GEGER HOAKS

Tak ada jalan pintas melawan hoaks

Kompleksitas otak dalam memproses informasi
Kompleksitas otak dalam memproses informasi | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Hoaks demikian cepat menyebar, sehingga para pemeriksa fakta terkadang kewalahan mengatasinya. Sebuah riset oleh tiga peneliti asal AS yang dirilis pada 2018 bahkan menyebut, "kebohongan menyebar lebih cepat daripada kebenaran".

Pada tahun politik ini, hoaks pun jadi sorotan. Kementerian Kominfo menemukan setidaknya 175 konten hoaks menyebar di internet dan media sosial selama Januari 2019. Dalam sehari, rata-rata 4 sampai 6 konten hoaks ditemukan dalam beragam isu.

Dengan jumlah pengguna media sosial di perangkat bergerak sekitar 130 juta pada 2019, bisa dibayangkan seberapa cepat dan luas jangkauan sebuah kabar bohong.

Sejumlah pertanyaan pun menyeruak. Mengapa hoaks sedemikian cepat menyebar, dan mudah dipercaya meski tidak masuk akal sekalipun?

Dalam acara bertajuk "The Science Behind Hoax" yang digelar di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Senin (18/2/2019) silam, misteri di balik hoaks ini pun dibahas.

Dua ilmuwan dari Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dihadirkan: Ahli neurosains, Berry Juliandi; dan pakar ilmu sosial, Roby Muhammad. Isi diskusi itulah yang sebagian besar jadi materi infografik di atas.

Ringkasnya, ada bagian pada otak bernama amigdala--bagian otak paling primitif yang dimiliki makhluk hidup. Sifat primitifnya, membantu makhluk hidup selalu waspada demi bertahan hidup. Misal, respons menghindar saat bertemu predator.

Amigdala pada manusia menjadi yang pertama memproses informasi, sebelum diproses secara logis pada bagian lain. Seperti saat berpapasan dengan hewan yang ditakuti atau mengancam keselamatan dirinya--pada umumnya manusia memilih untuk menghindar.

Saat amigdala menerima sinyal "ancaman", manusia pun segera bereaksi, misalnya berupa penolakan. Ketika ancaman itu terasosiasi dengan sebuah entitas, penolakan pun muncul terhadap entitas tersebut--sekalipun informasi itu bukan fakta.

Masalahnya, memproses fakta terjadi setelah informasi melewati amigdala. Bila penolakan yang terlebih dahulu muncul, maka proses menafsir informasi secara logis yang berlangsung di otak bagian depan, urung terjadi.

Inilah yang membuat hoaks menjadi sedemikian canggih. Mampu memengaruhi sikap dan perilaku manusia, tanpa harus melalui proses olah informasi secara logis. Cukup menyasar "sakelar" pada amigdala, informasi sudah bisa memberi dampak.

Lalu bagaimana mengatasinya? Berry yang merupakan Sekjen ALMI sekaligus anggota Pokja Sains Garda Depan; maupun Roby, anggota Pokja Sains dan Masyarakat ALMI, tak menawarkan jalan pintas.

Melawan hoaks--berupa kabar palsu atau sebagian palsu--tak sesimpel dengan menawarkan fakta tandingan. Seperti diuraikan sebelumnya, informasi bahkan belum sempat menjangkau bagian otak yang memproses fakta. Karenanya, akan sia-sia bila memaksakan fakta-fakta keras terhadap mereka yang "terinfeksi" hoaks.

Salah satu cara yang mungkin adalah mendidik anak lebih kritis terhadap informasi--misalnya, soal hewan buas yang dianggap sebagai ancaman. Amigdala bisa distimulasi agar anggapan itu menipis, agar tak menimbulkan ketakutan berlebihan dan permanen.

Peran otak bagian depan juga bisa dioptimalkan dengan pendekatan ilmiah, agar rasa takut berkurang. Toh, tak sedikit manusia yang mampu berinteraksi dengan hewan buas.

Catatan redaksi: Kerja sama Beritagar.id dan ALMI
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR