INOVASI TEKNOLOGI

Polisi Tiongkok sambut Imlek dengan kacamata pengenal wajah

Seorang polisi lalu lintas tengah bertugas di jalanan Xi'an, Tiongkok.
Seorang polisi lalu lintas tengah bertugas di jalanan Xi'an, Tiongkok. | xian-photos /Shutterstock

Perayaan Tahun Baru Imlek bagi masyarakat Tiongkok, mirip dengan Idulfitri bagi umat Muslim. Momen tersebut dijadikan sebagai ajang pulang kampung bagi mereka yang tengah merantau.

Oleh sebab itu, aktivitas migrasi manusia dalam jumlah besar--hingga ratusan juta--terjadi di hampir seluruh kawasan Tiongkok, terutama stasiun kereta dan bandar udara.

Mengantisipasi segala kemungkinan, kepolisian Tiongkok menambahkan alat pengawas baru untuk para polisi yang bertugas di jalanan.

Teknologi pengawas massa yang kali ini mendapat sorotan adalah kacamata yang bisa mengenali wajah (facial-recognition).

Kacamata ini, untuk akses lebih cepat, terhubung langsung dengan gawai lain berisi data 10.000 tersangka kejahatan dari daftar pencarian, yang juga dibawa polisi tersebut. Jadi pengenalan wajah tak tergantung pada koneksi internet.

Kantor berita resmi Tiongkok, People's Daily, awal pekan ini menuturkan bahwa alat pengawasan baru ini digunakan sebagai cara untuk membantu pihak berwenang selama acara besar seperti Tahun Baru Imlek.

Media-media Tiongkok menampilkan gambaran seorang polisi wanita yang mengenakan kacamata pintar tersebut saat berpatroli di sebuah stasiun kereta api di Zhengzhou, ibu kota provinsi Henan.

People's Daily melaporkan bahwa kamera yang dilengkapi kacamata tersebut memiliki teknologi pengenalan wajah yang mampu melakukan "penyaringan yang sangat efektif" untuk orang-orang yang bepergian dengan alasan palsu.

Menurut Wall Street Journal (WSJ), gawai tersebut menjadi perpanjangan tangan dari kamera CCTV yang kurang bisa diandalkan untuk mendeteksi wajah.

LLVision, perusahaan di balik gawai tersebut, mengatakan bahwa mereka telah mampu mengidentifikasi individu dengan melakukan pencarian melalui basis data dari 10.000 tersangka dalam waktu sesingkat 100 milidetik.

CEO LLVision Technology Co. yang berbasis di Beijing, Wu Fei, mengatakan perusahaan tersebut bekerja dengan departemen kepolisian di Henan, provinsi timur Shandong dan wilayah barat laut Xinjiang selama setahun untuk mengembangkan kacamata tersebut.

Dalam uji coba lapangan pada hari Rabu (3/2/2018), kacamata tersebut telah membantu polisi di Stasiun Kereta Api Zhengzhou mendeteksi tujuh tersangka dan 26 orang yang diduga bepergian menggunakan identitas orang lain.

William Nee, peneliti Tiongkok di Amnesty International, mengatakan, dari sisi negatif, alat pengawasan baru tersebut juga dapat memberi otoritas kepada Tiongkok kemampuan untuk melacak pembangkang politik dan untuk mendeskripsikan etnis minoritas.

Dilansir dari Popular Science (8/2), David Alexander Forsyth, seorang ahli kecerdasan buatan, menjelaskan cara kerja pengenalan wajah melalui kamera.

Perangkat lunak yang memberi fungsi pengenalan wajah umumnya menggunakan proses dua langkah, kata Forsyth.

Langkah pertama adalah mencari tahu di mana wajah berada pada gambar yang dimaksud. Sistem ini mencari bagian gambar layaknya jendela yang berisikan wajah seseorang di dalamnya, dan bukan objek-objek lain, seperti tanda lalu lintas dan mobil.

Langkah kedua, sistem perlu melihat apakah tangkapan gambar tersebut bisa dicocokkan dengan wajah-wajah yang ada di basis data.

"Ternyata, itu masalah yang lebih sulit," kata pria, yang juga menjabat sebagai ketua ilmu komputer di University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika Serikat, tersebut. "(Bagi sistem algoritma) Orang cenderung terlihat mirip dengan satu sama lain."

Sistem ini tidak hanya memandangi gambar seperti yang dilakukan manusia. Ia melihat representasi citra dalam bentuk data, yang terdiri dari angka, kata Forsyth.

Representasi wajah itu harus menekankan hal-hal yang membuat orang terlihat berbeda satu sama lain. Contohnya detail yang melibatkan bentuk fitur bibir, hidung, dan mata. Representasi citra juga perlu dipastikan tidak terpengaruh oleh variabel yang mungkin mengaburkannya, seperti cahaya di wajah.

Perangkat lunak kemudian memeriksa representasi tersebut untuk melihat apakah ada kecocokan dengan wajah yang ada di arsip.

Kacamata pintar yang digunakan kepolisian Tiongkok diciptakan berdasarkan sandangan (wearable) kamera video yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan pengenalan wajah. Model tanpa fitur pengenal wajah ini dijual seharga 3.999 CNY (Rp 8 jutaan) ke konsumen bisnis dan awam.

Lalu ada lagi model pengintai, atau yang dideskripsikan LLVision sebagai model yang bisa digunakan untuk "tujuan identifikasi". Namun LLVision tidak dapat membuka harga model ini, kata Wu, mengingat model tersebut adalah bagian dari sistem dan dirancang khusus sehingga harganya bervariasi.

Perusahaan tersebut mengatakan kepada WSJ bahwa mereka telah mengapalkan sandangan kacamata tanpa fitur pengenalan ke Afrika, Amerika Serikat, Eropa dan Jepang.

LLVision menambahkan bahwa mereka melakukan pemeriksaan klien terlebih dahulu sebelum mereka dapat membeli kacamata pengenal wajah itu. LL Vision juga menghindari penjualan lepas ke konsumen sampai mengetahui bagaimana pengaruh teknologi itu terhadap masyarakat sekitar pengguna.

Tiongkok merupakan negara di dunia yang memimpin posisi dalam penggunaan teknologi pengenalan wajah. Negara Tirai Bambu tersebut telah berencana untuk memasang 400 juta kamera CCTV baru secara nasional dalam tiga tahun ke depan.

Mereka juga tengah membangun basis data pengenalan wajah yang dapat mengidentifikasi warganya hanya dalam waktu tiga detik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR