REHABILITASI PASCA-BENCANA

Portal pemetaan cerdas Esri untuk bantu pemulihan Sulteng

Foto aerial kawasan pantai Taipa, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018), pascagempa dan tsunami yang terjadi 28 September 2018.
Foto aerial kawasan pantai Taipa, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018), pascagempa dan tsunami yang terjadi 28 September 2018. | Muhammad Adimaja /Antara Foto

Pemetaan terperinci amat dibutuhkan untuk pembangunan kembali sebuah daerah yang baru saja terkena bencana alam. Dengan pemahaman yang lebih akurat mengenai kondisi suatu daerah usai bencana, pemangku kepentingan dapat mengambil keputusan tepat mengenai apa yang harus dilakukan untuk membenahi kawasan tersebut.

Untuk membantu upaya pemulihan Sulawesi Tengah setelah gempa bumi dan tsunami yang melanda Poso, Donggala, dan beberapa daerah lainnya, Esri Indonesia, cabang dari perusahaan penyedia solusi geospasial yang bermarkas besar di Redlands, California, Amerika Serikat, membuka portal web Emergency Spatial Support Center (ESSC).

ESSC adalah portal pemetaan cerdas yang menyediakan beragam informasi terkait kondisi alam di Sulteng. Ia merupakan aplikasi interaktif berbasis web dengan dasbor-dasbor untuk melihat jumlah bangunan dan infrastruktur yang mengalami kerusakan.

Selain itu, ESSC juga memperlihatkan data populasi dan demografi yang terkena dampak, citra satelit sebelum dan sesudah bencana, rumah sakit dan pusat evakuasi yang tersedia, hingga pemantauan percakapan media sosial terkait bencana tersebut.

Tersedia juga data yang diperlukan untuk menganalisis kerentanan terhadap gempa, berupa peta dari formasi dan struktur geologi, formasi tanah, serta garis sesar.

Singkatnya, semua data penting yang diperlukan pengambil kebijakan untuk mengambil langkah yang tepat bagi kemaslahatan penduduk, ada di ESSC. Misalnya untuk menentukan daerah aman bagi para pengungsi, rute penyaluran bantuan, hingga daerah mana yang sudah tak layak dihuni lagi.

Melalui data akurat tersebut, pemerintah bisa lebih efektif dan efisien dalam bertindak, terutama bila sumber daya manusia terbatas.

Tampilan halaman depan ESSC.
Tampilan halaman depan ESSC. | Esri Indonesia

"Merespons bencana yang menimpa sebuah wilayah, kemudian membantu memulihkannya, adalah tanggung jawab besar. Dibutuhkan analisis data resmi dari berbagai lembaga sebagai dasar pengambilan keputusan," kata CEO Esri Indonesia Achmad Istamar dalam siaran pers yang diterima Beritagar.id (24/10/2018).

Untuk lebih memahami situasi bencana, Istamar menjelaskan, ESSC menggunakan data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri).

Juga data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), data urun daya dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dan analisis pencitraan Institut teknologi Bandung (ITB).

"Mengingat portal pemetaan cerdas ini adalah hasil kolaborasi antara berbagai lembaga pemerintah, ini adalah satu-satunya sumber data yang dapat diandalkan untuk mendukung upaya respons dan pemulihan bencana di lapangan,” jelasnya.

"Portal ini telah menghapus kendala yang dihadapi pengambil keputusan ketika berhadapan dengan berbagai versi data untuk skenario yang sama. Kini semua pemangku kepentingan dapat memiliki pemahaman yang sama terhadap situasi bencana."

Pemetaan tingkat kerusakan setiap kawasan di Sulawesi Tengah yang ditampilkan pada ESSC.
Pemetaan tingkat kerusakan setiap kawasan di Sulawesi Tengah yang ditampilkan pada ESSC. | Esri Indonesia

Sebelumnya, pada 2 Oktober, DigitalGlobe, perusahaan imaji angkasa dan konten geospasial yang juga berasal dari AS, mengumumkan melalui blognya menyatakan bakal mendukung upaya respons terhadap bencana di Sulteng dengan membuka informasi peta bencana.

Gambar atau data tersebut mereka distribusikan melalui Open Data Program. Semua informasi yang disediakan DigitalGlobe itu bisa digunakan untuk kepentingan non-komersial.

Gempa 7,4 Skala Richter yang disusul tsunami pada 28 September 2018 telah meluluh-lantakkan Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong. Likuefaksi yang terjadi kemudian semakin memperparah kerusakan.

Menurut data BNPB hingga 22 Oktober tercatat bangunan dan infrastruktur yang hancur meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, dan jembatan 7 unit.

Total kerugian mencapai angka Rp13,82 triliun dan proses restrukturisasi diperkirakan bisa menghabiskan dana hingga Rp10 triliun.

Mantan ketua Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) pada bencana tsunami Aceh 2004, Kuntoro Mangkusubroto, awal bulan lalu kepada Beritagar.id menjelaskan, hal yang paling sulit dilakukan adalah relokasi penduduk dari daerah yang sudah tak layak dihuni lagi.

Kepastian relokasi perlu diutamakan sebab, menurutnya, psikologis para korban bisa berubah jika lama direlokasi. Warga juga harus diajak berpartisipasi dalam menentukan lokasi baru tempat tinggal mereka karena bisa jadi mereka akan tinggal di daerah itu untuk selamanya.

Merujuk pada saran Kuntoro itu, pemetaan yang baik bisa membantu pemerintah untuk menjelaskan kepada masyarakat korban bencana di Sulteng mengenai kondisi rumah mereka saat ini dan apakah mereka perlu direlokasi atau tidak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR