BENCANA ALAM

Sulitnya memprediksi erupsi gunung berapi

Gunung Agung di Bali tampak memuntahkan abu vulkanik nan panas.
Gunung Agung di Bali tampak memuntahkan abu vulkanik nan panas. | Made Nagi /EPA-EFE

Pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan aktivitas Gunung Agung di Bali terus meningkat sejak erupsi pertama pada 21 November 2017. Kini statusnya dinaikkan dari level Ill (Siaga) ke level IV (Awas) pada Senin (27/11) pagi WITA, dan memasuki fase kritis akibat gempa tremor terus-menerus (overscale).

Namun, boleh jadi ini merupakan pengulangan. Peningkatan status dari Siaga ke Awas juga ditetapkan pada Jumat (22/9/2017) malam WITA. Sebulan kemudian, aktivitas gunung mulai tenang dan kembali diturunkan menjadi level Siaga pada Minggu sore (29/10/2017), sehingga sebagian warga yang sebelumnya mengungsi kembali pulang.

Tak heran jika warga bertanya-tanya sedahsyat apa dan kapan Gunung Agung betul-betul akan meletus, hingga perkiraan terkini pun bermunculan.

PVMBG menyebutkan Gunung Agung berpotensi meletus dahsyat layaknya tahun 1963, yang memakan korban lebih dari seribu orang dan terjadi nyaris setahun.

Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan erupsi Gunung Agung seperti letusan 1963 hanyalah kemungkinan kecil, meski tak menampik akan ada erupsi besar.

Mengapa erupsi begitu sulit diprediksi?

Minimnya peralatan dan teknik yang canggih, sulitnya kondisi pemantauan dalam perut gunung, serta kurangnya data lengkap erupsi sebelumnya merupakan penyebab.

"Dari data erupsi 53 tahun lalu pun tidak lengkap, jadi kami hanya memanfaatkan hasil penelitian dan kemungkinan erupsi saat ini," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo dikutip Jawa Pos.

Hal sama juga dinyatakan sejumlah ahli vulkanologi. Mereka sama-sama menyebutkan Gunung berapi memiliki perilaku yang rumit dan tidak dapat diprediksi , sekali pun bahaya yang disebabkannya nonfatal.

"Memprediksi erupsi gunung api sama sulitnya dengan memperkirakan bagaimana letusan akan berkembang setelah terjadi. Sama seperti gempa bumi, memprediksi kapan tepatnya gunung berapi akan meletus dan seberapa besar letusannya masih tidak mungkin," ujar Simon Carn, ahli vulkanologi di Michigan Technological University dalam Popular Science.

Untuk menganalasis tanda-tanda gunung api bakal meletus, kata Carn, vulkanolog biasanya mengamati aktivitas gunung berapi untuk melihat apa yang bakal terjadi.

Namun, "Tantangan sebenarnya saat ini adalah, pada gunung berapi di mana kita tidak memiliki pengamatan terhadap letusan sebelumnya dan di tempat yang tidak banyak diamati, akan sangat sulit untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya," ujar David Pyle, seorang vulkanolog di Universitas Oxford.

Untuk itu, ungkap Carn, vulkanolog sebetulnya bisa membuat perkiraan yang lebih baik, jika ada data material deposit letusan terakhir gunung berapi, bersamaan dengan data pengamatan langsung dari gunung api di berbagai belahan dunia.

Beda halnya dengan memprediksi prakiraan cuaca yang dilakukan di udara terbuka, faktor pemicu erupsi berada jauh di perut gunung. Teknologi terkini pun belum mampu mencapainya. Karenanya, kata Carn, vulkanolog cuma mengandalkan observasi tidak langsung, dari mulut gunung.

Misal, indikasi pola erupsi masa lampau dari endapan abu dan lumpur vulkanik yang menunjukkan bagaimana dulunya lava dialirkan, pun pola letusan sebelumnya.

"Tanda-tanda ini mungkin termasuk gempa bumi yang sangat kecil di bawah gunung berapi, sedikit kenaikan (aktivitas seismik) atau pembengkakan (tanah) di sekitar gunung berapi, serta peningkatan emisi panas dan gas dari lubang di gunung berapi," jelas koordinator program bahaya gunung berapi dari US Geological Survey (USGS), John Eichelberger pada Live Science.

Apa yang diungkap Eichelberger merupakan upaya prediksi letusan gunung berapi yang sejauh ini banyak digunakan. Ia melanjutkan, pergerakan magma di bawah permukaan bumi yang meningkat, menyebabkan batuan di atasnya bergeser dan pecah sehingga mengirim sinyal gempa atau getaran.

Namun, tak semua getaran atau gempa di gunung api menandakan akan terjadi letusan. Ada getaran yang justru tidak berpotensi apa-apa pada permukaan gunung api.

Begitu pula, "Peningkatan laju alir sulfur dioksida dan gas karbon dioksida bisa menunjukkan bahwa magma akan datang," kata Eichelberger. "Air sebenarnya adalah gas yang paling melimpah di magma, tapi karena banyaknya kandungan tersebut di atmosfer, mengukurnya tidak berguna untuk meramalkan letusan."

Adakah harapan mendeteksi erupsi yang lebih baik?

Untuk saat ini, seperti diakui Carn, peringatan dini potensi letusan gunung berapi bisa diukur menggunakan teknologi satelit dan GPS.

Satelit digunakan untuk membantu mengukur berapa banyak karbon dioksida yang keluar dari magma sebelum dirilis ke permukaan gunung. Sementara GPS bisa mengukur seberapa banyak tanah yang menonjol di sekitar gunung.

Kendalanya, analisis data satelit butuh waktu sehingga sulit menampilkan data real time.

Meski begitu, pengembangan teknologi satelit ini masih terus dilakukan. Salah satunya riset yang diterbitkan dalam Frontiers in Earth Science. Peneliti menggabungkan kemampuan satelit dan metode yang disebut asimilasi data--biasa digunakan di bidang meteorologi dan prakiraan cuaca.

Harapannya, di masa depan material ini bisa menjadi alat yang mampu memprediksi secara akurat pergeseran tekanan magma, pun memungkinkan ilmuwan lebih memahami perilaku di dalam gunung berapi. Dengan kata lain, semakin meminimalkan korban jiwa dan harta.

KENAPA SIH Gunung Berapi Bisa Meletus ? /KENAPA SIH ??
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR