Seledri terbukti secara ilmiah menurunkan tekanan darah

Sayuran seledri
Sayuran seledri | Pixabay

Menurut studi terbaru dari peneliti Universitas Indonesia, kombinasi kaptopril (obat hipertensi) dan sayuran seledri (ekstrak Apium Graveolens L) mampu menurunkan tekanan darah.

Temuan dilakukan berdasarkan uji coba pada tikus putih jantan. Seledri mampu menurunkan tekanan darah sebesar 42,34 persen lebih baik dari pemberian kaptopril tunggal dan sebanding dengan tekanan darah normal tikus.

"Kombinasi kaptopril dengan ekstrak seledri mampu menurunkan tekanan darah dengan cara diuresis dan natriuresis," kata Dr. Siska, M. Farm., Apt, dari Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) seperti dikutip dari blog resmi universitas (9/1).

Diuresis berhubungan dengan kondisi peningkatan produksi urine. Akibat obat-obatan tertentu, gangguan hormon pengaturan produksi urine, penyakit yang berhubungan dengan sistem kemih seperti ginjal, tensi yang tinggi, dan akibat suhu yang dingin.

Sedangkan natriuresis adalah proses ekskresi sejumlah besar natrium dalam urine. Natriuresis mirip dengan diuresis, tetapi dalam natriuresis urine sangat asin.

Penelitian dilakukan secara eksperimental yang terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah pengujian interaksi farmakokinetik (mempelajari tentang perjalanan obat) dengan mengambil darah tikus pada titik waktu tertentu setelah pemberian obat dan ekstrak seledri.

Konsentrasi kaptopril diukur menggunakan kromatografi cair kinerja ultra tinggi-tandem spektrometri massa.

Kromatografi sendiri adalah teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan.

Bagian kedua yaitu pengujian interaksi farmakodinamik untuk efek anti-hipertensi dengan metode pengukuran tekanan darah secara non-invasive pada ekor.

Dalam paparan di Sidang Terbuka Promosi Doktor Farmasi UI, Dr. Siska menuturkan bahwa hasil penelitian ditemukan penurunan tekanan darah dari seledri berkat kandungan sumber flavonoid seperti apigenin, luteolin, dan crysoeriol.

”Diharapkan penelitian ini mampu memberikan manfaat untuk ilmu pengetahuan terkait penggunaan obat herbal untuk pengobatan hipertensi. Selain itu, dapat dijadikan data praklinis bagi tenaga medis untuk mendukung penggunaan herbal pada penyakit,” kata Dr Siska.

Pengobatan herbal atau tradisional kerap dipilih masyarakat untuk mengobati hipertensi. Hal ini dikarenakan biaya pengobatan yang lebih terjangkau, dan dipercaya lebih aman serta mudah digunakan. Namun demikian, juga diperlukan pengobatan sintetik agar hasilnya maksimal.

“Namun, bagi masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati atas potensi risiko yang mungkin akan timbul jika menggunakan obat herbal bersamaan dengan obat sintetik tanpa sepengetahuan dokter atau tenaga medis lainnya,” ujar Dr. Siska.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap disebut sebagai silent killer. Pasalnya, penyakit ini tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas.

Menurut Intisari Online, sekitar 95 persen penderitanya tidak diketahui penyebabnya yang jelas. Hipertensi begini biasanya disebut hipertensi primer. Sisanya, hanya lima persen diketahui dengan jelas penyebabnya, umumnya penyakit ginjal kronis, dan disebut hipertensi sekunder.

Seledri--sebagai obat hipertensi--masuk ke dalam 32 kandidat tanaman obat yang diteliti dan dikembangkan menjadi fitofarmaka, atau tingkat tertinggi dalam kategorisasi obat tradisional. Informasi ini diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, Prof S. Pramono, akhir November tahun lalu.

Fitofarmaka merupakan kategori obat tradisional yang telah melalui uji praklinis pada hewan dan uji klinis pada manusia sehingga terjamin khasiat dan keamanannya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan, rencana pembentukan Konsorsium Nasional Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Fitofarmaka.

Cara paling mudah untuk mengonsumsi seledri adalah dengan dijus. Ada manfaat lain dari seledri selain untuk menurunkan tekanan darah.

Dilansir dari Real Simple (31/12/2018), seledri dapat membantu mengurangi peradangan. Apigenin adalah senyawa yang ditemukan di seledri, peterseli, chamomile. Senyawa ini dapat membantu meredakan radang lambung dan mengurangi gejala gastritis (maag).

Manfaat berikutnya adalah sebagai mencegah atau memperlambat kanker. Antioksidan dan senyawa flavonoid dalam sayuran ini memiliki beberapa sifat anti-kanker. Menurut penelitian, mengonsumsi seledri dapat memperlambat pertumbuhan tumor kanker lambung.

Para peneliti memeriksa sifat anti-kanker pada luteolin yang merupakan flavonoid dalam seledri. Dalam sebuah penelitian, luteolin dan flavonoid lain menunjukkan mereka dapat mematikan pertumbuhan sel induk kanker prostat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR