PENCEMARAN LINGKUNGAN

Sampah plastik terbanyak ada di pantai Sulawesi dan Jawa

Nelayan menyandarkan perahunya di bibir pantai yang dipenuhi sampah plastik di Desa Dadap, Indramayu, Jawa Barat, Senin (26/11/2018).
Nelayan menyandarkan perahunya di bibir pantai yang dipenuhi sampah plastik di Desa Dadap, Indramayu, Jawa Barat, Senin (26/11/2018). | Dedhez Anggara /Antara Foto

Peneliti Pencemaran Laut pada Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Reza Cordova, mengatakan bahwa setiap satu meter persegi pantai di Indonesia terdapat hampir dua buah sampah plastik.

"Rataan sampah plastik yang ditemukan di seluruh pantai Indonesia setiap bulannya adalah 1,71 buah per meter persegi, dengan berat rata-rata 46,55 gram per meter persegi," kata Reza dikutip dari Antara (30/11).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, menurutnya, rataan sampah plastik yang tertinggi ditemukan di pantai di Pulau Sulawesi, mencapai 2,35 buah per meter persegi. Selanjutnya diikuti dengan pantai di Pulau Jawa yang mencapai 2,11 buah sampah plastik per meter persegi.

Sedangkan, berdasarkan perhitungan kasar dan asumsi sederhana, Reza mengatakan sampah plastik yang masuk ke laut diprediksi mencapai 100.000 hingga 400.000 ton per tahun. Angka tersebut, menurut Reza, tidak termasuk sampah plastik yang masuk dari luar perairan Indonesia. Semua hanya berasal dari Indonesia.

“Tetapi ini perlu kajian lebih lanjut, sedang kami lakukan, sehingga bisa mendapatkan data yang lebih detail dan tepat,” katanya.

Reza mengatakan, pihaknya masih melanjutkan penelitian terkait sampah plastik ini, termasuk menghitung plastik mikro yang mencemari laut Indonesia.

Plastik mikro adalah partikel plastik berdiamater kurang dari 5 milimeter (mm) atau sebesar biji wijen hingga 330 mikron (0,33 mm). Sedangkan ada satu lagi kategori yaitu plastik nano yang ukurannya lebih kecil dari 330 mikron.

Sampah plastik ini menjadi salah satu indikasi yang menggambarkan parahnya pencemaran di laut Indonesia. Plastik yang termakan oleh biota laut akan mengganggu kesehatan, terutama saluran pencernaannya.

Biota laut yang menelan sampah tersebut tidak akan bisa menyerap nutrisi secara baik. Apalagi jika jumlahnya mencapai hingga puluhan kilogram--seperti kasus terbaru paus di Wakatobi, tentu mengancam keberadaan biota laut.

Reza mengatakan, mengurangi konsumsi plastik sekali pakai menjadi salah satu solusi persoalan sampah di pulau-pulau kecil di Indonesia. Menurutnya, di pulau kecil jumlah pencemaran sampah plastiknya kemungkinan kecil, karena konsumsi plastik di daerah itu lebih rendah dibandingkan dengan di pulau-pulau besar.

"Solusi penanganan sampah plastik untuk pulau-pulau kecil di Indonesia seperti apa sebenarnya masih perlu dirumuskan. Tapi yang perlu ditekankan, kurangi konsumsi plastik sekali pakai," jelasnya.

Pedang bermata dua

Saat argumen seputar pengurangan atau pelarangan plastik sekali pakai seperti sedotan, piring, dan peralatan makan semakin digaungkan, sebanyak 40 akademisi dari Heriot-Watt University di Edinburgh, Skotlandia, percaya argumen tersebut layaknya pedang bermata dua.

"Fokus pada tahap ini harus bekerja dengan produsen untuk mengembangkan alternatif yang sesuai, juga untuk pengumpulan dan pembuangan yang tepat dari plastik sekali pakai, sehingga orang cacat tidak lebih terpinggirkan," kata Kate Sang, salah satu akademisi, dalam situs Heriot Watt University.

"Menyalahkan individu untuk membuat pilihan berdasarkan bahan yang tersedia bagi mereka, apakah itu penggunaan tunggal konsumsi plastik atau pembuangan, menyoroti masalah sosial dan struktural."

Dia menjelaskan bahwa banyak orang cacat dan lanjut usia bergantung pada plastik sekali pakai untuk kehidupan sehari-hari mereka, dan harus ada pendekatan bersama untuk bertukar pikiran mengenai alternatif plastik guna perawatan kesehatan.

Mengganti plastik dengan bahan lain yang tersedia, dapat menyebabkan penggandaan konsumsi energi global dan tiga kali lipat dari emisi gas rumah kaca.

David Bucknall, ketua dalam materi kimia dari Institute of Chemical Sciences universitas itu mengatakan, "Hampir semua yang kita sentuh atau berinteraksi dengan setiap hari terbuat dari atau berisi plastik."

Ia menjelaskan bahwa mengganti plastik dengan bahan-bahan alternatif seperti kaca dan logam—seperti untuk sedotan--akan lebih mahal untuk diproduksi karena energi yang dikonsumsi dan sumber daya, termasuk air, yang diperlukan untuk memprosesnya.

“Selanjutnya, karena plastik ringan, pengangkutan barang-barang konsumen dalam kemasan plastik berarti lebih sedikit kendaraan yang diperlukan, karena itu membakar lebih sedikit bahan bakar dan sangat mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Bucknall.

“Jadi sementara sejumlah orang mungkin berharap plastik harus dikurangi atau dilarang sama sekali, kita perlu memastikan bahwa kita menggantinya dengan bahan yang lebih baik untuk planet ini."

"Dalam banyak kasus tidak ada alternatif yang kredibel dari penggunaan plastik, jadi kita perlu bergerak menuju 'ekonomi lingkaran' untuk plastik, ketimbang model ‘sekali pakai’ yang saat ini kita adopsi," pungkas Bucknall.

BACA JUGA