FENOMENA ALAM

Peneliti jelaskan teka-teki es hijau di Antartika

Gunung es hijau terlihat di Laut Weddell, Antartika pada 16 Februari 1985.
Gunung es hijau terlihat di Laut Weddell, Antartika pada 16 Februari 1985. | AGU

Kebanyakan gunung es terlihat putih atau biru karena menyerap warna dari spektrum yang terlihat di sekitar. Hal ini terjadi karena cahaya memantul dalam kantong udara yang terjebak di dalam es. Namun, sejak awal 1900-an pelaut melaporkan melihat gunung es berwarna hijau gelap di sejumlah bagian Antartika.

Gunung es hijau adalah bagian dari mitologi Antartika. Sejak abad ke-18, para penjelajah telah mencatat bongkahan hijau yang aneh di wilayah bawah Bumi itu. Kehadiran es hijau masih menjadi pertanyaan dalam ilmu pengetahuan selama lebih dari 200 tahun. Kini, tim dari University of Washington, Amerika Serikat, yakin mereka telah memecahkan teka-teki tersebut.

Gunung es terjadi ketika bongkahan es besar pecah ke lautan dari ujung gletser atau rak es. Seperti halnya salju, dan es yang terbentuk dari salju yang dipadatkan, gunung es yang terbentuk dari rak es mengambang mungkin mengandung es laut--air laut yang membeku di bagian bawah rak dalam lapisan yang tebalnya bisa mencapai 100 m.

Es laut dapat mengandung partikel organik dan anorganik yang dapat menambahkan nuansa hijau pada es yang umumnya hadir dalam nuansa biru atau putih.

Dugaan awal penghasil warna hijau adalah karbon organik terlarut dari hewan dan tumbuhan laut yang telah lama mati. Ketika diintegrasikan ke dalam es, partikel karbon kuning ini akan menyerap cahaya biru menghasilkan nuansa hijau untuk dipantulkan.

Namun, pengukuran lebih lanjut menunjukkan tingkat yang sama dari kandungan karbon di es laut hijau dan biru. Juga warna hijau yang dihasilkan bukan warna hijau gelap seperti yang ditemukan di alam.

Stephen Warren dari University of Washington dan rekan-rekannya mengubah dugaan mereka ke kandungan oksida besi setelah penemuan sejumlah besar zat besi di Antartika Timur.

Jika teori itu benar, mungkin lebih dari sekadar memecahkan teka-teki warna hijau. Besi yang terperangkap es bisa mewakili mata rantai penting yang hilang dalam rantai makanan.

Gunung es mendapatkan besi selama pembentukannya, ditemukan di debu batu Antartika. Kemudian, gunung es hanyut membawa debu besi ke laut, di mana mereka bisa memberi makan fitoplankton, organisme mikroskopis yang menyediakan makanan untuk jenis ikan paus, ubur-ubur, krill, zooplankton, dan berbagai spesies dalam air lainnya.

"Ini seperti membawa paket ke kantor pos. Gunung es dapat mengirimkan zat besi ini ke laut jauh. Kemudian, meleleh dan mengirimkannya ke fitoplankton yang dapat menggunakannya sebagai nutrisi," kata Warren yang merupakan penulis utama makalah studi ini, sekaligus ahli glasiologi di universitas.

Warren mulai mempelajari gunung es hijau pada tahun 1988, ketika ia mengambil inti dari salah satu contoh fenomena itu di dekat wilayah Amery Ice Shelf.

Selanjutnya, ia mendapatkan pencerahan. Pada tahun 2016, sebuah tim ahli kelautan yang dipimpin oleh Laura Herraiz-Borreguero dari University of Copenhagen, Denmark, menguji inti es yang diambil dari Amery Ice Shelf pada tahun 1968. Di bagian paling bawah, mereka menemukan es laut dengan kandungan besi hampir 500 kali lebih banyak dari pada es gletser di bagian atas.

Besi oksida seperti karat memantulkan warna merah dan oranye tetapi menyerap cahaya biru. Jika partikel-partikel ini menyatu ke dalam es yang membentuk di bawah air (melalui proses gesekan gletser ke laut), hasilnya akan menjadi hijau gelap.

"Ketika kami naik ke gunung es tersebut, hal yang paling menakjubkan sebenarnya bukan warna melainkan kejernihan," kata Warren.

"Es ini tidak memiliki gelembung. Jelas bahwa itu bukan es gletser biasa."

Gletser biasanya terbentuk dalam periode waktu yang lama karena lapisan salju menumpuk dan mengeras, dan hampir selalu meninggalkan kantong udara reflektif. Namun, beberapa gletser Antartika berbeda, mereka memiliki lapisan air laut yang membeku di bagian bawah rak es.

Lapisan ini dikenal sebagai es laut. Es laut memiliki lebih sedikit kantong udara, tidak memantulkan cahaya dan memiliki rona yang lebih gelap.

Penulis penelitian mengatakan mereka ingin mengambil sampel lebih banyak gunung es hijau untuk mempelajari kandungan besinya.

"Saya tidak tahu seberapa pentingnya (gunung es hijau)," kata Warren. "Saya rasa kita akan mengetahuinya."

Warren dan rekan-rekannya dari Bowdoin College, University at Albany, dan State University of New York, semuanya di AS, serta Australian Antratic Division telah melaporkan studi mereka di Journal of Geophysical Research Oceans.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR