Pokemon Go, gim populer nan kontroversial

Ilustrasi seseorang yang tengah bermain Pokemon Go.
Ilustrasi seseorang yang tengah bermain Pokemon Go. | Pixabay

Inilah permainan gawai elektronik yang melejit pada 2016. Pokemon Go yang berbasis realitas tertambah (augmented reality/AR) ini membawa nuansa baru dalam bermain gim.

Hanya dalam waktu dua pekan setelah diluncurkan, Pokemon Go mampu naik ke posisi pertama di Google Play dan Apple App Store. Selama 14 hari itu pula gim ini mampu mencapai total 30 juta unduhan dan penghasilan USD35 juta atau saat itu setara dengan Rp458 miliar.

Saham Nintendo, perusahaan Jepang yang bekerja sama dengan Niantic dan Google dalam mengembangkan gim ini, langsung berlari kencang.

Walau demikian, kontroversi mengiringi popularitas gim yang dikembangkan oleh Niantic ini. Penempatan monster yang terlihat acak membuat beberapa tempat, terutama area kantor pemerintahan, keberatan gedung mereka didatangi para pemburu monster itu. Termasuk pemerintah Indonesia dan Iran.

Gim yang membuat pecandunya terfokus pada gawai yang mereka gunakan tersebut juga bisa memperparah mereka yang mengidap nomophobia.

Namun, hanya berselang satu bulan setelah gim ini dirilis global, pesona Pokemon Go pun mengalami penurunan. Pada penutupan pasar saham Tokyo pada 27 Juli, saham Nintendo tercatat terjun 5.000 poin atau sekitar 18 persen, penurunan terbesar sejak 1990.

Meski begitu, hingga saat ini, gim tersebut masih banyak yang memainkan. Bahkan Niantic baru saja mengumumkan bahwa Pokemon GO kini tersedia untuk Apple Watch. Versi Apple Watch ini tak berbeda jauh dengan gelang Pokemon Go Plus.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR