PELESTARIAN LINGKUNGAN

Samsung kurangi konsumsi plastik, ambil kebijakan zero waste

Dus untuk membungkus gawai Samsung.
Dus untuk membungkus gawai Samsung. | Samsung Newsroom

Kampanye mengurangi sampah plastik terus bergulir. Setelah perusahaan raksasa seperti McDonalds dan Starbucks mulai mengurangi pemakaian berbahan plastik semacam sedotan, kini giliran Samsung akan melakukannya.

Dalam keterangan resminya, Minggu (27/1/2019), Samsung menyatakan bakal meninggalkan material plastik untuk kemasan gawainya dan menggantinya dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Kebijakan ini bernama Zero Waste.

Jadi, bungkus gawai perusahaan teknologi asal Korea Selatan itu akan memakai material seperti kertas dan plastik daur ulang atau bio-based.

Namun jangan salah kira. Kemasan kertas yang Samsung pilih pun tak sembarangan karena telah disertifikasi oleh inisiatif kehutanan seperti Forest Stewardship Council, Programme for the Endorsement of Forest Certification Scheme, dan the Sustainable Forestry Initiative.

“Samsung Electronics mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan isu lingkungan publik meningkatkan penipisan sumber daya dan limbah plastik," kata Jeon Gyeong-bin, kepala Pusat Kepuasan Pelanggan Global Samsung.

Jadi; seluruh kemasan untuk ponsel, sabak, aksesori, hingga produk dan peralatan rumah tangga akan digantikan oleh bahan berdaur ulang. Kardus ponsel berbahan plastik akan diganti dengan bubur kertas (pulp).

Bahkan pelapis charger telepon yang tadinya menggunakan lapisan mengilap agar tetap bersih selama pengiriman bakal digantikan dengan lapisan matte. Dengan demikian, Samsung tidak perlu lagi menggunakan material pelindung dari plastik.

Kantong plastik yang digunakan untuk melindungi permukaan peralatan rumah tangga seperti TV, lemari es, AC, dan mesin cuci serta peralatan dapur lainnya juga akan diganti dengan tas dengan bahan daur ulang dan bioplastik yang masing-masing terbuat dari limbah plastik dan nonplastik seperti bahan tanpa ampas jagung dan tebu.

Juru bicara Samsung mengatakan bahwa pengurangan plastik sekali pakai pada kemasan produk yang dilakukan secara bertahan alias tidak sekaligus. Namun begitu, kepada CNN, Senin (28/1), ia mengatakan pengurangan akan terjadi secara drastis walau belum tahu kapan pastinya kebijakan ini akan selesai sepenuhnya.

Namun, Samsung menargetkan pemakaian 500 ribu sampah plastik daur ulang pada dan meninggalkan 7,5 juta ton produk sekali pakai (kumulatif sejak 20089) pada 2030.

Sedangkan perubahan bahan kemasan untuk gawai dan perangkat elektronik Samsung mulai dilakukan pada pertengahan 2019. Adapun penggunaan bahan kertas yang lebih ramah lingkungan bakal terlaksana pada 2020.

Untuk hajatan besar ini, Samsung pun telah membentuk satuan tugas yang melibatkan urusan desain dan pengembangan, pembelian, pemasaran, dan kontrol kualitas untuk ide kemasan inovatif.

"Kami berkomitmen untuk mendaur ulang sumber daya dan meminimalkan polusi yang berasal dari produk kami. Kami akan mengadopsi bahan yang lebih ramah lingkungan, bahkan meski itu berarti akan meningkatkan ongkos," ujar Jeon.

Meski begitu, inisiatif ini bukanlah gerakan tanpa pamrih. Menurut Engadget, Samsung sebenarnya menjadi sasaran kritik selama bertahun-tahun dari para kelompok pemerhati lingkungan. Misalnya kelompok Greenpeace yang "menyerbu" saat Samsung melakukan presentasi dalam Mobile World Congress (MWC) 2017.

Tetapi langkah Samsung tetap patut diacungi jempol. Mengalihkan konsumsi plastik ke material ramah lingkungan bukanlah langkah ringan dan bisa jadi contoh pabrikan lain.

Apple lebih dulu memberi perhatian kepada limbah kemasannya. Pada 2017, produsen iPhone ini menyusun rencana pengurangan material kertas dan plastik.

Apple sebenarnya mulai memeriksa ulang bahan kemasan pada 2015. Bahkan pada 2012, kemasan Ipod sudah biodegradable . Mereka juga mempertimbangkan selama bertahun-tahun untuk mendirikan Great Pacific Garbage Patch --sebuah pulau berisi sampah plastik di Pasifik.

Mengapa pulau di tengah laut? Seperti diberitakan sebelumnya, pada 2050, limbah plastik di lautan diperkirakan akan lebih banyak daripada ikan yang hidup di dalamnya. Maka itu, semakin banyak perusahaan yang ingin mengatasi masalah tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR