PERUBAHAN IKLIM

Salju turun di Sahara saat cuaca ekstrem melanda dunia

Foto yang diambil NASA Earth Observatory pada 11 Januari 2018 ini menunjukkan salju menutupi beberapa bagian Gurun Sahara, dekat kota Ain Sefra di bagian utara Aljazair.
Foto yang diambil NASA Earth Observatory pada 11 Januari 2018 ini menunjukkan salju menutupi beberapa bagian Gurun Sahara, dekat kota Ain Sefra di bagian utara Aljazair. | NASA Earth Observatory /EPA-EFE

Lagu "Snow On The Sahara" yang dinyanyikan Anggun pernah menjadi hit sekitar tahun 1997. Liriknya yang unik, membuat lagu ini menarik. Ya, bagaimana mungkin salju dapat turun, mengingat Sahara merupakan gurun yang sangat panas dan nyaris tak ada sumber air.

Tapi faktanya, salju benar-benar pernah turun di Sahara. Bahkan hal itu sudah tiga kali turun di kawasan kota Ain Sefra, Aljazair, sejak peristiwa pertama pada 18 Februari 1979. Saat itu hujan salju terjadi selama setengah jam di kota yang berbatasan dengan Maroko itu.

Lama tak terulang, hujan salju kedua terjadi pada 19 Desember 2016 di bagian gurun yang sama. Padahal temperatur kawasan tersebut rata-rata mencapai 37 derajat Celsius.

Memang, ketika musim dingin suhu di Ain Sefra bisa turun hingga minus 0,5 derajat Celsius, tetapi curah hujan yang amat kecil membuat turunnya salju nyaris tidak mungkin.

Saat itu para pakar menyatakan perubahan iklim adalah penyebab utama turunnya salju di Gurun Sahara.

Sepertinya rentang turunnya salju di Sahara, gurun dengan luas 9,4 juta kilometer persegi, semakin pendek. Pada Minggu (7/1/2018), salju kembali menutupi beberapa bagian gurun di dekat Ain Sefra dengan ketebalan hingga 38 cm. Demikian dikabarkan Washington Post.

Ain Sefra populer dengan predikatnya sebagai "Gerbang Menuju Sahara". Kota ini terletak sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Suhu rata-rata pada musim dingin di daerah itu mencapai 12 derajat Celcius pada Januari.

Para fotografer lokal dan satelit pun berlomba mengambil gambar dari momen langka ini. Salah satunya adalah Karim Bouchetata, seorang fotografer amatir yang tinggal di Ain Sefra. Ia berhasil menangkap gambar hamparan salju yang menyelimuti Sahara.

"Kami sangat terkejut ketika bangun pagi dan melihat salju lagi. Itu bertahan seharian selama hari Minggu dan mulai mencair sekitar pukul 5 sore," tulis Bouchetata seperti diterjemahkan oleh Mashable.

Tahun ini salju di Sahara tercatat sebagai yang paling lama dan paling tebal.

Menurut juru bicara lembaga pemantau cuaca dan perubahan iklim, Met Office, peristiwa turunnya salju di kawasan gurun ini merupakan suatu anomali yang unik.

"Sepertinya gambar bersalju tersebut diambil di wilayah yang lebih tinggi di utara kawasan menuju wilayah Atlas. Jadi tidak mengherankan jika daerah itu melihat salju dalam beberapa kondisi jika memang benar," ucap juru bicara Met Office kepada The Independent, Selasa (9/1/2018).

"Dengan situasi di Eropa saat ini, yang dilanda cuaca dingin selama akhir pekan kemarin, udara dingin serta kelembaban akan terdorong ke selatan terutama ke wilayah itu yang bisa memicu turunnya salju," lanjutnya.

Dengan pergeseran cuaca dan juga perubahan pada kemiringan poros bumi, para ilmuwan pun memprediksi bahwa Gurun Sahara bisa menjadi hijau kembali di masa mendatang. Proses itu akan memakan waktu sekitar 15 ribu tahun lamanya.

Gelombang cuaca ekstrem

Seorang laki-laki tampak menyirami atap rumahnya di Carrum Downs, Melbourne, Australia (6/1/2018). Suhu panas ekstrem saat ini sedang melanda Benua Australia.
Seorang laki-laki tampak menyirami atap rumahnya di Carrum Downs, Melbourne, Australia (6/1/2018). Suhu panas ekstrem saat ini sedang melanda Benua Australia. | James Ross /EPA-EFE

Selain di Sahara, saat ini suhu ekstrem juga melanda beberapa wilayah di Pantai Timur Amerika Serikat, Kanada, serta beberapa negara di Eropa.

Nyaris seluruh negara bagian di Amerika Utara seperti Massachusetts, Rhode Island, Connecticut, New York, New Jersey, dan sebagainya dilanda badai "bom siklon". Di beberapa tempat suhu turun hingga -38 derajat Celsius dan tiupan angin kencang membuat suhu terasa seperti -70 derajat Celsius.

Lalu di Eropa, beberapa wilayah di Prancis dan Swiss juga mengalami badai salju yang sangat lebat hingga membuat sekitar 13.000 turis terjebak di Pegunungan Alpen.

Sementara itu, Australia justru mengalami sebaliknya. Suhu ekstra panas tengah melanda Negeri Kanguru ini. Pada Minggu (7/1/2018) Kota Sydney tercatat dilanda badai panas yang menyebabkan kenaikan suhu hingga 47 derajat Celcius. Suhu itu tercatat sebagai yang terpanas sejak 1939 dan menjadikan Sydney sebagai kota terpanas di dunia.

Aspal meleleh, kebakaran hutan, serta matinya beberapa jenis hewan karena gelombang panas pun jadi tak terelakkan.

Sementara itu di kawasan Arktik, temperatur naik hingga di atas titik beku. Bahkan ada yang mencapai 20 derajat Celsius--angka yang tidak normal untuk ukuran suhu di daerah kutub. Secara keseluruhan, suhu di Arktik lebih panas 3 derajat Celsius ketimbang biasanya.

BACA JUGA