TELEKOMUNIKASI

Proyek Palapa Ring sudah mencapai 90 persen

Ilustrasi pemancar dan antena di menara telekomunikasi.
Ilustrasi pemancar dan antena di menara telekomunikasi. | Josefkubes /Shutterstock

Dalam Debat Pilpres 2019 yang berlangsung pada Minggu (17/2/2019), calon presiden nomor urut 01, Joko "Jokowi" Widodo, sempat menyinggung proyek infrastruktur jaringan telekomunikasi dan internet Palapa Ring.

Jokowi mengatakan Palapa Ring adalah proyek penyambungan backbone dengan broadband. Pemerintah melakukannya demi menyediakan jaringan internet yang cepat, aman, dan murah.

"...tadi sudah saya sampaikan Palapa Ring di Indonesia bagian barat telah 100 persen selesai, Indonesia bagian tengah 100 persen selesai," ujar Jokowi dalam sesi debat di Hotel Sultan, Jakarta.

Lalu apa itu Palapa Ring?

Ini merupakan proyek infrastruktur telekomunikasi berupa pembangunan serat optik nasional di seluruh Indonesia. Ia akan menjangkau 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel bawah laut mencapai 35.280 km dan kabel di daratan sejauh 21.807 km.

Kemkominfo mengerjakan proyek Palapa Ring sejak 2016. Menteri Kominfo, Rudiantara, sempat menyebutkan bahwa proyek tersebut akan selesai pada 2019.

Cikal bakal Palapa Ring adalah Nusantara 21 yang merupakan proyek awal pemerintah pada 1998. Namun, proyek ini sempat mandek karena krisis ekonomi.

Lalu bagaimana progres pembangunan Palapa Ring?

Proyek infrastruktur ini sebenarnya sempat muncul pada 2007. Namun seperti dilansir detik.com, Senin (18/2), proyek ini sempat mangkrak cukup lama karena masalah pendanaan sehingga proyek besar ini butuh penambahan anggota konsorsium baru.

Baru pada tahun 2015, pemerintah melalui Kemkominfo memulai tender baru proyek Palapa Ring jilid II.

Proyek Palapa Ring jilid II terbagi dalam tiga kategori; yakni Paket Barat, Paket Tengah, dan Paket Timur dengan panjang serat optik 36.000 km. Palapa Ring Barat akan menjangkau wilayah di Sumatra dan Kalimantan dengan jaringan kabel serat optik sepanjang 1.980 km.

Palapa Ring Tengah akan menjangkau wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara (sampai Kepulauan Sangihe-Talaud) dengan total panjang kabel serat optik 2.647 km.

Sementara itu, Palapa Ring Timur menjangkau wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, dan Papua (sampai pedalaman Papua) dengan total panjang kabel serat optik sekitar 8.454 km.

"Indonesia bagian timur 90 persen selesai. Nanti pada Juli 2019, insya Allah 100 persen akan selesai," tutur Jokowi.

Berdasarkan data Kemkominfo yang dilansir Katadata, jaringan Palapa Ring Barat sepanjang 2.275 km telah selesai pada Maret 2018 dan sudah beroperasi. Demikian pula Paket Ring Tengah sepanjang 2.995 km telah rampung 100 persen pada Desember 2018, tapi masih menjalani tahap ujicoba.

Sementara pembangunan Paket Ring Timur sepanjang 6.878 km baru mencapai 89,57 persen seperti dijelaskan dalam siaran pers Kominfo, Senin (18/2). Paket Ring Timur yang ditargetkan akan selesai tahun ini menghadapi kendala geografis di Papua yang penuh dengan pegunungan.

Proyek Palapa Ring dikerjakan berdasarkan sistem Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) berdasarkan Perpres No. 38/2015 tentang Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur melalui skema Availability Payment atau AP.

Pemerintah berharap jaringan ini akan rampung sebelum 2020. Proyek Palapa Ring juga diharapkan menjadi tumpuan semua penyelenggara dan pengguna jasa telekomunikasi di Indonesia serta terintegrasi dengan jaringan yang telah ada.

Menurut rencana, proyek Palapa Ring ditargetkan menyediakan kecepatan akses 20 Mbps di perkotaan dan 10 Mbps di pedesaan. Jaringan kabel serat optik itu sejalan dengan target Rencana Pita Lebar (broadband) Indonesia 2014-2019.

Jika sesuai rencana, proyek Palapa Ring bisa disebutkan sebagai usaha pemerintah untuk menyamaratakan akses internet di Indonesia.

Selain Palapa Ring, Kemkominfo juga memiliki proyek internet satelit untuk mengakomodir jaringan internet di daerah 3T (terdepan, tertinggal, dan terluar) yang tidak terjangkau oleh Palapa Ring.

Satelit yang disebut Satria (Satelit Indonesia Raya) itu akan meluncur pada 2022. Secara khusus, fasilitas ini ditujukan untuk penyedia layanan publik seperti sekolah, rumah sakit, dan bandara.

"Sembari menunggu penyelesaian Satria yang ditargetkan pada 2020, kita menyediakan akses internet cepat untuk kebutuhan layanan pendidikan, kesehatan, dan pertahanan keamanan dengan kerja sama ini," kata Dirut Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), Anang Latif, dikutip Medcom akhir bulan lalu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR