KECERDASAN BUATAN

Saat AI belajar membuat lukisan telanjang

Ilustrasi kecerdasan buatan
Ilustrasi kecerdasan buatan | Elnur /Shutterstock

Pesatnya teknologi membuat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat melakukan banyak hal. Terbaru, seorang remaja dari Virginia Barat, Amerika Serikat, mengajarkan AI untuk menghasilkan lukisan telanjang.

Mulai dari mengidentifikasi orang-orang yang depresi melalui pemindaian unggahan Instagram, hingga memprediksi secara akurat embrio mana yang membuat proses IVF sukses sudah bisa dilakukan.

Secara teknis, AI juga sudah cukup mumpuni dalam hal memperbaiki gambar yang rusak. Tetapi dalam membuahkan karya seni, tampaknya AI masih harus banyak belajar. Robbie Barrat membuktikannya ketika mengajarkan AI untuk menghasilkan lukisan telanjang.

Dengan memberi asupan ribuan lukisan telanjang ke GANs (Generative Adversarial Networks), Barrat berhasil membuat AI yang menghasilkan sejumlah lukisan telanjang namun abstrak.

GANs adalah kelas algoritma kecerdasan buatan yang digunakan dalam pembelajaran mesin tanpa pengawasan. Sistem akan menggali dua sistem komputer--sebuah generator dan sebuah pembeda (diskriminator)--terhadap satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu.

Diciptakan pada tahun 2014 oleh anggota Google Brain Team, Ian Goodfellow, pendekatan jaringan neural telah digunakan tahun lalu oleh NVIDIA dalam upaya untuk menghasilkan profil manusia menggunakan wajah-wajah terkenal. Bisa dikatakan, proyek NVIDIA lebih berhasil ketimbang proyek Barrat.

"Lukisan yang dihasilkan tidak realistis," kata Barrat. "Mesin ini gagal mempelajari semua atribut tepat yang ditemukan dalam lukisan telanjang dan malah jatuh ke dalam loca minima--generator dan diskriminator terjebak dalam satu lingkaran, keduanya terus berusaha mengelabui satu sama lain--di mana ia menghasilkan gumpalan daging yang surealis," papar laki-laki berusia 18 tahun itu.

Barrat pun bertanya-tanya apakah seperti itu gambaran mesin ketika melihat manusia.

Pengaruh AI tentu lebih menonjol dalam proyek Barrat ketimbang pada sebagian besar karya seni komputer. Tetapi sementara hasilnya tidak seperti yang diharapkan Barrat, ia mengatakan hasilnya jauh lebih baik apa adanya.

"Apakah saya ingin hasilnya menjadi lebih realistis? Sama sekali tidak," katanya. "Saya ingin AI menghasilkan jenis seni baru yang belum pernah kita lihat sebelumnya; tidak memaksakan berlakunya perspektif manusia akan hal itu."

Lebih lanjut lagi, Barrat menuturkan bahwa generator mencoba untuk menghasilkan lukisan yang menipu para diskriminator, dan diskriminator mencoba untuk belajar membedakan antara lukisan "palsu" yang diberi umpan oleh generator dan lukisan nyata dari kumpulan lukisan telanjang.

"Kedua komponen ini selalu mencoba untuk menipu satu sama lain, dan seiring waktu, generator menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dalam membuat lukisan baru, dan diskriminator menjadi semakin baik lagi dalam membedakan lukisan yang dihasilkan."

Selain lukisan manusia, Barrat juga melatih AI untuk menghasilkan lukisan cat minyak dengan objek lanskap. Sementara AI memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghasilkan gambar lingkungan, Barrat tidak selalu mencari hasil yang paling sempurna.

"Seseorang dapat mengatakan bahwa apapun yang dilukis AI memiliki sedikit gagasan tentang bagaimana dunia fisik bekerja," tulis Barrat di situsnya. Ia menggambarkan hasil cukup realistis tetapi anehnya surealis, dengan menampilkan pohon bercabang mengambang, dan banyak pohon yang batang-batangnya tergabung.

Barrat kini bekerja sebagai peneliti di Stanford University School of Medicine, membantu dalam penelitian dalam bidang "persimpangan kecerdasan buatan dan genomik".

Memperbaiki gambar yang rusak

Selain membuat karya orisinil, AI juga sudah dapat memperbaiki gambar rusak atau yang hilang sebagian citranya.

Proyek ini dilakukan oleh NVIDIA, sebuah perusahaan Amerika Serikat yang memiliki ide melahirkan metode baru untuk menyunting gambar kompleks menggunakan jaringan saraf guna mengisi bagian yang kosong.

Yang harus pengguna lakukan adalah mengeklik dan seret area yang akan diisi dan gambar akan langsung diperbarui. Layaknya memulihkan foto lama yang telah rusak, teknik ini juga dapat digunakan untuk memperbaiki piksel yang rusak atau proses penyuntingan yang buruk pada fail digital.

NVIDIA melatih sistem jaringan sarafnya menggunakan berbagai lubang berbentuk tidak beraturan dalam gambar. Sistem kemudian menentukan apa yang hilang dari masing-masing lubang dan mengisi kekosongannya.

Sistem sebelumnya yang telah mencoba mengisi kekosongan dalam gambar mengandalkan data dari bagian-bagian gambar di sekitar bagian yang hilang. Sistem meminjam warna dari piksel terdekat untuk mengisi celah.

Untuk kasus mengisi area kecil, cara seperti ini sudah cukup baik. Tapi jika kekosongan dalam ukuran yang besar atau lebih rumit, cara tersebut dapat menyebabkan distorsi visual yang malah akan merusak gambar.

Sedangkan cara AI Nvidia di sisi lain mampu menyelesaikan tugas yang sama dalam hitungan detik. Jauh lebih cepat dari yang bisa dilakukan seniman grafis profesional dalam hal yang sama, yang bisa memakan waktu hitungan menit atau jam.

Temuan lengkap dari penelitian ini dipublikasikan di Arxiv.

Research at NVIDIA: AI Reconstructs Photos with Realistic Results /NVIDIA
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR