SATWA LANGKA

Perburuan oleh manusia ancam kepunahan megafauna

Salamander raksasa Tiongkok merupakan salah satu megafauna yang masuk dalam  ancaman kepunahan
Salamander raksasa Tiongkok merupakan salah satu megafauna yang masuk dalam ancaman kepunahan | tristan tan /Shutterstock

Hasrat manusia atas konsumsi daging, kebutuhan wilayah hidup megafauna yang luas, dan reproduksi yang lambat mendorong beberapa spesies berukuran besar hilang dari Bumi.

Setidaknya ada 200 spesies hewan besar bisa berkurang jumlahnya dan lebih dari 150 spesies berada dalam ancaman kepunahan. Demikian simpulan sebuah studi dari tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Oregon State University, Amerika Serikat.

Selain untuk dagingnya, hewan-hewan ini kerap diburu untuk bagian tubuh yang disimpan sebagai hiasan atau dijual untuk digunakan dalam praktik pengobatan tradisional.

Quartz menjelaskan, kenaikan posisi manusia ke peran "pemangsa super Bumi" dimulai menjelang akhir Zaman Pleistosen (sekitar 10 ribu tahun lalu). Ketika spesies manusia semakin memahami teknologi dan mulai menggunakan senjata proyektil untuk memburu hewan yang lebih besar dari jarak yang aman.

Sebelum berakhirnya Zaman Pleistosen, Bumi memiliki populasi hewan besar yang sangat tinggi. Termasuk nenek moyang armadillo seukuran mobil, kungkang darat yang beratnya mencapai 4 ton, dan berang-berang seukuran beruang hitam.

Temuan yang diterbitkan dalam Conservation Letters tersebut mempelajari ratusan spesies yang oleh studi disebut sebagai "megafauna”.

Dalam definisi mereka tentang megafauna, para peneliti merujuk pada hewan dengan bobot lebih dari 100kg untuk mamalia, ikan bersirip dan ikan bertulang rawan. Lalu dengan bobot lebih dari 40kg untuk amfibi, burung, dan reptil, karena spesies ini umumnya lebih kecil ukurannya.

Tim mengatakan megafauna paling terancam adalah yang tinggal di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, atau di perairan internasional.

Para peneliti mengandalkan data dari Daftar Merah Spesies Terancam yang disusun oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). IUCN secara luas dianggap sebagai otoritas global yang berfokus pada status alami dunia. Lembaga ini merilis "daftar merah" yang diperbarui secara berkala, yang mendokumentasikan perubahan status konservasi spesies hewan dan tumbuhan.

Mereka memilih untuk mempelajari hewan besar karena kelompok ini menghadapi risiko lebih besar daripada hewan kecil. Karena ukurannya yang besar, megafuna bereproduksi lebih lambat dan menghasilkan lebih sedikit keturunan.

"Ketika Anda semakin kecil dan semakin kecil, Anda mendapatkan lebih banyak anggota," kata penulis studi dan profesor ekologi Oregon State University, William Ripple. "Juga, hewan besar membutuhkan area yang luas untuk habitatnya, sedangkan yang kecil tidak."

Untuk menilai keadaan megafauna dunia, para peneliti mengidentifikasi total 362 spesies megafauna hidup yang termasuk dalam kategori yang ditentukan, dan ada cukup data untuk menganalisis 292 spesies di antaranya. Dari jumlah tersebut, 70 persen, atau lebih dari 200, diklasifikasikan mengalami penurunan jumlahnya. Sementara 59 persen, atau 171 spesies, dianggap berisiko punah.

Dalam 250 tahun terakhir, sembilan spesies megafauna telah punah atau menghilang dari alam, termasuk dua spesies kura-kura raksasa dan dua spesies rusa. Hampir dua persen spesies megafauna dan 0,8 persen vertebrata telah punah selama 500 tahun terakhir.

Di antara binatang besar yang paling terancam adalah salamander raksasa Tiongkok, yang kepunahannya sudah dekat. Ia tumbuh hingga enam kaki dan merupakan satu dari hanya tiga spesies yang hidup dari keluarga amfibi yang berumur 170 juta tahun.

Kelezatan kuliner di Asia, telah dihancurkan oleh perburuan, pengembangan dan polusi. “Pemanenan langsung untuk konsumsi daging atau bagian tubuh adalah ancaman terbesar bagi hampir semua spesies besar berdasarkan data ancaman yang tersedia,” kata Ripple.

"Jadi, meminimalkan pembunuhan langsung hewan vertebrata ini adalah taktik konservasi penting yang mungkin menyelamatkan banyak spesies ikonik tersebut, serta semua kontribusi yang mereka buat untuk ekosistemnya."

Ripple menambahkan, “Melestarikan megafauna yang tersisa akan menjadi sulit dan rumit. Akan ada argumen ekonomi yang menentangnya--serta hambatan budaya dan sosial.”

"Tetapi jika kita tidak mempertimbangkan, mengkritik, dan menyesuaikan perilaku kita, kemampuan kita yang meningkat sebagai pemburu dapat membuat kita mengonsumsi sejumlah besar megafauna terakhir di Bumi."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR