SATWA LANGKA

Perjodohan harimau Sumatra yang berakhir tragis

Foto harimau Sumatra.
Foto harimau Sumatra. | dptro /Shutterstock

Tak semua perjodohan berakhir sukses. Seperti yang dialami seekor harimau Sumatra di kebun binatang London. Ia tewas diterkam calon pasangannya dalam percobaan perjodohan pertama mereka.

Misi awal perjodohan adalah harapan kedua kucing besar itu akan berkembang biak. Usaha ini adalah bagian dari proyek pemuliaan konservasi yang disebut European Endangered Species Programme.

Nahas, tenyata Asim sang pejantan menyerang betina yang bernama Melati.

Kurang dari 400 ekor harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae)--subspesies harimau terkecil--hidup di alam liar di Pulau Sumatra. Jumlah mereka berkurang akibat kehilangan habitat, perburuan, dan hilangnya mangsa.

Menurut WWF, pada akhir 1970-an jumlah harimau Sumatra masih ada sekitar 1.000 ekor. Alhasil mereka pun terdaftar sebagai hewan berstatus sangat terancam punah oleh IUCN sejak 1996.

Zoological Society of London (ZSL) menyimpan kedua harimau di kandang yang berdekatan selama 10 hari untuk membiasakan diri atas kehadiran satu sama lain.

Setelah penjaganya melihat tanda-tanda positif, mereka mengambil keputusan untuk memperkenalkan keduanya secara lebih dekat yakni mencampurkannya dalam satu kandang.

Tanda-tanda awal sangat menjanjikan. "Ada banyak 'chuffing', semacam dengusan hidung yang biasanya berupa salam atau tanda ketertarikan yang tidak mengancam," kata mereka tak lama setelah kedatangan Asim di London. "Sangat luar biasa melihat mereka sudah saling tertarik."

“Pengenalan kedua harimau dimulai seperti yang diperkirakan tetapi dengan cepat meningkat menjadi interaksi yang lebih agresif,” kata ZSL.

“Petugas kebun binatang akhirnya bisa mengamankan Asim di kandang kecil terpisah sehingga mereka bisa dengan aman menghampiri Melati di mana dokter hewan kami memastikan bahwa dia telah mati dengan mengenaskan. Semua orang di ZSL London Zoo sangat terpukul dengan tewasnya Melati, dan kami sangat terpukul atas peristiwa ini.”

Sebelumnya betina berusia 10 tahun itu pernah dikawinkan dengan harimau Sumatra lainnya, bernama Jae Jae. Mereka menghasilkan keturunan pada tahun 2013, 2014, dan 2016. Tetapi Jae Jae baru-baru ini dipindahkan ke Le Parc des Félins, sebuah kebun binatang di tenggara Paris, untuk memulai sebuah keluarga baru.

Asim, yang berusia tujuh tahun, didatangkan dari Denmark pada 29 Januari, Penjaga telah menilai Asim sebagai "kucing besar percaya diri yang dikenal sangat sayang dengan betina".

Penjaga memilih Asim setelah bertemu langsung dengannya dan menilai kepribadiannya. "Kami belajar bahwa dia menyukai ayam dan suka bermain, terutama dengan menerkam tumpukan kotak kosong yang disemprot dengan aroma kuat seperti rempah-rempah."

Pengguna media sosial yang terkejut dan berduka setelah mengetahui informasi ini mempertanyakan metode yang digunakan London Zoo.

Pertanyaannya seperti: Apakah terlalu dini bagi kedua harimau untuk bertemu? Mengapa penjaga tidak menggunakan obat penenang ketika pertemuan berubah menjadi kekerasan? Dan mengapa tidak menggunakan metode lain, seperti bioteknologi reproduksi, untuk mencoba meningkatkan populasi subspesies yang jumlahnya menyusut di alam?

Dikutip dari New York Times (10/2), kebun binatang itu mengatakan mereka telah mempersiapkan sejumlah langkah pencegahan sebelum perjodohan, dan para ahli telah menilai waktu yang tepat untuk perkenalan.

Anggota penjaga juga mencoba menyelamatkan Melati ketika kondisi berubah agresif, tetapi sudah terlambat.

"Penjaga kebun binatang segera menerapkan respons yang telah disiapkan, menggunakan suara keras, suar, dan alarm untuk mencoba dan mengalihkan perhatian pasangan, tetapi Asim sudah mengalahkan Melati," kata pernyataan kebun binatang.

Vivian Walker, seorang fotografer satwa liar dan pekerja konservasi berpendapat, "setiap pertemuan antara kucing besar adalah risiko, tidak peduli seberapa pun perhitungannya," dan obat penenang "tidak akan berpengaruh cukup cepat untuk menyelamatkannya."

Faktanya, dalam pernyataan yang diperbarui, kebun binatang London berkata, “Obat penenang tidak akan efektif, bukan hanya karena sulitnya menargetkan harimau yang tepat dalam situasi itu, tetapi karena lamanya waktu yang diperlukan obat untuk mulai bekerja."

Menanggapi pertanyaan penggunaan metode yang lebih aman untuk membantu Melati menghasilkan lebih banyak keturunan, Rebecca Blanchard, juru bicara Zoological Society of London, pengelola Kebun Binatang London, angkat bicara.

Ia menjelaskan, dokter hewan di kebun binatangnya telah memelopori inseminasi buatan satu dekade lalu, ketika kawin tradisional tidak berhasil untuk sepasang harimau.

Tetapi metode itu "tidak diperlukan dalam kasus ini," katanya, "karena ada jantan dan betina cocok yang bisa dipasangkan."

Inseminasi buatan adalah proses pengumpulan sperma dari hewan jantan dan secara manual memasukkannya ke saluran reproduksi betina. Teknik yang sebelumnya telah sukses memfasilitasi reproduksi spesies harimau yang terancam punah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR