Robot penyelamat yang terinspirasi tanaman merambat

Robot yang dibuat seperti tanaman merambat.
Robot yang dibuat seperti tanaman merambat. | L.H. Blumenschein

Selama ini robot sering dibuat meniru kehidupan manusia. Publik terbiasa dengan bot yang meniru manusia dan hewan, tapi faktanya ada banyak kehidupan di luar yang bisa menginspirasi mesin.

Ilmuwan Universitas Stanford di California, AS, misalnya, mengembangkan sebuah robot lunak baru. Robot itu dilengkapi kamera yang bisa tumbuh dan merambat ke dalam celah kecil seperti pohon anggur.

Menurut kabarTribune India, Jumat (21/7/2017), robot ini memang terinspirasi oleh organisme alami yang mampu menembus sekat rapat seperti layaknya tanaman merambat, jamur, dan sel saraf. Robot ini berguna untuk mencari orang yang terperangkap di reruntuhan bangunan yang roboh akibat gempa.

"Intinya, kami mencoba memahami dasar-dasar pendekatan baru untuk mendapatkan mobilitas atau gerakan keluar dari mekanisme," kata Profesor Allison Okamura dari Universitas Stanford soal penelitiannya yang diterbitkan dalam jurnal Science Robotics.

Untuk menyelidiki kemampuan robot itu, Okamura dan kawan-kawan membuat purwarupa yang bisa bergerak melalui berbagai rintangan, berjalan menuju tujuan yang telah ditentukan, dan tumbuh menjadi struktur yang berdiri sendiri.

Robot ini bisa melayani berbagai tujuan, terutama di bidang pencarian dan penyelamatan serta peralatan medis, kata periset tersebut.

Dengan bodi yang terbuat dari bahan polietilen (bahan yang sama dengan tas kelontong plastik), robot tersebut melebar melalui inflasi dan didorong oleh pompa dari matras udara bertenaga baterai. Dengan antena fleksibel yang disalurkan melalui tubuhnya, robot bisa melengkung ke atas.

Dari selongsong selebar 11 inci, robot bisa meluas hingga 236 kaki atau hampir 80 meter dan mengalami peningkatan ukuran sebanyak 25.000 persen. Bahkan robot ini bisa meluncur ke bawah atau berbelok di tikungan untuk mencapai tujuannya. Dalam versi lain, cairan bisa menggantikan tekanan udara.

"Tubuh bisa menempel atau macet di antara bebatuan, tapi itu tidak menghentikan robot karena ujungnya bisa terus maju seiring materi baru ditambahkan hingga akhir," imbuh Elliot W. Hawkes, salah seorang periset.

Kelompok ini menguji manfaat dari metode ini untuk mendapatkan robot dari satu tempat ke tempat lain dengan beberapa cara.

Robot tumbuh melalui rintangan dan ia bisa menempuh lembaran kertas yang tipis, lem lengket, kuku, dan bisa menaiki dinding es untuk menghasilkan sensor yang berpotensi merasakan karbondioksida yang dihasilkan oleh para penyintas dalam jebakan.

Pada demonstrasi lainnya, robot dapat mengangkat peti seberat 100 kilogram, tumbuh di bawah celah pintu yang berdiameter 10 persen dan berputar pada dirinya sendiri untuk membentuk struktur berdiri bebas yang kemudian mengirimkan sinyal radio.

Robot juga bermanuver melalui ruang di atas langit-langit yang terjatuh, yang menunjukkan bagaimana ia bisa menemukan jalan (navigasi) di sebuah rintangan yang tidak diketahui. Robot ini bisa seperti ada di dinding, di bawah jalan, atau di dalam pipa.

Selanjutnya, ia menarik kabel dari tubuhnya saat tumbuh di atas langit-langit yang jatuh dan menawarkan metode baru untuk memasang kabel di ruang yang rapat.

"Kami fokus pada kemampuan robot bergerak melalui lingkungan yang sulit, yang tidak bisa diprediksi, dan ada ruang yang tidak diketahui," kata Laura Blumenschein, seorang mahasiswa pascasarjana di laboratorium Okamura.

Pada masa depan, demikian ditulis Popular Science (20/7), robot akan menggunakan bahan yang lebih kuat seperti rip-stop nylon atau kevlar. Dan untuk aplikasi bedah, Hawkes mengatakan tim berharap bisa mengujinya dalam waktu dekat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR