Risiko di balik teknik geoengineering

Ilustrasi tsunami yang menyerang kota besar, seperti yang sering digambarkan dalam film fiksi ilmiah
Ilustrasi tsunami yang menyerang kota besar, seperti yang sering digambarkan dalam film fiksi ilmiah | Pixabay

Tema bencana alam ternyata masih menjadi kesukaan para pembuat film. Khususnya di Hollywood, Geostorm merupakan film terbaru yang mengangkat tema mengenai bencana.

Film yang dibintangi oleh Gerard Butler ini bercerita mengenai bencana alam yang terjadi di Bumi, berakar dari masalah pemanasan global.

Sebanyak 18 negara diceritakan bekerja sama untuk membuat sebuah serangkaian satelit pengendali cuaca bernama "Dutch Boy". Awalnya semua berjalan dengan baik, namun saat terjadi malfungsi sistem, yang terjadi malah satelit tersebut "memanggil" sejumlah bencana alam seperti tsunami.

Memang Geostorm merupakan sebuah cerita fiksi ilmiah, bukan dokumenter. Tapi ide cerita tersebut memiliki kaitan dengan kondisi Bumi saat ini.

Dilansir dari The Guardian (14/10), berdasarkan ucapan dari orang-orang di atau dekat dengan pemerintahan Trump-terutama Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, yang pernah merujuk perubahan iklim sebagai "hanya masalah rekayasa", pernyataan tersebut menjelaskan secara langsung atau tidak akan dukungan gagasan mengenai teknik perekayasaan kebumian (geoengineering).

"Salah satu masalah utama yang saya dan semua orang terlibat dalam hal ini, adalah bahwa Trump mungkin mengira geoengineering memecahkan segalanya dan kita tidak perlu mempedulikan emisi. Hal itu akan merusak kesepakatan yang lamban di antara banyak kelompok lingkungan yang menyuarakan penelitian dalam bidang ini," kata David Keith di sela Konferensi Teknik Iklim (CEC) di Berlin, Jerman.

Keith, pakar geoengineering surya di Harvard University, Amerika Serikat, mengatakan ada bahaya nyata bahwa teknik geoengineering dapat dimanfaatkan oleh mereka yang menentang tindakan terhadap emisi.

Teknik geoengineering bisa sesederhana menanam pohon untuk meredakan kandungan karbondioksida (CO2) dari udara guna menghilangkan efek gas rumah kaca, atau serumit mencoba menggunakan cermin raksasa untuk memantulkan sinar matahari ke ruang angkasa, atau menggunakan pompa bertenaga angin untuk mengisi kembali bagian-bagian Arktik yang telah terkena dampak pemanasan global.

Gagasannya adalah bahwa hanya mengurangi emisi CO2 mungkin tidak cukup untuk memperlambat perubahan iklim, sehingga harus ada pendekatan pelengkap yang diteliti dan siap diterapkan.

Awal tahun ini, Keith mengumumkan rencana untuk melakukan uji coba di luar ruangan terhadap injeksi aerosol stratosfer. Melibatkan peluncuran balon ketinggian tinggi yang akan menyemprot sejumlah kecil partikel reflektif ke stratosfer.

Gagasan di balik penelitian Keith adalah bahwa partikel halus yang tersebar di lapisan stratosfer atas dapat memantulkan sejumlah sinar matahari dan mengurangi atau mempertahankan suhu global.

Ini adalah konsep yang serupa dengan seberapa besar letusan gunung berapi yang mampu menurunkan suhu global, seperti letusan Gunung Pinatubo pada tahun 1991 di Filipina, kata Keith.

Hembusan awan abu vulkanik dari letusan Gunung Pinatubo di Filipina tahun 1991
Hembusan awan abu vulkanik dari letusan Gunung Pinatubo di Filipina tahun 1991 | D. Harlow /WIkimedia Commons

Meski demikian, teknik seperti injeksi aerosol stratosfer dikatakan oleh beberapa ahli dapat menurunkan intensitas hujan dari musim hujan di Asia dan Afrika. Selain itu juga dapat berpengaruh buruk pada pasokan makanan miliaran orang.

Injeksi aerosol juga memiliki potensi menurunkan lapisan ozon dan meningkatkan risiko terpapar sinar ultraviolet.

Efek samping geoengineering lainnya mungkin adalah peningkatan pengasaman laut, perubahan pola cuaca, kenaikan suhu yang cepat, dan serapan yang besar dalam penggunaan lahan pertanian, yang semuanya dapat mendorong migrasi massal.

Namun ilmuwan seperti Keith, dan Mark Lawrence, direktur ilmiah Institute for Advanced Sustainability Studies (IASS) di Potsdam, Jerman, berpendapat bahwa dengan kesepakatan di Paris--untuk membatasi kenaikan suhu global hingga dua derajat atau kurang, hampir tidak mungkin dicapai. Dunia memiliki sedikit pilihan selain untuk benar-benar mengeksplorasi intervensi teknis dan potensi yang dimiliki harus terhindar dari bencana global.

"Akan sangat sulit untuk mencapai kesepakatan Paris tanpa sejumlah bentuk rekayasa iklim," kata Lawrence. "Bukan tidak mungkin, tapi sulit membayangkan kita akan membuat perubahan besar dalam infrastruktur dan gaya hidup kita pada saat yang dibutuhkan."

Keith juga menolak pandangan bahwa insinyur iklim seperti dirinya sedang dalam misi untuk membuktikan bahwa teknik iklim bekerja dengan segala cara, atau melihat betapa pentingnya puluhan tahun kerja kehidupan mereka menguap.

Keith mengatakan bahwa dia mengakui ilmu geoengineering surya belum terbukti, dan mungkin belum saatnya menggunakannya. Tapi dia mendukung riset potensinya.

"Omong kosong untuk mengklaim bahwa kita harus melakukannya," katanya. "Tapi saya pikir mengetahui lebih banyak tentang sesuatu yang berpotensi sangat berguna untuk mengurangi risiko iklim sangat penting."

Atas keinginan tersebut, para ilmuwan mulai beralih ke pendanaan pribadi.

Harvard University misalnya, baru-baru ini meluncurkan Solar Geoengineering Research Program, yang didanai oleh Bill Gates, Hewlett Foundation, dan lain-lain. Sebagai bagian dari program ini, David Keith dan Frank Keutsch sudah merencanakan percobaan skala kecil untuk menyuntikkan partikel yang memantulkan sinar matahari ke stratosfer di atas kota Tucson, Arizona, AS.

Percobaan tersebut tergolong berskala sangat kecil, dan tidak akan menjadi yang pertama. Namun percobaan tersebut bertujuan untuk menghasilkan informasi baru tentang apakah dan bagaimana partikel semacam itu suatu hari nanti dapat digunakan untuk mengendalikan jumlah sinar matahari yang mencapai Bumi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR