KEHAMILAN

Risiko keguguran meningkat saat ibu kerja malam

Ilustrasi ibu hamil bekerja.
Ilustrasi ibu hamil bekerja. | Donot6_Studio /Shutterstock

Ibu yang bekerja saat hamil perlu lebih berhati-hati. Terutama bagi yang bekerja di malam hari. Aktivitas ini mungkin berbahaya bagi janin dalam kandungan.

Ketangguhan ibu bekerja tak perlu dipertanyakan. Mereka bekerja di kantor seharian, lalu pulang dan kembali bekerja mengurus rumah juga anak.

Saat hamil pun demikian. Sementara banyak ibu yang punya jam kerja standar 9 hingga 5 sore, ada sebagian ibu hamil yang bekerja di malam hari. Baik itu shift maupun lembur.

Penelitian baru melaporkan, ini bisa berbahaya bagi ibu dan bayi. Sebab, bekerja larut malam bisa meningkatkan risiko keguguran.

Studi yang dipublikasikan dalam Occupational & Environmental Medicine menunjukkan, ibu hamil sebaiknya menghindari kerja shift malam selama kehamilan jika memungkinkan.

Peneliti menyimpulkan ini setelah mengamati data penggajian di Denmark untuk 22.744 ibu hamil yang bekerja di bidang pelayanan publik.

Mereka membandingkannya dengan angka kelahiran dan pasien keguguran di rumah sakit, untuk menentukan bagaimana shift malam memengaruhi risiko keguguran antara usia kehamilan empat hingga 22 minggu.

Temuan menunjukkan ibu yang bekerja lebih dari dua shift malam memiliki peluang keguguran 32 persen lebih tinggi pada minggu kedelapan kehamilan atau lebih.

Para peneliti menyimpulkan, semakin sering ibu hamil bekerja shift malam dalam satu minggu, semakin tinggi peluangnya mengalami keguguran. Belum lagi, risiko keguguran tampak lebih besar setelah kehamilan berusia delapan minggu.

"Ini mungkin dijelaskan oleh penurunan proporsi janin abnormal secara kromosom dengan usia kehamilan, yang membuat hubungan dengan paparan lingkungan lebih mudah terdeteksi di antara keguguran di kemudian hari," jelas para peneliti dalam rilis penelitian.

Penting untuk dicatat, karena ini adalah penelitian observasional, penyebab keguguran sebenarnya tidak terlalu jelas.

"Ibu yang bekerja shift malam terpapar lampu di malam hari. Ini mengganggu ritme sirkadian dan mengurangi pelepasan melatonin," jelas penulis utama riset Dr. Luise Molenberg Begtrup.

"Melatonin telah terbukti penting dalam menjaga kehamilan yang sehat dengan menjaga fungsi plasenta," lanjutnya.

Satu hal yang tidak diperhitungkan dalam studi ini adalah realitas bahwa sebagian besar ibu tetap harus bekerja selama kehamilan, termasuk yang harus bekerja shift malam. Faktanya, 72,3 persen perempuan tetap bekerja saat hamil.

Jika Anda adalah salah satunya, tak perlu khawatir berlebihan. Penelitian ini belum menyajikan informasi yang solid.

Konsultasikan dengan dokter kandungan. Perhatikan juga sinyal-sinyal yang ditunjukkan tubuh.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, definisi keguguran adalah kehamilan yang berakhir prematur secara spontan (alamiah) pada usia embrio/janin di bawah 20 minggu kehamilan--18 minggu setelah pembuahan--atau, jika usia kehamilan tidak diketahui, dan berat embrio/ janin kurang dari 400 gram.

Di Indonesia kasusnya berbeda. Kebanyakan perempuan bukan mengalami keguguran (abortus) secara alami.

"Membicarakan aborsi adalah hal yang sensitif, apalagi karena hukumnya ilegal. Tapi jumlahnya memang cukup banyak sekitar 2,5 jutaan setiap tahun. Jika jumlah ini benar, maka angka aborsi jika dihitung sudah hampir separuh dari angka kelahiran di Indonesia," kata Sudibyo Alimoesa, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN kala itu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, mengungkap perkiraan jumlah kelahiran di Indonesia 5 Juta jiwa per tahun. Sementara angka keguguran sebesar 3,5 juta per tahun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR