PERUBAHAN IKLIM

Apple klaim perubahan iklim bisa tingkatkan penjualan iPhone

Ilustrasi iPhone
Ilustrasi iPhone | Pixabay

Perusahaan raksasa teknologi asal Amerika Serikat(AS), Apple, mengklaim bahwa perubahan iklim bisa meningkatkan permintaan terhadap iPhone. Jadi menurut mereka, kenaikan permukaan laut, kekurangan pangan, badai, banjir hingga kekeringan bukan melulu hal buruk bagi manusia.

Menurut Apple dalam Business Insider, Selasa (22/1/2019), iPhone bisa menjadi alat bantuan pertama ketika bencana terjadi. Fitur keamanan dalam iPhone seperti senter--yang sebenarnya juga ada dalam ponsel lain--bisa memicu permintaan.

Itulah salah satu kesimpulan dalam laporan yang dibuat Apple tentang bisnisnya, yang diterbitkan CDP -- sebuah organisasi nirlaba yang mengumpulkan informasi dari berbagai perusahaan tentang dampak lingkungan.

"Perangkat seluler bukan cuma sebagai alat komunikasi, tapi juga dapat digunakan dalam situasi darurat," tulis Apple dalam laporan itu.

Selain senter, iPhone bisa berfungsi sebagai sirene sehingga mampu memberikan instruksi pertolongan pertama. iPhone juga diklaim dapat bertindak sebagai radio komunikasi, dan baterai dapat dicas selama berhari-hari melalui aki mobil--misalnya.

Dilansir Independent, Kamis (24/1), Apple mengatakan bencana alam seperti badai Katrina, badai Sandy, badai Harvey, dan peristiwa terorisme 11 September telah membuktikan bahwa teknologi berperan penting dalam komunikasi darurat.

Komunikasi darurat itu bisa dilakukan dengan fitur SOS yang tersedia dalam iPhone dan Apple Watch. Alhasil loyalitas dan permintaan pelanggan untuk iPhone bisa meningkat.

"Dalam beberapa tahun terakhir, iPhone sudah bisa menerima peringatan bahaya darurat, termasuk dari National Weather Service (badan pengamat cuaca AS) atau penegak hukum. Demikian pula Apple Watch.

"Kami pun menawarkan aplikasi gratis 'find friends' dan akses cepat untuk menyalakan senter," kata Apple.

Dengan itu semua, Apple memperkirakan ada potensi pemasukan dari iPhone hingga $2,3 miliar AS. Selain itu, Apple juga akan memproduksi perangkat yang mungkin menarik bagi kalangan yang memberi perhatian pada perubahan iklim dan kenaikan biaya listrik.

Sebenarnya bukan hanya Apple yang menghitung dampak lingkungan akibat perubahan iklim bagi bisnisnya. Sejumlah perusahaan besar seperti Walt Disney dan Bank of America pun turut melakukannya.

Meski demikian, Apple mengakui perubahan iklim juga bisa memberi ancaman terhadap bisnis perusahaan. Contohnya, cuaca buruk bisa "merusak sistem infrastruktur" di balik manufaktur dan penjualan.

Potensi biaya yang hilang bisa mencapai $300 juta, angka signifikan, tetapi kecil jika dibandingkan biaya operasional Apple yang mencapai $194 miliar pada 2017.

Salah satu bentuk ancaman bagi perusahaan teknologi akibat bencana pernah terjadi pada 2011. The Next Web mengabarkan bencana banjir di Thailand membuat dunia mengalami krisis hard disk (HDD) karena pabrik terendam,

Thailand adalah produsen HDD terbesar kedua di dunia dan banjir merusak pabrik-pabrik milik Western Digital di sana. Akibatnya harga HDD melonjak hampir dua kali lipat dalam semalam.

Inilah yang membuat Apple khawatir dan mengantisipasi hal tersebut terulang. Apple juga menjelaskan bahwa kesadaran lingkungan penting bagi reputasi mereka.

Sejauh ini, menurut CDP, banyak aspek dari bisnis Apple belum terpengaruh perubahan iklim, tetapi Apple telah berencana untuk masa depan. Salah satunya adalah menanam pohon yang bisa tahan pada kekeringan dan membangun kolam penampungan air di markas baru mereka, Apple Park di Cupertino, AS, dengan investasi sekitar $60 juta.

Apple cukup rutin mengeluarkan laporan lingkungan tahunan setiap tahun. Mereka juga menggunakan energi terbarukan 100 persen pada kantor, serta beberapa toko, dan gerai operasional.

"Hari ini, kami dan para pemangku kepentingan tetap fokus pada tiga prioritas yang bisa dibuat Apple untuk perbedaan terbesar," kata Lisa Jackson, mantan kepala Badan Perlindungan Lingkungan AS yang kini menjabat wakil presiden Apple bidang lingkungan, kebijakan, dan inisiatif sosial.

Tiga prioritas tersebut, menurut Jackson adalah perubahan iklim, konservasi sumber daya, dan menggunakan material yang lebih aman.

Namun, Matthew Hughes dari The Next Web memberi masukan, jika Apple ingin menunjukkan bahwa mereka memang peduli pada lingkungan, langkah pertama yang bisa diambil adalah mempermudah konsumen untuk memperbaiki laptop masing-masing.

Memudahkan konsumen dan teknisi untuk memperbaiki atau mendaur ulang perangkat yang rusak dapat secara drastis menurunkan jejak limbah elektronik. Bila Apple bisa melakukan ini, kata Hughes, berarti mereka sudah membantu lingkungan yang berguna bagi banyak orang di dunia ketiga.

Pada tahun 2017 Apple menjadi salah satu dari beberapa perusahaan teknologi di AS yang melobi pemerintah New York untuk membatalkan rencana penetapan legislasi yang bisa mempermudah orang-orang memperbaiki sendiri iPhone milik mereka. Legislasi itu dikenal dengan nama "Fair Repair Act".

Menurut perkiraan analis, Apple mendapatkan antara $1 miliar hingga $2 miliar setiap tahun dari biaya perbaikan.

Sementara Motherboard, memandang skeptis upaya Apple untuk ikut menyelamatkan lingkungan. Pasalnya, walau kerap menyatakan Apple membuat perangkat yang tahan lama, toh mereka terus merilis produk baru.

Menurut perhitungan mereka, sekitar 34 kg bahan mentah harus ditambang untuk membuat sebuah iPhone baru. Pertambangan berpotensi besar merusak lingkungan.

Catatan redaksi: berita diterbitkan kembali dengan perubahan pada judul untuk lebih mencerminkan isi, serta penambahan beberapa fakta.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR