TEKNOLOGI ANTARIKSA

Ribuan satelit internet SpaceX bersiap kerubungi Bumi

Ilustrasi satelit milik SpaceX
Ilustrasi satelit milik SpaceX | Pixabay

SpaceX adalah perusahaan antariksa swasta dari Amerika Serikat yang dikemudikan oleh seorang pebisnis bernama Elon Musk.

Selain memiliki misi besar yakni membuat pemukiman manusia di Mars, perusahaan tersebut ternyata memiliki misi untuk penduduk di Bumi.

Internet satelit telah ada untuk sementara waktu, tetapi performanya dianggap masih memiliki latensi tinggi dan koneksi yang tidak dapat diandalkan. Hal inilah yang menginspirasi Musk untuk menyediakan layanan internet satelit revolusioner.

Ia mengatakan bahwa usahanya bisa memberi tiga miliar orang yang saat ini tidak memiliki akses ke internet sebuah cara murah untuk terhubung.

Bernama Starlink, proyek internet satelit ini memiliki perbedaan. SpaceX mengatakan bahwa mereka akan meletakkan “konstelasi” satelit di orbit Bumi yang rendah.

Starlink diusulkan untuk menjadi konstelasi satelit internet broadband yang terdiri dari setidaknya 4.425 satelit. Berdasarkan pengajuan yang dilakukan, proyek ini berpotensi untuk memungkinkan menerbangkan hingga 12.000 satelit secara total ke orbit.

Setiap satelit yang direncanakan SpaceX akan memiliki berat sekitar 386 kg. Mereka akan mengorbit pada ketinggian mulai dari 1.150 km hingga 1.275 km sehingga dapat mencakup area di permukaan tanah sekitar luas 2.120 km dari ketinggian dengan jarak tersebut.

Awal tahun ini, SpaceX diberikan persetujuan untuk penyebaran orbital dan otoritas operasi untuk SpaceX NGSO Satellite System oleh Federal Communications Commission (FTC).

Persetujuan tersebut menyatakan bahwa pihak berwenang akan "Memberikan Izin Eksplorasi Ruang Angkasa, LLC untuk membangun, menyebarkan, dan mengoperasikan sistem satelit non-geostasioner (NGSO) yang diusulkan yang terdiri dari 4.425 satelit untuk penyediaan layanan satelit tetap (FSS) di seluruh dunia."

Oleh karena Starlink akan beroperasi di wilayah NGSO yang lebih rendah daripada GEO satelit komunikasi tradisional, maka satelit memiliki keunggulan kompetitif dari pesaingnya dengan memiliki latensi yang lebih kecil—berkat jarak lebih dekat ke Bumi.

Mark Handley di University College London, Inggris, telah membuat simulasi mendetail tentang seperti apa tampilan Starlink.

Handley menunjukkan bahwa proyek tersebut akan sangat menarik bagi dunia perbankan yang mungkin bersedia membayar uang dalam jumlah besar demi koneksi lebih cepat.

Untuk membuat simulasinya, Handley mengambil informasi yang dia dapat dari pengarsipan FCC publik SpaceX dan menggabungkan dengan pengetahuannya tentang jaringan komputer.

Awalnya, Starlink akan terdiri dari 4.425 satelit yang mengorbit antara 1.100 dan 1.300 kilometer di atas permukaan Bumi. Menambahkan hampir seratus persen jumlah satelit aktif di orbit yang ada saat ini.

Jadi, hanya ada satu cara untuk mengatur mereka guna konfigurasi yang meminimalkan risiko tabrakan, kata Handley.

Dia yakin bahwa simulasinya mencerminkan apa yang SpaceX inginkan.

Saat mengirim pesan internet melalui Starlink, stasiun Bumi akan mulai dengan menggunakan gelombang radio untuk berbicara dengan satelit di atasnya.

Lalu, setelah berada di ruang angkasa, pesan akan ditembakkan dari satelit ke satelit menggunakan laser sampai di atas tujuannya. Dari sana, akan dipancarkan ke stasiun di permukaan yang menggunakan gelombang radio lagi.

Di antara tempat-tempat yang berjauhan, meskipun harus melakukan perjalanan ke ruang angkasa dan kembali, teknik ini akan memungkinkan pesan untuk dikirim sekitar dua kali lebih cepat daripada melalui serat optik di Bumi--yang saat ini menghubungkan internet.

Hal tersebut terjadi karena kecepatan sinyal di material kaca lebih lambat daripada melalui ruang angkasa.

Bagi kebanyakan orang, internet yang ada saat ini sudah cukup cepat.

Namun, untuk aplikasi tertentu, seperti perdagangan saham frekuensi tinggi, di mana keberuntungan dapat dibuat dan hilang dalam hitungan milidetik--yang bisa bernilai miliaran Dollar AS-kecepatan internet masih belum mumpuni.

Simulasi ini juga mengungkapkan bahwa akan ada lebih banyak satelit dan cakupan yang lebih baik pada garis lintang antara 47 dan 52 derajat utara dan selatan, kira-kira di atas London, Paris, dan Frankfurt, dan tidak jauh dari New York, lokasi pusat perdagangan internasional.

Proyek ini mulai membuat kemajuan signifikan tahun ini dengan peluncuran dua satelit uji pertama pada bulan Februari.

Biaya proyek Starlink diperkirakan mencapai sekitar 10 miliar USD (Rp148 triliun).

Menurut United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA), ada 4.857 satelit yang mengorbit Bumi pada 2018, dengan 1.980 di antaranya beroperasi. Ada lebih banyak juga sampah potongan roket dan potongan-potongan sampah lainnya yang beredar.

Ketika SpaceX telah berhasil menyebarkan konstelasi satelit, mereka sudah berhasil melipatgandakan jumlah satelit di orbit. Ketika meluncurkan gelombang kedua, jumlah itu otomatis akan berlipat ganda lagi. Perusahaan menargetkan tahun 2020 untuk meluncurkan layanannya dan berencana untuk meluncurkan gelombang satelit pertama pada akhir tahun depan.

SpaceX mengatakan dengan memindahkan satelit-satelit miliknya ke ketinggian yang lebih rendah memiliki dampak positif.

Awalnya, perusahaan mengatakan membutuhkan 1.600 satelit untuk beroperasi di ketinggian 1.110 kilometer, tetapi memindahkannya lebih rendah (beroperasi pada ketinggian 550 kilometer saja) berarti perusahaan bisa mendapatkan hasil yang sama dengan pengurangan 16 wahana satelit.

Ketinggian yang lebih rendah turut memudahkan proses untuk membuang satelit-satelit ini begitu tugasnya selesai di angkasa.

Pada ketinggian ini, partikel dari atmosfer Bumi membombardir wahana ruang angkasa lebih cepat, mendorongnya keluar dari orbit dan menyeretnya ke dalam planet. Dalam perjalanan turun, mereka akan terbakar di atmosfer.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR