak seperti launchpad terbang. Pesawat raksasa ini dirancang untuk membawa roket dan kemudian melepaskannya tepat sebelum mereka menyalakan mesin dan melakukan perjalanan ke luar angkasa.

Ide menggunakan pesawat Stratolaunch sebenarnya bukanlah hal baru. Menurut Space News, pada tahun 2014, perusahaan mengatakan bahwa mereka telah bekerja dengan Sierra Nevada Corporation untuk mempelajari peluncuran versi skala kecil pesawat Stratolaunch

"Sangat aman untuk Stratolaunch bekerja sendirian saat ini, dengan pengembangan kendaraan peluncuran dan semuanya dipimpin oleh tim internal di Stratolaunch," kata juru bicara pada Quartz (21/8).

"Selalu ada peluang untuk kemitraan potensial, tetapi tidak ada yang perlu diungkapkan lebih jauh sekarang."

Layanan paling mendasar yang ingin diberikan Stratolaunch saat ini adalah peluncuran satelit yang mana ini sangat penting bagi keamanan nasional. Militer AS pun telah menyiapkan kontes senilai 10 juta dolar AS untuk meyakinkan perusahaan agar mau berinvestasi.

Jika rencananya ini berhasil, Stratolaunch akan kebanjiran permintaan yang lebih tinggi pada tahun-tahun mendatang untuk pesawat yang dapat menempatkan satelit ke orbit.

Namun, kendaraannya harus bisa bersaing secara domestik dengan pengusaha luar angkasa lainnya dan para pendukung industri seperti SpaceX milik Elon Musk, Blue Origin, dan United Launch Alliance, kemitraan antara Boeing dan Lockheed Martin.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR