KONSERVASI SATWA

Saat Tiongkok ubah kebijakan pemanfaatan badak dan harimau

Seekor badak bercula satu yang berada di Kebun Binatang Guangzhou, Tiongkok,
Seekor badak bercula satu yang berada di Kebun Binatang Guangzhou, Tiongkok, | nidchita /Shutterstock

Tiongkok mengambil ancang-ancang untuk mencabut larangan eksploitasi badak dan harimau. Kebijakan ini pun langsung menuai sorotan.

Kebijakan itu sebenarnya belum diumumkan secara resmi. Selain itu, sebenarnya, Kementerian Budaya Tiongkok menjelaskan kebijakan baru justru lebih ketat.

Dalam rilis resmi terbaru pada Senin (29/10/2018), lembaga termaksud menjelaskan bahwa pemanfaatan seluruh bagian badak dan harimau harus disetujui otoritas.

Mereka juga akan mengendalikan penjualan badak dan harimau, termasuk produk turunannya. Bahkan seluruh organ dua hewan itu, misal cula dan tulang, hanya dapat digunakan untuk pameran publik.

Pemerintah Tiongkok juga mewajibkan produk turunan harus diolah dari badak dan harimau dari penangkaran atau peternakan. Kegiatan jual-beli juga mesti mendapat persetujuan otoritas berwenang.

Seluruh perubahan kebijakan ini diklaim Tiongkok untuk mengantisipasi perdagangan di pasar gelap yang melibatkan negara lain, umumnya dari benua Afrika.

Masyarakat Tiongkok selama ini dikenal lazim menggunakan produk turunan dari badak dan harimau. Cula badak dan tulang harimau, misalnya, dipakai untuk obat tradisional.

Namun dengan kebijakan ini, rumah sakit yang akan menggunakan materi tersebut sebagai bahan obat pun harus memenuhi syarat dan terdaftar dalam Kementerian Media Tradisional Tiongkok. Dokter yang bertanggung jawab pun harus memenuhi kualifikasi dan mumpuni.

Bagian-bagian hewan yang digolongkan sebagai barang antik nantinya juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pertukaran budaya jika disetujui oleh otoritas.

"Dalam keadaan khusus, peraturan tentang penjualan dan penggunaan produk-produk ini akan diperkuat dan segala tindakan terkait akan diawasi," demikian penjelasan dalam rilis tersebut.

Namun, menurut Radii China, Rabu (31/10), perubahan kebijakan baru itu sama saja dengan mencabut pelarangan yang ditetapkan Tiongkok pada 1993.

Sedangkan menurut pandangan para aktivis satwa liar, langkah tersebut justru jauh lebih mengancam dan akan menggiring hewan-hewan lebih dekat kepada kepunahan. Kebijakan ini juga dikhawatirkan akan memancing banyak pedagang untuk lebih berani merampok dan menimbun produk terkait.

"Sesungguhnya, orang-orang sedang bertaruh dengan kepunahan," kata Colman O’Criodain, spesialis perdagangan satwa liar dari World Wildlife Fund (WWF) seperti dikutip TIME, Selasa (30/10).

Iris Ho, tokoh senior untuk Wildlife Program and Policy di Humane Society International, pun sependapat. Ia mengatakan bahwa kebijakan ini dianggap sebagai "surat kematian" oleh para pelaku konservasi.

"Ini merupakan pukulan dahsyat bagi pekerjaan kami yang tengah berjuang untuk menyelamatkan spesies dari eksploitasi dan kepunahan yang kejam. Itu sebabnya kami mohon kepada pemerintah Tiongkok untuk mempertimbangkan kembali," pinta Ho seperti dikutip CNN.com, Selasa (30/10).

Keputusan ini hanya berselang satu tahun setelah pemerintah Beijing mengumumkan larangan semua perdagangan gading di negara itu.

Tiongkok disebut kesulitan mengatur perdagangan gading, baik di pasar legal maupun ilegal. Adapun revisi kebijakan untuk badak dan harimau ini dikhawatirkan akan memberi perlindungan terhadap perdagangan ilegal dan merangsang permintaan.

Khasiat tak terbukti

Sementara itu, menurut data WWF pada 2010, Tiongkok memiliki sekitar 6.500 harimau di penangkaran. Sementara itu menurut Rhino 911, jumlah badak yang ada di alam liar di seluruh dunia diperkirakan hanya tersisa 35 ribu -- termasuk jenis badak hitam, badak putih, badak bercula satu, badak sumatra, dan badak jawa.

Menurut lembaga pengobatan tradisional Tiongkok (TCM), kedua hewan tersebut memang memiliki banyak manfaat. Mulai dari cula badak yang dapat digunakan untuk penyembuhan demam hingga keracunan makanan. Lalu tulang harimau kerap dimanfaatkan untuk pembuatan minuman anggur dan suplemen penambah stamina kaum adam.

Praktik pengobatan ini menghasilkan keuntungan besar. Pelakunya di Tiongkok tercatat sekitar 500 ribu orang.

Meski begitu, dalam World Federation of Chinese Medicine Societies pada 2010, dijelaskan bahwa cula badak dan tulang harimau tak terbukti punya khasiat medis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR