Penemuan cula menguatkan fakta badak Sumatera di Kalimantan

Ilustrasi badak bercula satu
Ilustrasi badak bercula satu | EPA

Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (11/3/2016), dihebohkan penemuan benda menyerupai cula badak yang diamankan dari salah satu penumpang tujuan Jakarta. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Sustyo Iriyono mengungkapkan pada Kompas.com (15/3), temuan tersebut berawal dari hasil pemindaian sinar X di pintu masuk terminal keberangkatan.

Namun belum diketahui siapa pemilik barang mencurigakan itu. Diduga sang pemilik meninggalkannya begitu saja saat petugas mengamankan cula badak tersebut sehingga asal usul belum diketahui.

"Jejak ini mudah-mudahan bisa menyambungkan mata rantai yang putus terhadap keberadaan badak di Kalimantan. Penting untuk ilmu pengetahuan," ujar Sustyo. Jenis badak di Indonesia diketahui hanya badak Jawa dan badak Sumatera.

Cula badak yang disita di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat
Cula badak yang disita di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat | BKSDA Kalimantan Barat

Badak Sumatera di Kalimantan

Dilansir Mongabay, Selasa (22/3), beberapa kisah keberadaan badak di pulau Kalimantan cukup sering terdengar dalam cerita rakyat di Kalimantan Tengah. Warga Kuala Kapuas sering kali bercerita tentang makhluk bertanduk dekat mulut serta ukuran kaki yang besar.

Namun cerita rakyat suku Dayak di Kalimantan Barat tergolong minim. "Sepanjang pengetahuan saya, keberadaan badak selain di Kalimantan Tengah, ada di Sabah, Malaysia," kata Dismas Aju, penulis budaya dan sejarah di Kalimantan Barat.

Tim Peneliti Badak World Wide Fund (WWF) Indonesia sempat menemukan jejak badak pada 2013 dan disusul penampakannya beberapa saat kemudian yang tertangkap kamera di area yang sama. Semenjak itu 15 badak sumatera diidentifikasi menghuni tiga area di Kutai Barat.

Iwan setiawan, salah seorang tim peneliti WWF, menjelaskan badak yang ditemukan adalah badak Sumatera namun berbeda subspesies. Di Sumatera subspesiesnya Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis. Adapu di Kalimantan Timur adalah supspesies Dicerorhinus sumatrensis harrissoni.

Perbedaannya terletak pada bentuk fisik. Badak di Kalimantan berpostur lebih kecil dan bulunya lebih lebat. Culanya ada dua dan lebih mendekati badak di Sabah, Malaysia. Dia tersebar dari Sumatera, Kalimantan, sampai kaki Gunung Himalaya di wilayah Tibet-Nepal.

Badak Sumatera adalah satu-satunya badak Asia yang mempunyai dua buah cula di kepalanya; bagian anterior berada di atas ujung moncong dan bagian posterior ada di atas mata. Selain itu badak ini memiliki rambut terbanyak dibandingkan seluruh subspesies badak di dunia sehingga sering disebut hairy rhino (badak berambut). Tubuhnya gemuk dan agak bulat.

Mitos obat kuat

Badak sejak dulu sering diburu untuk diambil culanya. Bahkan menurut Mongabay, harga cula badak per gram di pasaran mencapai Rp44 juta.

Mitos yang beredar di masyarakat mengatakan bahwa cula badak berkhasiat untuk pengobatan beragam penyakit juga dan sebagai obat kuat untuk meningkatkan vitalitas (aphrodisiac). Di Hong Kong, cula badak tersebut akan dihaluskan dan dijadikan tepung.

Namun ternyata khasiat cula badak tidak terbukti. Efransyah, Direktur Utama WWF Indonesia, mengungkapkan bahwa cula badak sejatinya tak memiliki fungsi dan khasiat apapun.

Dasarnya komposisi cula sama kandungannya dengan kuku manusia. Cula badak merupakan pengembangan jaringan epidermis yang terbuat dari keratin.

Keratin merupakan manfaat protein yang diproduksi oleh folikel keratin. Jenis keratin tersebut menyerupai pembentuk rambut serta kuku pada manusia. "Penelitian menunjukan cula badak isinya keratin, nggak ada apa-apanya," katanya kepada Detikcom, Senin (21/3).

Mengapa badak adalah hewan yang dilindungi

Jumlah badak di alam bebas kian menyusut. Itu sebabnya dia masuk kategori hewan yang dilindungi. Dilansir NationalGeographic, Yuyun Kurniawan sang Project Leader WWF Ujung Kulon & Rhino Conservation National Coordinator menyebutkan sejumlah alasan lain.

  • Tingkat reproduksi sangat rendah. Badak Sumatera adalah salah satu jenis hewan soliter (senang menyendiri) sehingga mereka kesulitan menemukan pasangan.
  • Masa hidup badak yang pendek. Masa hidup badak hanya berkisar antara 35-40 tahun. Badak yang dirawat dalam kawasan suaka sebagian besar akan mati pada usia di bawah 35 tahun. Jika umur maksimal individu badak sumatera hanya 35 tahun, lalu masa reproduksi dimulai pada usia tujuh tahun dan masa kehamilan 18 bulan, para induk badak hanya punya waktu 25 tahun untuk berkembang biak. Adapun masa asuh anak badak minimal satu tahun. Artinya, setiap induk badak hanya mampu menghasilkan maksimal 4-5 individu anak badak sepanjang hidupnya.
  • Perburuan cula dan bagian tubuh badak untuk obat tradisional. Selama bertahun-tahun, perburuan badak Sumatera dilakukan untuk diambil culanya. Ini adalah alasan utama penyusutan populasi badak. Habitat hutan yang rusak dan hilang juga ancaman besar bagi kelangsungan hidup badak Sumatera yang tersisa.

Penemuan seekor badak sumatera di Kutai Barat

Peneliti WWF lewat blog mengaku telah menemukan seekor badak Sumatera betina berumur empat atau lima tahun yang terjebak di lubang perangkap pada 12 Maret 2016 di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Badak Sumatera sebelumnya sudah dianggap punah di area tersebut karena lebih dari 40 tahun tidak pernah ditemukan keberadaannya. Penemuan tersebut menjadi yang pertama setelah sempat diidentifikasi ada sekitar 15 ekor yang berhasil bertahan di alam liar Kutai Barat.

Badak betina ini kini berada di penangkaran sementara untuk menunggu dipindahkan ke hutan lindung menggunakan helikopter sekitar 150 km dari area ia ditemukan.

Tim WWF dan angggota lain dari tim konservasi badak Sumatera berharap setidaknya mereka dapat menemukan dua ekor lagi yang dapat dipindahkan ke hutan lindung untuk membuat penangkaran baru guna menghindari kepunahan spesies tersebut di Kutai Barat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR