PERUBAHAN IKLIM

Stres akibat cuaca ekstrem saat hamil berbuntut panjang

Ilustrasi ibu hamil depresi.
Ilustrasi ibu hamil depresi. | LightField Studios /Shutterstock

Efek perubahan iklim berbuntut panjang. Tidak hanya memengaruhi lingkungan, stres akibat cuaca ekstrem selama kehamilan bisa punya konsekuensi jangka panjang.

Menurut penelitian baru yang diterbitkan Infant Mental Health, bayi dari ibu yang mengalami stres terkait bencana alam terdampak secara negatif. Malah, ibu yang punya tendensi depresi bahkan punya kecenderungan lebih tinggi untuk memiliki bayi yang terdampak negatif oleh stres prenatal.

Studi ini diikuti 310 pasang ibu dan anak dari New York, Amerika Serikat. Hasilnya, ibu yang depresi selama hamil melahirkan bayi yang menunjukkan kesulitan dan ketakutan lebih besar, lebih jarang tersenyum dan tertawa, juga lebih sulit tenang dibandingkan dengan bayi dari ibu dengan skor depresi lebih rendah.

Bayi-bayi dari para ibu yang depresi dan selamat dari badai Sandy malah bernasib lebih buruk. Mereka bermasalah dengan temperamen.

"Depresi prenatal meningkatkan risiko bayi memiliki temperamen yang sulit, tetapi ketika kita memperhitungkan stres karena bencana alam, satu tambah satu bukan dua tapi sepuluh," kata Yoko Nomura, seorang profesor psikologi di City University of New York graduate center dan Queens College.

"Penelitian kami menemukan, dibandingkan dengan bayi lain, bayi yang lahir dari perempuan yang tertekan pada masa prenatal dan hamil selama badai Sandy mengalami tingkat kesengsaraan yang lebih tinggi."

Orang mungkin bertanya-tanya bagaimana sesuatu yang sederhana seperti cuaca, bisa membuat perbedaan dalam kesehatan mental ibu hamil. Faktanya demikian.

Efeknya pun tidak berakhir manakala bencana usai. "Sangat penting untuk menyadari, efek perubahan iklim yang ekstrem dan bencana alam mungkin tidak sementara," ujar Patrizia Casaccia, direktur inisiatif ilmu saraf di Graduate Center of The City University of New York.

Lanjut Casaccia, "Ini bisa memiliki konsekuensi jangka panjang pada otak yang sedang berkembang dengan mengubah cara gen diatur dan menghasilkan peningkatan kerentanan terhadap gangguan kejiwaan."

Seperti halnya depresi, stres tidak selalu tampak nyata. "Stres adalah penyakit tersembunyi," tutur Dr. Calvin Hobel, direktur kedokteran ibu-janin di Rumah Sakit Cedars Sinai di Los Angeles.

"Ibu hamil perlu dididik untuk mengenali kapan mereka mengalami stres, konsekuensinya dan beberapa hal sederhana yang bisa mereka lakukan untuk membuat perbedaan."

Tanda-tanda stres pada ibu hamil termasuk insomnia, perubahan nafsu makan, perubahan suasana hati dan lainnya. "Stres yang berkepanjangan mungkin memengaruhi otak bayi, jadi harus berhati-hati mengelola stres sebaik mungkin. Stres berat kronis dengan keterampilan mengatasi yang buruk bisa membuat perbedaan dalam perkembangan otak bayi," jelas Dinesh Bhugra, profesor dan anggota Asosiasi Psikiatris Dunia.

Bhugra melanjutkan, "Saat stres kita tahu bahwa tubuh beralih ke mode fight or flight yang mengarah ke peningkatan kadar kortisol. Stres kronis bisa membuat kadarnya tetap tinggi, hingga melintasi plasenta dan memengaruhi bayi. Tingkat stres tinggi yang berkelanjutan itu bermasalah, segala upaya harus dilakukan untuk menguranginya."

Masalahnya, mengusir stres tak semudah membalik telapak tangan. Parents menulis, beberapa metode yang sudah terbukti bisa membantu.

Mulai dari melakukan hobi, berolahraga untuk meningkatkan endorfin. Bisa juga dengan meditasi, atau mengucap mantra untuk membantu melewati masa-masa sulit.

Cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim kini menjadi semakin jelas. Ibu hamil dan janin dalam kandungan bisa menanggung beban akibatnya. Maka, tindakan terbaik adalah mencari informasi dari sumber tepercaya, dan jangan ragu mencari bantuan saat dibutuhkan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR